Jakarta: Pemerintah menegaskan komitmen untuk mendorong transformasi ekosistem kendaraan listrik nasional.
Hal tersebut disampaikan langsung oleh Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi. Menurutnya, salah satu langkah strategis pemerintah yakni memperkuat produksi motor listrik dalam negeri.
“Sekali lagi ini membuktikan bahwa sesungguhnya kalau kita memiliki kehendak, kalau kita memiliki keinginan, bangsa Indonesia akan mampu mencapainya,” kata Prasetyo di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta.
Rencana pemerintah meluncurkan motor listrik nasional dinilai berpotensi menjadi katalis kebangkitan sektor manufaktur Indonesia. Langkah tersebut dipandang dapat memperkuat proses reindustrialisasi sekaligus meningkatkan daya saing industri dalam negeri.
Momentum penggerak ekonomi
Analis Kebijakan Ekonomi Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo), Ajib Hamdani, mengatakan kehadiran motor listrik nasional bisa menjadi momentum untuk mengembalikan peran sektor manufaktur sebagai penggerak utama perekonomian.
"Hal ini tentunya menjadi angin segar agar sektor manufaktur bisa kembali terdorong dan menjadi lokomotif penggerak perekonomian nasional, serta menjadi sektor penyerap tenaga kerja yang berkualitas," ujar Ajib dikutip dari Antara, Kamis, 23 Juli 2026.
Baca Juga :
Penyebab Baterai Motor Listrik SLA Cepat Drop
Ia mengungkapkan, kontribusi sektor manufaktur terhadap produk domestik bruto (PDB) Indonesia saat ini masih berada di kisaran 19,2 persen. Menurutnya, angka tersebut menunjukkan tantangan deindustrialisasi masih membayangi sehingga penciptaan lapangan kerja maupun peningkatan nilai tambah industri belum berjalan optimal.
Ia menilai target pertumbuhan ekonomi di atas enam persen dan penciptaan 19 juta lapangan kerja dalam lima tahun akan sulit direalisasikan apabila kontribusi manufaktur terhadap PDB tetap berada di bawah 20 persen.
Sebagai pembanding, Ajib mencontohkan Vietnam yang berhasil meningkatkan kontribusi manufaktur melalui regulasi yang mendukung industri domestik serta iklim usaha yang lebih kompetitif. Hasilnya, sektor manufaktur di negara tersebut telah menyumbang lebih dari 23 persen terhadap PDB, bahkan mencapai sekitar 30 persen pada sejumlah sektor.
Membangun rantai pasok industri dalam negeri
Lebih jauh, Ajib menekankan keberhasilan program motor listrik nasional akan sangat ditentukan oleh implementasi di tingkat kementerian dan lembaga.
Menurutnya, motor listrik nasional tidak cukup hanya diproduksi di Indonesia, tetapi juga harus memiliki kandungan lokal yang tinggi sehingga mampu membangun rantai pasok industri dalam negeri.
"Untuk bisa disebut sebagai motor listrik nasional dan memberikan dampak trickle down effect untuk industri kecil menengah, produk ini minimal harus memenuhi dua unsur. Pertama, mempunyai Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) lebih dari 50 persen termasuk IP lokal, misalnya chassis, body pack, wiring, dan lainnya," jelas Ajib.
Ia juga menilai pengembangan motor listrik nasional perlu melibatkan industri kecil dan menengah, koperasi, hingga pelaku usaha komponen otomotif agar manfaat ekonominya dapat dirasakan lebih luas.
3 manfaat adanya motor listrik nasional
Setidaknya ada tiga manfaat utama dari pengembangan motor listrik nasional. Pertama, kendaraan dapat dirancang sesuai kebutuhan masyarakat sehingga tidak hanya berfungsi sebagai alat transportasi, tetapi juga mendukung aktivitas ekonomi produktif.
Kedua, penggunaan motor listrik dinilai mampu menekan emisi gas buang hingga lebih dari 95 persen sehingga sejalan dengan target pemerintah dalam mendorong ekonomi hijau.
Ketiga, program tersebut diyakini dapat mengurangi beban subsidi bahan bakar minyak (BBM). Dengan populasi sepeda motor di Indonesia yang diperkirakan telah melampaui 145 juta unit, peralihan ke kendaraan listrik dinilai berpotensi memangkas konsumsi BBM bersubsidi secara signifikan.
Di sisi lain, Ajib mengingatkan pemerintah agar memastikan motor listrik nasional benar-benar merupakan hasil pengembangan industri dalam negeri, bukan sekadar produk luar negeri yang dipasarkan menggunakan merek lokal.
Jakarta: Pemerintah menegaskan komitmen untuk mendorong transformasi ekosistem
kendaraan listrik nasional.
Hal tersebut disampaikan langsung oleh Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi. Menurutnya, salah satu langkah strategis pemerintah yakni memperkuat produksi
motor listrik dalam negeri.
“Sekali lagi ini membuktikan bahwa sesungguhnya kalau kita memiliki kehendak, kalau kita memiliki keinginan, bangsa Indonesia akan mampu mencapainya,” kata Prasetyo di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta.
Rencana pemerintah meluncurkan motor listrik nasional dinilai berpotensi menjadi katalis kebangkitan sektor manufaktur Indonesia. Langkah tersebut dipandang dapat memperkuat proses reindustrialisasi sekaligus meningkatkan daya saing industri dalam negeri.
Momentum penggerak ekonomi
Analis Kebijakan Ekonomi Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo), Ajib Hamdani, mengatakan kehadiran motor listrik nasional bisa menjadi momentum untuk mengembalikan peran sektor manufaktur sebagai penggerak utama perekonomian.
"Hal ini tentunya menjadi angin segar agar sektor manufaktur bisa kembali terdorong dan menjadi lokomotif penggerak perekonomian nasional, serta menjadi sektor penyerap tenaga kerja yang berkualitas," ujar Ajib dikutip dari Antara, Kamis, 23 Juli 2026.
Ia mengungkapkan, kontribusi sektor manufaktur terhadap produk domestik bruto (PDB) Indonesia saat ini masih berada di kisaran 19,2 persen. Menurutnya, angka tersebut menunjukkan tantangan deindustrialisasi masih membayangi sehingga penciptaan lapangan kerja maupun peningkatan nilai tambah industri belum berjalan optimal.
Ia menilai target pertumbuhan ekonomi di atas enam persen dan penciptaan 19 juta lapangan kerja dalam lima tahun akan sulit direalisasikan apabila kontribusi manufaktur terhadap PDB tetap berada di bawah 20 persen.
Sebagai pembanding, Ajib mencontohkan Vietnam yang berhasil meningkatkan kontribusi manufaktur melalui regulasi yang mendukung industri domestik serta iklim usaha yang lebih kompetitif. Hasilnya, sektor manufaktur di negara tersebut telah menyumbang lebih dari 23 persen terhadap PDB, bahkan mencapai sekitar 30 persen pada sejumlah sektor.
Membangun rantai pasok industri dalam negeri
Lebih jauh, Ajib menekankan keberhasilan program motor listrik nasional akan sangat ditentukan oleh implementasi di tingkat kementerian dan lembaga.
Menurutnya, motor listrik nasional tidak cukup hanya diproduksi di Indonesia, tetapi juga harus memiliki kandungan lokal yang tinggi sehingga mampu membangun rantai pasok industri dalam negeri.
"Untuk bisa disebut sebagai motor listrik nasional dan memberikan dampak trickle down effect untuk industri kecil menengah, produk ini minimal harus memenuhi dua unsur. Pertama, mempunyai Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) lebih dari 50 persen termasuk IP lokal, misalnya chassis, body pack, wiring, dan lainnya," jelas Ajib.
Ia juga menilai pengembangan motor listrik nasional perlu melibatkan industri kecil dan menengah, koperasi, hingga pelaku usaha komponen otomotif agar manfaat ekonominya dapat dirasakan lebih luas.
3 manfaat adanya motor listrik nasional
Setidaknya ada tiga manfaat utama dari pengembangan motor listrik nasional. Pertama, kendaraan dapat dirancang sesuai kebutuhan masyarakat sehingga tidak hanya berfungsi sebagai alat transportasi, tetapi juga mendukung aktivitas ekonomi produktif.
Kedua, penggunaan motor listrik dinilai mampu menekan emisi gas buang hingga lebih dari 95 persen sehingga sejalan dengan target pemerintah dalam mendorong ekonomi hijau.
Ketiga, program tersebut diyakini dapat mengurangi beban subsidi bahan bakar minyak (BBM). Dengan populasi sepeda motor di Indonesia yang diperkirakan telah melampaui 145 juta unit, peralihan ke kendaraan listrik dinilai berpotensi memangkas konsumsi BBM bersubsidi secara signifikan.
Di sisi lain, Ajib mengingatkan pemerintah agar memastikan motor listrik nasional benar-benar merupakan hasil pengembangan industri dalam negeri, bukan sekadar produk luar negeri yang dipasarkan menggunakan merek lokal.
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda(PRI)