Jakarta: Industri otomotif Indonesia sudah dimulai sejak tahun 1970-an dan tidak banyak yang mencatatnya. Hal ini kemudian membuat Agus Tjahajana Wirakusumah tergerak untuk merangkum perkembangan industri otomotif di Tanah Air dari waktu ke waktu.
Pria yang lama berkarir di Kementerian Perindustrian-Perdagangan dan Kementerian Perindustrian sebagai Direktur Jenderal menghadirkan sebuah buku dengan judul Industri Otomotif untuk Negeri: Menjadi Pemain Utama Era Mobil Listrik. Dia menilai sektor satu ini perlu didokumentasikan karena merupakan salah satu sektor utama penunjang ekonomi Indonesia.
“Harapan saya buku ini menjadi referensi yang utuh dan lengkap tentang industri otomotif yang selama lima dekade telah berkontribusi sangat besar untuk negeri ini. Semoga buku ini juga menarik perhatian para anak muda dan berbagai kalangan yang ingin mengenal lebih dalam struktur industri otomotif kita,” ujar Agus di Dreams Café by Honda, Senayan Park, Selasa (14/12/2021).
Dia bercerita, dalam buku ini mengisahkan dari fakta perniagaan mobil di Indonesia yang sudah ada sejak negara ini berada dalam masa pemerintah kolonial Belanda. Perdagangan mobil pada era ini mendorong beberapa merek otomotif asal Amerika dan Eropa masuk ke Indonesia dengan mitra para pengusaha lokal. Pengusaha lokal inilah yang memasarkan mobil asal Amerika dan Eropa dengan perannya sebagai importir.
Buku ini juga menuliskan soal para tokoh yang menjadi perintis industri otomotif berkembang di Indonesia seperti William Soeryadjaya, Hadi Budiman, Sjarnoebi Said, dan Soebronto Laras. Mereka menjadi pembuka jalan bagi merek otomotif dunia bersama perusahaan atau kelompok usahanya, seperti PT Astra International Tbk, PT Honda Prospect Motor, PT Mitsubishi Motors Krama Yudha Sales Indonesia dan PT Krama Yudha Tiga Berlian Motors, serta PT Indomobil Sukses Makmur Tbk. Jasa mereka membuat merek otomotif dunia asal Jepang yakni Toyota, Honda, Suzuki, dan Mitsubishi ekspansi ke Indonesia sejak 1970-an hingga masih berkibar di industri saat ini.
Tidak ketinggalan, buku ini juga mengulas perjuangan Indonesia membangun mobil merek nasional (mobnas) dengan konteks global. Mulai era “mobnas” sebelum sedan Timor, mobil Esemka, hingga mobil mikro nasional seperti Ammdes. Ini menjadi salah satu cerita menarik perjalanan industri ini di Tanah Air sekaligus gambaran betapa tidak mudahnya kegiatan mengembangkan mobil merek nasional.
"Buku ini juga secara khusus memaparkan soal peluang dan tantangan industri otomotif Indonesia di era mobil listrik. Termasuk bagaimana potensi Indonesia bisa menjadi pemain utama di era mobil zero emission, setelah era mobil internal combustion engine (ICE)."
Buku yang diterbitkan oleh Pustaka Kaji ini sudah bisa dipesan melalui sejumlah e-commerce dengan harga Rp199 ribu
Tidak ketinggalan, buku ini juga mengulas perjuangan Indonesia membangun mobil merek nasional (mobnas) dengan konteks global. Mulai era “mobnas” sebelum sedan Timor, mobil Esemka, hingga mobil mikro nasional seperti Ammdes. Ini menjadi salah satu cerita menarik perjalanan industri ini di Tanah Air sekaligus gambaran betapa tidak mudahnya kegiatan mengembangkan mobil merek nasional.
"Buku ini juga secara khusus memaparkan soal peluang dan tantangan industri otomotif Indonesia di era mobil listrik. Termasuk bagaimana potensi Indonesia bisa menjadi pemain utama di era mobil zero emission, setelah era mobil internal combustion engine (ICE)."
Buku yang diterbitkan oleh Pustaka Kaji ini sudah bisa dipesan melalui sejumlah e-commerce dengan harga Rp199 ribu
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(ERA)