Ilustrasi berkendara sepeda motor. Wahana Honda
Ilustrasi berkendara sepeda motor. Wahana Honda

Terjebak Macet di Jakarta? Ini 5 Tips Safety Riding dari Wahana Honda

Ekawan Raharja • 14 Agustus 2026 11:21
Ringkasnya gini..
  • Kemacetan Jakarta dan Tangerang dapat menurunkan konsentrasi serta memicu emosi pengendara sepeda motor di jalan.
  • Wahana Honda membagikan lima tips #Cari_Aman, termasuk menjaga jarak, fokus, menghindari selap-selip, dan mematuhi rambu.
  • Pengendara juga diingatkan mengontrol emosi agar tetap tenang dan mengurangi resiko kecelakaan selama menghadapi kemacetan.
DKI Jakarta: Kemacetan menjadi bagian dari keseharian masyarakat di kawasan metropolitan, termasuk Jakarta dan Tangerang. Volume kendaraan yang tinggi serta aktivitas masyarakat pada jam sibuk membuat pengendara sepeda motor harus menghadapi lalu lintas padat dan bergerak lambat.
 
Menyikapi kondisi tersebut, Main Dealer sepeda motor Honda untuk wilayah Jakarta-Tangerang, PT Wahana Makmur Sejati (WMS), mengingatkan masyarakat untuk tetap mengutamakan keselamatan berkendara melalui kampanye #Cari_Aman.
 
Head of Safety Riding PT WMS, Agus Sani, mengatakan kemacetan justru membutuhkan tingkat kesabaran dan kewaspadaan yang lebih tinggi dari pengendara.

“Banyak orang menganggap kemacetan hanya menghabiskan waktu. Padahal, kondisi lalu lintas yang padat justru membutuhkan tingkat kesabaran dan kewaspadaan yang lebih tinggi. Melalui #Cari_Aman, kami ingin mengingatkan keselamatan tidak ditentukan oleh cepat atau lambatnya kendaraan melaju, tetapi oleh setiap keputusan yang diambil pengendara selama berada di jalan,” ucap Agus Sani melalui keterangan resminya.
 
Untuk membantu pengendara menghadapi kemacetan dengan lebih aman, WMS membagikan lima tips berkendara yang dapat diterapkan saat lalu lintas padat.

Baca Juga:
Harga Jetour T2 i-DM Rp688 Juta, Raih Dua Penghargaan di GIIAS 2026

1. Jaga Jarak Aman

Pengendara sepeda motor tetap perlu memberikan ruang yang cukup dengan kendaraan di depan meski lalu lintas bergerak perlahan. Jarak tersebut dapat memberikan ruang pengereman ketika kendaraan di depan berhenti secara tiba-tiba.
 
Menjaga jarak juga membantu pengendara memiliki waktu untuk bereaksi terhadap perubahan situasi lalu lintas sehingga resiko tabrakan dapat diminimalkan.

2. Tetap Fokus dan Waspada

Kecepatan rendah bukan berarti pengendara dapat mengurangi konsentrasi. Saat menghadapi kemacetan, pengendara perlu memperhatikan pergerakan kendaraan lain, pejalan kaki, serta berbagai hambatan yang dapat muncul secara tiba-tiba.
 
Konsentrasi yang terjaga membantu pengendara mengambil keputusan secara tepat ketika kondisi lalu lintas berubah.

3. Hindari Selap-Selip

Memaksakan sepeda motor melewati celah sempit di antara kendaraan untuk menghemat waktu dapat meningkatkan resiko senggolan maupun kecelakaan.
 
Pengendara disarankan mengikuti arus lalu lintas dan tidak memaksakan diri melakukan manuver di ruang yang terbatas. Bersabar menjadi pilihan yang lebih aman dibanding mengambil resiko terhadap diri sendiri maupun pengguna jalan lain.

Baca Juga:
Mobil Boros BBM Tak Selalu karena Gaya Mengemudi, Ini Penyebabnya

4. Patuhi Rambu Lalu Lintas

Kondisi macet tidak menjadi alasan untuk mengabaikan rambu lalu lintas dan marka jalan. Pengendara tetap perlu menggunakan lajur sesuai peruntukannya.
 
WMS juga mengingatkan pengendara untuk tidak menggunakan trotoar atau melawan arus sebagai jalan pintas. Perilaku tersebut selain membahayakan pengguna jalan juga bertentangan dengan Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan.
 
Dalam materi edukasinya, WMS mengacu pada Pasal 105 yang mewajibkan setiap pengguna jalan berperilaku tertib demi menjaga keamanan, keselamatan, ketertiban, dan kelancaran lalu lintas.

5. Kontrol Emosi Saat Macet

Kemacetan dapat memicu rasa jenuh dan emosi. Karena itu, pengendara perlu menjaga kondisi emosional agar tidak melakukan manuver agresif atau tindakan yang berpotensi membahayakan pengguna jalan lain.
 
Mengendalikan emosi dan menghormati sesama pengguna jalan menjadi bagian dari penerapan budaya #Cari_Aman selama berkendara.

Baca Juga:
Mitsubishi Pajero Siap Debut Global, Bawa Teknologi S-AWC dan Sasis Ladder Frame


“Budaya #Cari_Aman dimulai dari kebiasaan sederhana, seperti menjaga jarak aman, mematuhi aturan lalu lintas, menghormati sesama pengguna jalan, serta mampu mengendalikan emosi. Jika kebiasaan ini dilakukan secara konsisten, bukan hanya perjalanan menjadi lebih nyaman, tetapi juga mampu menekan resiko kecelakaan dan menciptakan lalu lintas yang lebih tertib bagi semua,” tutup Agus Sani.
 
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda
(UDA)




TERKAIT

BERITA LAINNYA

social
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan