medcom.id, Jakarta: Ketua Umum Asosiasi Sepeda Motor Indonesia (AISI) Gunadi Sindhuwinata membantah produsen sepeda motor Honda dan Yamaha melakukan kartel. Dua merek besar yang tergabung dalam AISI itu sudah menganut etika bisnis atas dasar persaingan usaha.
"Tidak, itu adalah pure dari persaingan pasar yang bebas," kata Gunadi dalam Economic Challenges Metro TV, Selasa 28 Februari 2017.
Menurut Gunadi yang notabene terlibat dengan perusahaan Suzuki, pasar konsumen menentukan penjualan sepeda motor di Indonesia, salah satunya yang berjenis skuter matik. Persaingan usaha kedua produsen sepeda motor tersebut dinilai sudah sehat.
"Keduanya bersaing dengan iklan dan sebagainya yang sebetulnya memang pasar sepeda motor itu tidak ada kartel," jelasnya.
Sebelumnya, Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) menyebut dua produsen sepeda motor Yamaha dan Honda melakukan kartel dengan menjual skuter matik di atas harga produksi dengan sangat tinggi. Satu unit skuter matik dihargai hingga Rp15 juta, padahal biaya produksinya hanya Rp7 juta sampai Rp8 juta per unit.
medcom.id, Jakarta: Ketua Umum Asosiasi Sepeda Motor Indonesia (AISI) Gunadi Sindhuwinata membantah produsen sepeda motor Honda dan Yamaha melakukan kartel. Dua merek besar yang tergabung dalam AISI itu sudah menganut etika bisnis atas dasar persaingan usaha.
"Tidak, itu adalah pure dari persaingan pasar yang bebas," kata Gunadi dalam
Economic Challenges Metro TV, Selasa 28 Februari 2017.
Menurut Gunadi yang notabene terlibat dengan perusahaan Suzuki, pasar konsumen menentukan penjualan sepeda motor di Indonesia, salah satunya yang berjenis skuter matik. Persaingan usaha kedua produsen sepeda motor tersebut dinilai sudah sehat.
"Keduanya bersaing dengan iklan dan sebagainya yang sebetulnya memang pasar sepeda motor itu tidak ada kartel," jelasnya.
Sebelumnya, Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) menyebut dua produsen sepeda motor
Yamaha dan Honda melakukan kartel dengan menjual skuter matik di atas harga produksi dengan sangat tinggi. Satu unit skuter matik dihargai hingga Rp15 juta, padahal biaya produksinya hanya Rp7 juta sampai Rp8 juta per unit.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(MEL)