Djunijani Peggie, peneliti perempuan di bidang sistematika kupu-kupu dari Pusat Penelitian Biologi, LIPI, Medcom.id/Citra Larasati.
Djunijani Peggie, peneliti perempuan di bidang sistematika kupu-kupu dari Pusat Penelitian Biologi, LIPI, Medcom.id/Citra Larasati.

Menikmati Peran Ibu Rumah Tangga dan Ibu Kupu-Kupu

Pendidikan Riset dan Penelitian
Citra Larasati • 20 April 2019 23:09
Bogor: Djunijani Peggie, 53 tahun mengaku sangat menikmati kariernya sebagai "Ibu Kupu-kupu" Indonesia. Meski untuk itu, ia terpaksa sesekali jarang pulang, naik turun gunung, berjam-jam menyusuri derasnya sungai, menumpang tidur di rumah warga sekitar pegunungan, hingga naik di punggung truk bak terbuka.
 
Sebut saja Gunung Ceremai di Jawa Barat, Gunung Salak, Gunung Batusibela di Pulau Bacan, Halmahera, Selatan, atau Maluku Utara, dan sejumlah gunung lainnya, pernah ia daki. Ya, Djunijanti Peggie, adalah satu-satunya peneliti perempuan di bidang sistematika kupu-kupu dari Pusat Penelitian Biologi, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI).
 
Berkebaya putih saat ditemui Medcom.id, Peggie berkisah, bahwa habitat kupu-kupu yang ditelitinya sebagian besar memang berada di kawasan pegunungan. Ratusan meter tingginya, dari atas permukaan laut.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Untuk meneliti di sana, sudah tentu tidak dapat diselesaikan hanya dalam waktu satu hari pulang pergi layaknya pegawai kantoran. Ia kadang harus berjauhan dengan suami dan anak-anak setidaknya seminggu hingga 10 hari untuk penelitian kupu-kupu di pulau Jawa.
 
"Kalau di luar Jawa, bisa sampai meninggalkan rumah dua minggu," terang penulis enam buku bertema Kupu-kupu ini.
 
Waktu yang tidak singkat itulah yang mengharuskan Peggie maupun rombongan peneliti mencari tempat menginap yang dekat dengan habitat penelitian mereka. Sebisa mungkin, kata Peggie, ia memang memilih tinggal di lokasi tempat penelitian.
 
"Menginap di rumah-rumah warga, kadang kalau rombongannya besar kami minta izin menginap di beberapa rumah warga sekaligus," ungkap Peggie.
 
Pilihan untuk membuka tenda dan camping di sekitar lokasi penelitian memang jarang diambil para peneliti. Perhitungannya, membuka tenda akan lebih merepotkan dari sisi logistik ketimbang menginap di rumah warga.
 
Baca:Guru Besar UMM Pemilik HaKI Terbanyak se-Indonesia
 
Menjadi peneliti memang bagian dari passion Peggie. Karier Peggie di LIPI sudah dimulai sejak 29 tahun lalu, sekaligus mengawali kemantapannya untuk fokus meneliti si primadona serangga ini.
 
"Jadi waktu saya masuk di LIPI di 1990 itu belum ada yang meneliti kupu-kupu Indonesia di Museum Zoologi. Waktu itu juga buku-buku tentang kupu-kupu Indonesia belum ada," papar Peggie.
 
Namun jangan salah, kecintaan Peggie pada kupu-kupu bukan baru dimulai pada awal kariernya. Jauh sebelum itu, sejak duduk di bangku SMA Regina Pacis, Bogor, ia sudah bergabung dengan ekstrakurikuler pecinta alam "Cobweb" dan sejak itu Peggie sudah menggemari segala hal tentang si serangga cantik ini.
 
Kecintaannya pada alam dan kupu-kupu kemudian diseriusi saat jenjang pendidikan tinggi. Wanita kelahiran Bogor ini memilih Fakultas Biologi Universitas Nasional (Unas) sebagai tempat merampungkan gelar sarjananya.
 
Lalu berbekal ijazah S1, Peggie memutuskan untuk melamar menjadi Pegawai Sipil Negara (PNS) di LIPI pada 1990 lalu. Kompetensi dan nasib baik rupanya berpihak pada Peggie, baru setahun di LIPI, Peggie langsung mendapat kesempatan untuk melanjutkan ke program Master of Science, Imperial College University of London, dengan konsentrasi Jurusan Applied Entomology yang didukung beasiswa dari British Council.
 
Bahkan ia memperoleh kesempatan untuk meneliti di British Museum of Natural History atau kini dikenal dengan Natural History Museum, London, di bawah supervisi Dr Dick Vane Wright, naturalis Inggris yang pernah meneliti kupu-kupu di Papua dan mempublikasikannya dengan nama Ideopsis Fojana.
 
Berselang setahun, Peggie kembali mendapat beasiswa program doktoral di Cornell University, Amerika Serikat. Beasiswanya kali ini didapat dari American Museum of Natural History, yang kemudian membuat Peggie menjadi Doktor bidang kupu-kupu pertama di Indonesia yang lulus dari perguruan tinggi luar negeri. Bahkan kini Peggie banyak dijuluki sebagai Ibu Kupu-kupu Indonesia.
 
Baca:Penguatan PAUD, Wajib Belajar Kini 13 Tahun
 
Meneliti kupu-kupu di pegunungan dengan segala kesukarannya, bagi Peggie setimpal dengan hasil yang didapat. Terlebih lagi ketika ia dapat menemukan jenis kupu-kupu baru dan langka dalam penelitiannya.
 
Tak heran jika Alfred Russel Wallace, naturalis asal Inggris pernah merasakan sakit kepala berkepanjangan saat menemukan jenis kupu-kupu baru yang kemudian dipublikasikannya dengan nama Ornithoptera Croesus atau kondang dikenal dengan Kupu sayap burung emas Wallace, di Pulau Bacan, Ternate.
 
"Karena reward-nya memang sebanding. Wallace sempat merasakan sakit kepala berkepanjangan saat menemukan Ornithoptera Croesus, itu karena saking bersemangatnya," ungkap Peggie.
 
Tahun ini, kata Peggie, ia mengagendakan untuk meneliti kupu-kupu Ornithoptera Croesus di Morotai dan Halmahera. Ornithoptera Croesus adalah sebuah spesies kupu-kupu sayap burung yang ditemukan di Maluku Utara, Indonesia.
 
Hingga kini, Peggie telah meneliti ratusan jenis kupu-kupu dan menemukan sekitar 3-4 spesies kupu-kupu baru sepanjang kariernya. Peggie optimistis, jumlah ini akan terus bertambah, terlebih lagi sebagai peneliti perempuan ia relatif leluasa, karena mendapatkan dukungan penuh dari keluarga.
 
"Suami dan anak-anak sangat mendukung saya. Pernah saya sempat wacanakan ingin pensiun dini, tapi anak-anak melarang, meminta saya tetap jadi peneliti," ungkap Ibu tiga anak ini.
 
Bagi Peggie, dukungan keluarga sangat penting dalam perjalanan kariernya. Ia pun bangga memiliki suami dan anak-anak yang tidak rewel akan profesinya sebagai peneliti sekaligus ibu rumah tangga yang harus sesekali tak pulang, bahkan naik turun gunung ini.
 
"Sejauh ini semua lancar, mereka tidak pernah komplain. Karena saya juga tidak terlalu sering meneliti sampai tak pulang. Meski sekalinya pergi meneliti, saya bisa tidak pulang berhari-hari," tutup Peggie sambil tertawa.
 

(CEU)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

MAGHRIB 17:47
DOWNLOAD JADWAL

Untuk Jakarta dan sekitarnya

  • IMSAK04:26
  • SUBUH04:36
  • DZUHUR11:53
  • ASHAR15:14
  • ISYA19:00

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif