Jakarta - Kebocoran halus di ban tipe tubeless mobil, kadang tidak bisa dideteksi hanya dengan cara menyeprotkan air. Kadang harus disertai dengan pemberian tekanan yang cukup untuk mendeteksi kebocoran.
Menurut Kepala Mekanik dari Bengkel Mobil Chass Servis, Bot di bilangan Binong, Kabupaten Tangerang, bahwa tekanan ideal untuk mendeteksi kebocoran pada ban, biasanya dikasih tekanan angin sampai 40 psi.
"Tekanan angin 40 ini sudah ideal untuk mengetahui mana bagian yang mengalami kebocoran. Sehingga bisa langsung diambil tindakan tambal tubeless. Namun jika bannya kebocorannya sangat kecil atau bocor halus, tentu tekanan yang dibutuhkan untuk mendeteksi kebocoran harus lebih besar lagi," ujar Bot.
Ia mengatakan bahwa saat coba memberikan tekanan dengan angka 40 psi, kebocoran tidak terdeteksi. Bahkan ketika ban mobil direndam di kolam air pun tidak ada tanda kebocoran. Namun ketika ban diberikan tekanan 60 psi, baru terdeteksi ada kebocoran.
Baca Juga:
Motor Listrik VS Motor Berbahan Bakar, Wajib Paham Sebelum Membeli!
"Hal ini baru saja Kami kerjakan di Honda CR-V hitam ini," ujar Bot sambil menunjuk mobil berwarna hitam. "Awalnya karena kecurigaan ada kerusakan pada pentil bannya, sehingga pemilik mobil ingin mengganti pentil. Namun masalah kebocoran malah terdeteksi ketika tekanan dibuat lebih tinggi."
Menurut Bot, ada beberapa opsi untuk melakukan penambalan. Yaitu dengan cara tambal ban tubeless dengan memasukkan material karet dari luar. Kemudian cara kedua adalah dengan cara melakukan penambalan dari dalam ban atau tambal tip-top.
Menurut Bot, tambal yang lebih aman dan awet untuk tipe ban tubeless adalah tambal tip-top. Mengingat tambahan ini menambal dari bagian dalam ban. Sehingga bisa awet digunakan dan mencegah kebocorah akibat tambahan terlepas seperti halnya tambal tubeless biasa.
Jakarta - Kebocoran halus di
ban tipe tubeless
mobil, kadang tidak bisa dideteksi hanya dengan cara menyeprotkan air. Kadang harus disertai dengan pemberian tekanan yang cukup untuk mendeteksi kebocoran.
Menurut Kepala Mekanik dari Bengkel Mobil Chass Servis, Bot di bilangan Binong, Kabupaten Tangerang, bahwa tekanan ideal untuk mendeteksi kebocoran pada ban, biasanya dikasih tekanan angin sampai 40 psi.
"Tekanan angin 40 ini sudah ideal untuk mengetahui mana bagian yang mengalami kebocoran. Sehingga bisa langsung diambil tindakan tambal tubeless. Namun jika bannya kebocorannya sangat kecil atau bocor halus, tentu tekanan yang dibutuhkan untuk mendeteksi kebocoran harus lebih besar lagi," ujar Bot.
Ia mengatakan bahwa saat coba memberikan tekanan dengan angka 40 psi, kebocoran tidak terdeteksi. Bahkan ketika ban mobil direndam di kolam air pun tidak ada tanda kebocoran. Namun ketika ban diberikan tekanan 60 psi, baru terdeteksi ada kebocoran.
"Hal ini baru saja Kami kerjakan di Honda CR-V hitam ini," ujar Bot sambil menunjuk mobil berwarna hitam. "Awalnya karena kecurigaan ada kerusakan pada pentil bannya, sehingga pemilik mobil ingin mengganti pentil. Namun masalah kebocoran malah terdeteksi ketika tekanan dibuat lebih tinggi."
Menurut Bot, ada beberapa opsi untuk melakukan penambalan. Yaitu dengan cara tambal ban tubeless dengan memasukkan material karet dari luar. Kemudian cara kedua adalah dengan cara melakukan penambalan dari dalam ban atau tambal tip-top.
Menurut Bot, tambal yang lebih aman dan awet untuk tipe ban tubeless adalah tambal tip-top. Mengingat tambahan ini menambal dari bagian dalam ban. Sehingga bisa awet digunakan dan mencegah kebocorah akibat tambahan terlepas seperti halnya tambal tubeless biasa.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(UDA)