Kesempatan itu datang saat ada Essay Contest Beswan Djarum 2025/2026 pada Mei 2026. Gabi, sapaan karib Gabriella Sunsugos Sianturi itu, langsung bulat ingin menampilkan ide yang sudah lama cuma ada di kepalanya.
"Tapi memang selama setahun itu berjalan, itu selalu mengganggu pemikiran saya. Dan pada akhirnya saya bersyukur ada Essay Contest ini," beber Gabi saat berbincang usai Final Nasional Essay Contest Beswan Djarum 2025/2026 di Grand Mercure Seminyak, Bali, Jumat, 26 Juni 2026.
Gabi membuat esai berjudul Saat ‘Sehat’ Menipu: Bagaimana Sistem Bisa Melindungi Disabilitas Tak Tampak? Mahasiswa Universitas Udayana jurusan Teknik Elektro itu cuma punya waktu satu bulan menuangkan idenya untuk Essay Contest.
Meski ide sudah disimpan selama setahun, tapi Gabi juga mengalami kendala. Saking banyak ide, Gabi ingin memasukkan semua hal yang ada di pikirannya.
Namun, keterbatasan membuat dia harus putar otak membuat esai yang komplet tapi tidak terlalu panjang. "Jadi sebulan itu sebenarnya habisnya itu bukan karena saya enggak tahu harus gimana. Tapi gimana cara saya merangkum semua isi pemikiran saya," ungkap dia.
Mahasiswa Semester 6 itu mahfum tak semua orang bisa memahami seluruh bahasa yang ia sampaikan. Dia berusaha membuat tulisan yang bukan cuma teknis tetapi bisa dipahami oleh orang lain.
Jadilah, teman-teman Gabi menjadi pembaca pertamanya. Mereka yang tidak mempunyai latar belakang soal disabilitas tak tampak diminta membaca dan memberi review soal tulis-tulisan yang tidak dipahami. Selanjutnya, tulisan 'dibumikan' lagi.
Dalam esainya, perempuan berusia 21 tahun itu mengangkat soal penyandang disabilitas tak tampak yang terlihat sehat padahal bisa mengalami gejala darurat mendadak. Sebagai mantan penyandang autoimun, Gabi pernah ada di kondisi terlihat sehat dari luar padahal gejala autoimunnya tengah kambuh.
Saat berada di transportasi umum, dia mesti merelakan kursinya diduduki oleh ibu-ibu yang usianya lebih tua karena dia terlihat 'sehat'. Padahal saat itu Gabi sedang mengalami pusing, jantung berdebar hingga kesulitan napas karean autoimunnya kambuh.
Baca Juga :
Pengalaman Pahit Jadi Ide Emas, Tiga Mahasiswa Ini Sabet Juara Essay Contest Beswan Djarum
Pertama identitas dua lapis untuk memperkuat Kartu Penyandang Disabilitas (KPD) lewat pembuatan katu tambahan. Identitas akan memuat informasi ringkas mengenai status disabilitas dan kebutuhan utama penyandang yang cenderung variatif. Identitas ini dapat ditunjukkan ketika terjadi situasi yang membutuhkan akomodasi dan pertolongan tertentu di ruang publik.
Kedua, identitas tersebut didukung verifikasi digital melalui platform yang terintegrasi dengan layanan publik dan fasilitas kesehatan. Sistem menerapkan pembaruan data berkala karena kondisi penyandang yang dinamis, yakni dapat membaik, memburuk, stabil, atau bahkan sembuh.
Ketiga, penguatan edukasi soal disabilitas tak tampak. Kampanye publik terkait keberadaan disabiitas tak tampak dapat dilaksanakan melalui media sosial, fasilitas kesehatan, sekolah, dan ruang pelayanan publik.
Esai yang diangkat Gabi menyabet Juara 1 Essay Contest Beswan Djarum 2025/2026. Dia berhak membawa pulang hadiah sebesar Rp40 juta dan piagam penghargaan.
Para juri senang dengan ide orisinal Gabi. Masalah yang dihadapi Gabi dan disabilitas tak tampak sangat banyak namun jarang disentuh. Bahkan ada disabilitas tak tampak yang kerap dianggap aib, seperti lupus.
"Nah, kita harapkan dengan ide tadi, pendidikan bagi masyarakat bahwa ini ada sesuatu masalah terjadi di masyarakat yang harus diselesaikan. Sehingga harapannya bola itu bergulir kepada pihak-pihak yang memerlukan nanti kebijakan itu akan memasuk ke sana," ujar juri Final Nasional Essay Contest yang juga Guru Besar IPB University, Ronny Rachman Noor.
Gabi senang ide yang berawal dari keresahannya dapat memenangkan kompetisi esai. Sejak awal dia juga berharap bisa menang.
Namun, kata dia, pada hari-hari terakhir jelang final nasional, Gabi justru lebih berharap esainya bisa berguna.
"Saya lebih berharap hal yang saya sampaikan itu berguna bagi masyarakat karena kita sebanarnya dikelilingi oleh banyak penyandang disabilitas tak tampak," tutur Gabi.
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda