Jakarta: Amerika Serikat dalam beberapa tahun ke belakang mencurigai industri otomotif China yang memata-matai negaranya. Oleh sebab itu, Pemerintah Amerika Serikat akan memberlakukan larangan untuk mobil-mobil yang dijual dengan menggunakan perangkat lunak untuk konektivitas dari China dan Rusia.
Departemen Perdagangan Amerika Serikat mengakui khawatir perangkat lunak dan perangkat keras yang berasal dari China dan Rusia dapat mengancam keamanan nasional dan privasi warga negara AS. Hal ini terutama berlaku pada kendaraan otonom yang semakin banyak menggunakan teknologi konektivitas, seperti dikutip dari Autoweek.
Oleh sebab itu, mereka telah mengajukan aturan baru yang melarang penjualan kendaraan dengan perangkat lunak konektivitas dari China dan Rusia mulai tahun model 2027. Selain itu, kendaraan dengan perangkat keras yang relevan dari kedua negara juga akan dilarang dijual mulai tahun model 2030.
Harapannya dengan diberlakukannya peraturan tersebut dalam membatasi akses asing terhadap data pribadi dan kontrol kendaraan.
Meskipun aturan ini bertujuan untuk melindungi keamanan nasional, namun juga dinilai memiliki banyak dampak negatif bagi industri otomotif di AS. Banyak produsen mobil selama ini bergantung pada komponen dan perangkat lunak dari China dan Rusia. Berbagai merek mobil untuk model tahun 2025, mulai dari Cadillac dari General Motors hingga Ford menggunakan komponen-komponen tersebut dalam kendaraan mereka.
Cadillac XT4, CT4, dan CT5, dan Buick Encore GX memiliki kandungan komponen dari China sebesar 15 persen, kemudian Hyundai Kona EV di AS memiliki kandungan mencapai 50 persen. Sementara yang terbesar adalah Ford Mustang Mach-E dengan tingkat kandungan 51 persen.
Bahkan, beberapa model yang diproduksi di China, seperti Lincoln Nautilus dan Polestar 2, memiliki kandungan komponen China yang sangat tinggi mencapai 87 persen dan 95 persen.
Jakarta: Amerika Serikat dalam beberapa tahun ke belakang mencurigai
industri otomotif China yang memata-matai negaranya. Oleh sebab itu, Pemerintah Amerika Serikat akan memberlakukan larangan untuk
mobil-mobil yang dijual dengan menggunakan perangkat lunak untuk konektivitas dari China dan Rusia.
Departemen Perdagangan Amerika Serikat mengakui khawatir perangkat lunak dan perangkat keras yang berasal dari China dan Rusia dapat mengancam keamanan nasional dan privasi warga negara AS. Hal ini terutama berlaku pada kendaraan otonom yang semakin banyak menggunakan teknologi konektivitas, seperti dikutip dari Autoweek.
Oleh sebab itu, mereka telah mengajukan aturan baru yang melarang penjualan kendaraan dengan perangkat lunak konektivitas dari China dan Rusia mulai tahun model 2027. Selain itu, kendaraan dengan perangkat keras yang relevan dari kedua negara juga akan dilarang dijual mulai tahun model 2030.
Harapannya dengan diberlakukannya peraturan tersebut dalam membatasi akses asing terhadap data pribadi dan kontrol kendaraan.
Meskipun aturan ini bertujuan untuk melindungi keamanan nasional, namun juga dinilai memiliki banyak dampak negatif bagi industri otomotif di AS. Banyak produsen mobil selama ini bergantung pada komponen dan perangkat lunak dari China dan Rusia. Berbagai merek mobil untuk model tahun 2025, mulai dari Cadillac dari General Motors hingga Ford menggunakan komponen-komponen tersebut dalam kendaraan mereka.
Cadillac XT4, CT4, dan CT5, dan Buick Encore GX memiliki kandungan komponen dari China sebesar 15 persen, kemudian Hyundai Kona EV di AS memiliki kandungan mencapai 50 persen. Sementara yang terbesar adalah Ford Mustang Mach-E dengan tingkat kandungan 51 persen.
Bahkan, beberapa model yang diproduksi di China, seperti Lincoln Nautilus dan Polestar 2, memiliki kandungan komponen China yang sangat tinggi mencapai 87 persen dan 95 persen.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(UDA)