Tema kesehatan mental, misalnya, mendominasi, disusul oleh literasi digital dan penyebaran disinformasi, kesenjangan akses pendidikan, pengelolaan lingkungan dan sampah, pemberdayaan masyarakat, hingga pemanfaatan teknologi. Selama dua hari, yakni 25–26 Juni 2026, finalis mempresentasikan esainya di hadapan juri.
Salah satu juri yang juga Guru Besar IPB University, Ronny Rachman Noor, mengucapkan selamat kepada 16 finalis. Dia menekankan proses penyampaian gagasan tidak kalah penting dibandingkan dengan proses menulisnya.
Presentasi menjadi ruang bagi para finalis untuk menguji, mempertajam, dan mengembangkan ide melalui diskusi konstruktif. Ronny berpesan untuk tidak terlalu tegang sebab presentasi bukan ujian skripsi.
"Ingat saja nanti kalau nggak bisa menjawab, itu wajar, proses belajar. Setelah kegiatan ini, saya berharap levelnya akan lebih meningkat lagi," ujar Ronny dalam Final Nasional Essay Contest Beswan Djarum 2025/2026 di Grand Mercure, Seminyak, Bali, Kamis, 25 Juni 2026.
Sementara itu, Jurnalis Senior dan Pendiri Narasi TV, Najwa Shihab, yang juga menjadi juri berpesan kepada para finalis untuk tidak takut pada pertanyaan yang detail dan kritis. Sebab, juri tidak mencari jawaban yang sempurna. Najwa mengungkapkan para juri melihat cara berpikir para finalis.
"Bagaimana cara kalian menalar, bagaimana argumentasi ini dibangun. Apakah ada bukti dan referensi yang ketika diuji, betul. Dan kemudian apakah meyakinkan ketika itu dilontarkan di atas panggung. Karena kemampuan untuk meyakinkan orang atas keyakinan kita itu setengah dari solusinya ini. Jadi, bagaimana kita bisa dengan confident membela keyakinan kita," ujar dia.
Najwa juga mengingatkan para finalis tidak memaksa menjawab bila tidak mengetahui jawabannya. Sebab, dia kembali menekankan para juri tidak melihat jawaban yang sempurna tetapi kejujuran untuk mengakui kalau memang belum pernah memikirkan jawabannya.
"Sekali lagi, congratulations sudah sampai di titik ini. Selamat atas esai yang ditulis. Mudah-mudahan nanti esainya juga bisa dengan dipresentasikan dengan meyakinkan. Let's have fun. Dan mari belajar sama-sama," kata dia.
Beswan Djarum 2005/2006, Gloria Tamba, yang juga menjadi juri menilai kompetisi ini mengingatkannya pada proses pembelajaran yang ia jalani selama menjadi Beswan Djarum. Berbagai pelatihan, pendampingan, dan kesempatan mengasah kemampuan berpikir kritis serta menulis menjadi bekal yang terus ia gunakan hingga kini dalam profesinya sebagai advokat.
"Apa yang saya terima sebagai Beswan Djarum sangat berguna bagi dunia kerja. Gelar Beswan Djarum membantu saya di dunia kerja. Selamat berlomba, kita bisa berbangga, bahwa kita adalah orang-orang terpilih yang menjadi Beswan Djarum," ujar Gloria.

Juri Final Essay Contest Beswan Djarum 2025/2026 Najwa Shihab (tengah), Ronny Rachman Noor (kiri), dan Gloria Tamba (kanan). DOK Istimewa
Essay Contest Beswan Djarum 2025/2026 diikuti 533 peserta dari 103 perguruan tinggi di 38 provinsi. Tahap final nasional diikuti 16 finalis yang berhasil menyisihkan 517 peserta pada tahap regionel.
Essay Contest memberikan banyak penghargaan. Empat peserta terbaik di Tingkat Regional mendapat uang tunai masing-masing sebesar Rp7.500.000 dan enam finalis regional lainnya mendapat hadiah sebesar Rp2.000.000 per orang.
Sementara itu, hadiah untuk para pemenang Tingkat Nasional adalah sebagai berikut:
- Pemenang I: Rp40.000.000 dan piagam penghargaan
- Pemenang II: Rp30.000.000 dan piagam penghargaan
- Pemenang III: Rp20.000.000 dan piagam penghargaan
Berikut 16 finalis Essay Contest Beswan Djarum 2025/2026:
16 finalis Essay Contest Beswan Djarum 2025/2026
- Wiwin Theresa Hitan (Universitas Tanjungpura): Meruntuhkan Sekat, Membersamai Langkah Anak Berkebutuhan Khusus Melalui Ruang Tumbuh Inclusion Link
- Syahla Ameera Savitri Siradju (IPB University): Akhiri Kemitraan Semu, Saatnya Lindungi Hak Ojol Melalui Kategori Pekerja Ketiga
- Rafiqoh Wahidah (Universitas Bengkulu): Di Balik Pintu Toilet Masjid, Sanitasi Belum Berpihak Pada Perempuan
- Fernaldy Bima Adiputra (Universitas Bina Nusantara): Menggugat Impunitas Finfluencer Dan Urgensi Akuntabilitas Institusi Sekuritas
- Heka Faza Nur Azizah (Universitas Pasundan): TPU Farm : Ketika Kematian Menumbuhkan Kehidupan
- Vania Nur Aneira (Universitas Padjadjaran): Berdarah Dan Berbayar: Ketika Menstruasi Menjelma Menjadi Kemewahan Yang Tak Terjangkau
- Wijaksara Aptaluhung (Institut Teknologi Bandung): Ketika Diam Diwariskan: Maskulinitas, Kesehatan Mental, Dan Siklus Yang Membungkam Laki-Laki
- Jocelyn Kristanti (Universitas Padjadjaran): Media Sosial Meresepkan: Bahaya Fenomena Self-Diagnosis Kesehatan Mental pada Generasi Z
- Caroline Noel Amaris Purnomo (Universitas Katolik Soegijapranata): Di Balik Zona Nyaman Semu: Krisis Hubungan Autentik Di Era AI Companion
- Adeline Hartono (Universitas Diponegoro): Menghapus Doktrin Wangi Berarti Bersih Demi Keamanan Konsumen
- Lola Nadiya Putri (Universitas Pembangunan Nasional Veteran Yogyakarta): Dilema Crab Mentality: Si Gendhuk Terlalu Bersinar Untuk Desanya, Terlalu Redup Untuk Dunia
- Christopher William Piri (Universitas Nasional Karangturi Semarang): Akhiri Teror Jalanan: Dari "Kreak" Ke Olahraga Berkarakter
- Fitroh Ghoniyyu Yahya (Universitas Airlangga): Tawadhu' Sebagai Pisau Bermata Dua: Dekonstruksi Relasi Kuasa Dan Reformasi Etika Pesantren
- Farhan Aldan Khairian (Universitas Airlangga): Layar Yang Menelanjangi Duka: Saat Kematian Menjadi Tontonan Di Era Digital
- Muhammad Akramul Faroghy (Universitas Mataram): Di Balik Setiap Lapisan Paket: Ancaman Masif Limbah Plastik Bubble Wrap di Era Belanja Daring
- Gabriella Sunsugos Sianturi (Universitas Udayana): Saat "Sehat' Menipu: Bagaimana Sistem Bisa Melindungi Disabilitas Tak Tampak?
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda