Ketum Partai Solidaritas Indonesia (PSI) Grace Natalie. Foto: MI/Susanto
Ketum Partai Solidaritas Indonesia (PSI) Grace Natalie. Foto: MI/Susanto

Politikus NasDem Sebut Ketum PSI Arogan

Pemilu partai nasdem partai solidaritas indonesia
12 Maret 2019 13:40
Jakarta: Politikus Nasdem, Birgaldo Sinaga, menilai Ketum Partai Solidaritas Indonesia (PSI) Grace Natalie arogan dan tidak sportif karena menyerang partai-partai nasionalis lain dengan menganggap mereka diam terhadap kasus-kasus intoleransi dan diskriminasi belakangan ini. Sinaga pun membalas Grace dengan cara yang sama.
 
"Nah, sekarang saya pakai cara Sis Grace untuk merendahkan kader Anda yang sedang nyaleg. Saya juga bertanya kemana PSI saat terjadi kasus kematian Bayi Deborah dua tahun lalu karena orang tuanya tidak punya uang muka? Kasus itu seminggu lebih menjadi headline nasional. Masuk ILC TV One menjadi topik yang dibahas. Judulnya Deborah Tragedi Kita. Kemana kader PSI? Adakah (PSI) peduli? Adakah berempati?" tanya Sinaga lewat surat terbuka, Selasa, 12 Maret 2019.
 
Sinaga bersyukur perjuangannya membela bayi Deborah kala itu membawa perubahan pada pelayanan rumah sakit di Jakarta.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Ibu Menkes melalui Dinkes DKI Jakarta memaksa seluruh rumah sakit di Jakarta tanda tangan komitmen untuk memastikan setiap pasien gawat darurat tidak boleh lagi diminta uang muka. Harus diselamatkan dahulu tanpa syarat," kenangnya.
 
Tidak hanya dalam kasus Bayi Deborah, Sinaga juga bertanya, “Kemana kader PSI saat rintihan orang tua Alvaro dan Trinity yang menjadi korban teroris bom molotov di Gereja HKBP Samarinda?"
 
"Adakah kepedulian atas masa depan dua bocah yang kulit tubuhnya terbakar hingga wajah mereka seperti monster dari PSI?" imbuh Sinaga.
 
Jika memakai standar Grace, kata Sinaga, dia boleh juga jemawa. "Hanya saya kader NasDem yang menyuarakan suara rintihan getir mereka. Bukan sekedar menyuarakan tapi juga menggalang dana untuk perobatan Alvaro dan Trinity hingga bisa dioperasi di Kuala Lumpur dan Guang Zhou," ujarnya.
 
"Saya juga mendesak Presiden Jokowi membatalkan rencana pembebasan tanpa syarat Ustaz ABB (Abu Bakar Ba'asyir) beberapa waktu lalu. Meskipun saya harus dicaci maki dan dibully karena berseberangan dengan arus besar pendukung Jokowi," imbuhnya.
 
Namun demikian, di akhir surat terbukanya, Sinaga mengatakan, tidak bermaksud memojokkan Grace dan keluarga besar PSI. Dia hanya ingin agar kita sebagai anak bangsa dalam Koalisi Indonesia Maju yang sedang berjuang mewujudkan mimpi besar tentang Indonesia Maju tidak menggunakan cara atau siasat menjatuhkan partai lain agar partai anda menonjol sendiri.
 
"Tidak elok pakai cara tidak sportif dengan mengerdilkan partai lain agar partai anda sendiri yang juara pertama," ujarnya.
 
"Saya berharap cukup kali ini saja pidato seperti ini terjadi. Tidak perlu agar rumah anda tampak bercahaya lalu menggelapkan rumah orang lain. Saya menolak cara berjuang seperti ini," tutupnya.
 
Sebelumnya, Grace Natalie menganggap partai yang dipimpinnya berbeda dengan partai nasionalis lain. Partai nasionalis lain menurut Grace lebih banyak diam terkait kasus-kasus intoleransi dan diskriminasi belakangan ini.
 
"Sedang apa kalian ketika 13 Januari lalu terjadi persekusi atas jemaat GBI Philadelpia yang sedang beribadah di Labuhan Medan? Kenapa hanya PSI yang memprotes? Mana suara Partai Nasionalis lain ketika pada 17 Desember, nisan kayu salib dipotong dan prosesi doa kematian seorang warga Katolik ditolak massa. Cuma Sekjen PSI yang menyampaikan kecaman!" kata Grace dalam pidatonya di Medan, Senin, 11 Maret 2019.
 

(MBM)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif