Biosolar B50. Kementerian ESDM
Biosolar B50. Kementerian ESDM

Penggunaan B50 Berpotensi Pengaruhi Performa Mesin Diesel, Ini Penjelasan Pakar UB

Ekawan Raharja • 20 Juni 2026 13:30
Ringkasnya gini..
  • Pakar Universitas Brawijaya menilai B50 membawa manfaat energi, tetapi perlu diterapkan secara bertahap dan terukur.
  • Penggunaan B50 pada mesin diesel lama berpotensi mempercepat kerusakan komponen serta meningkatkan risiko penyumbatan filter.
  • Biodiesel juga dapat membuat konsumsi bahan bakar lebih boros dan tenaga mesin sedikit menurun karena nilai kalor lebih rendah.
Malang: Implementasi bahan bakar B50 dinilai membawa sejumlah manfaat bagi Indonesia, mulai dari mengurangi impor bahan bakar minyak (BBM), mendukung hilirisasi kelapa sawit, hingga menekan emisi karbon.
 
Namun, penggunaan biodiesel dengan campuran tinggi juga berpotensi memengaruhi performa mesin dan kebutuhan perawatan kendaraan, terutama pada mesin diesel lama.
 
Profesor bidang Energi Baru Terbarukan Biofuels Universitas Brawijaya, Prof. Ir. Nurkholis Hamidi, S.T., M.Eng., Dr.Eng., mengatakan penerapan B50 merupakan langkah yang positif, tetapi perlu dilakukan secara bertahap dan terukur.

“Mesin-mesin yang dulu dibangun atau dikonstruksi hingga sekarang kan ada yang tidak didesain menggunakan bahan bakar biodiesel dengan konsentrasi tinggi,” ujar Hamidi dikutip dari situs resmi UB Prasetya UB.

Baca Juga:
Jurus Biar Karat Ga Mendekat di Sasis Mobil Sobat!


Menurut Hamidi, B50 merupakan bahan bakar yang terdiri dari campuran 50 persen biodiesel berbasis Fatty Acid Methyl Ester (FAME) dari minyak sawit dan 50 persen solar fosil. “Biodiesel itu bahan bakar alternatif yang renewable, diproduksi dari minyak nabati seperti minyak sawit. Ini bisa mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil,” ujarnya.
 
Ia menjelaskan biodiesel memiliki karakteristik berbeda dibandingkan solar. Kandungan oksigen dalam biodiesel dapat membantu proses pembakaran menjadi lebih baik. Namun, biodiesel juga memiliki tingkat kekentalan atau viskositas yang lebih tinggi.
 
Kondisi tersebut dapat membuat proses atomisasi atau penyemprotan bahan bakar di dalam ruang bakar menjadi kurang optimal apabila sistem injeksi mesin tidak disesuaikan. Dampaknya, kualitas pembakaran berpotensi menurun.
 
Pada kendaraan diesel modern, penggunaan biodiesel dengan kadar lebih tinggi umumnya tidak menjadi masalah selama spesifikasi bahan bakar sesuai standar. Namun, pada mesin diesel lama terdapat sejumlah risiko yang perlu diperhatikan.

Baca Juga:
Komponen Motor Listrik yang Paling Sering Rusak


Hamidi menyebut penggunaan B50 pada mesin lama berpotensi mempercepat penurunan usia komponen tertentu seperti seal dan selang bahan bakar. Selain itu, risiko pembentukan deposit dan penyumbatan filter bahan bakar juga lebih tinggi karena biodiesel memiliki sifat higroskopis atau mudah menyerap air.
 
“Biodiesel bersifat lebih polar dibanding solar biasa, sehingga bisa melarutkan komponen aditif dalam karet yang mengakibatkan karet kehilangan fleksibilitas, menjadi getas dan mudah retak. Namun pada kendaraan baru umumnya telah memiliki sistem saluran bahan bakar dan seal yang lebih tahan terhadap biodiesel sehingga tidak mudah getas” jelasnya.
 
Dari sisi performa, biodiesel memiliki kandungan oksigen yang membantu proses pembakaran lebih sempurna sehingga emisi karbon monoksida (CO) dan hidrokarbon (HC) dapat ditekan. Namun, biodiesel juga memiliki nilai kalor yang lebih rendah dibandingkan solar. Akibatnya tenaga dan torsi mesin berpotensi sedikit menurun, sementara konsumsi bahan bakar bisa meningkat.
 
“Untuk menghasilkan tenaga yang sama, bahan bakar yang dibutuhkan bisa lebih banyak. Jadi ada kemungkinan terasa lebih boros,” ungkapnya.
 
Selain memengaruhi performa, penggunaan B50 juga dapat meningkatkan kebutuhan perawatan kendaraan. Biodiesel berpotensi melarutkan kotoran di dalam tangki bahan bakar sehingga filter dan saluran bahan bakar lebih mudah tersumbat.

Baca Juga:
Ternyata Segini Pajak Tahunan BYD M6 DM


“Filter bahan bakar harus lebih sering dibersihkan atau diganti karena potensi penyumbatan lebih besar,” pesannya.
 
Ia juga mengingatkan pentingnya pemeriksaan berkala pada nozzle dan sistem injeksi untuk memastikan aliran bahan bakar tetap optimal.
 
Menurut Hamidi, tantangan utama implementasi B50 terletak pada kompatibilitas dengan mesin-mesin yang telah lama beroperasi. Karena itu, pemerintah perlu memastikan kualitas biodiesel yang diproduksi memenuhi standar bahan bakar transportasi.
 
“Mengawasi agar bahan bakar biodiesel itu memenuhi standar sebagai bahan bakar transportasi,” tambahnya.
 
Meski demikian, Hamidi menilai prospek pengembangan biodiesel di Indonesia sangat menjanjikan mengingat ketersediaan sumber daya minyak nabati yang melimpah sebagai bahan baku energi terbarukan.
 
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda
(UDA)




TERKAIT

BERITA LAINNYA

social
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan