Komponen tersebut disebut berpotensi menimbulkan risiko keselamatan serius setelah dikaitkan dengan 12 insiden ledakan inflator yang menyebabkan 10 orang meninggal dunia dan dua orang mengalami luka berat.
Menurut NHTSA, inflator airbag tersebut masuk ke Amerika Serikat melalui importir yang belum diketahui identitasnya dan diduga diimpor secara ilegal. Pemerintah Amerika Serikat kini tengah mempertimbangkan kemungkinan pelarangan permanen terhadap penjualan komponen tersebut, dikutip dari Carscoops.
Keputusan awal ini merupakan bagian dari proses investigasi yang juga membuka periode komentar publik. Pihak DTN diberikan kesempatan untuk membantah temuan tersebut sebelum keputusan final diambil oleh NHTSA.
Jika hasil investigasi menguatkan dugaan cacat, maka inflator yang dipasang pada airbag maupun yang dijual terpisah dapat dilarang peredarannya di pasar Amerika Serikat.
Baca Juga:
Konsumen Chery Tiggo 8 CSH Curhat Mobil Bermasalah Setelah 3 Hari Pakai
Airbag Bisa Meledak dan Melontarkan Fragmen Logam
Pemerintah Amerika Serikat menyatakan inflator airbag yang dianggap tidak memenuhi standar tersebut dapat meledak dan melontarkan pecahan logam ke arah pengemudi.Fragmen tersebut berpotensi mengenai bagian tubuh vital seperti dada, leher, mata, hingga wajah pengemudi. Investigasi terhadap komponen ini telah dimulai sejak Oktober tahun lalu, namun NHTSA masih berupaya memastikan berapa banyak inflator yang telah masuk ke pasar Amerika Serikat.
Sejauh ini, seluruh insiden yang diketahui terjadi pada kendaraan Chevrolet Malibu dan Hyundai Sonata. Namun otoritas menyebut kemungkinan risiko tidak terbatas pada dua model tersebut.
Beberapa kendaraan yang mengalami insiden juga diketahui memiliki status salvage atau rebuilt title. Hal ini mengindikasikan bahwa bengkel perbaikan kemungkinan menggunakan airbag pengganti yang lebih murah dan diduga diimpor secara ilegal.
Pemerintah sebelumnya juga menyatakan bahwa korban meninggal terjadi dalam kecelakaan yang sebenarnya masih berpotensi untuk selamat.
Pemilik Kendaraan Diminta Segera Memeriksa Airbag
Karena sulit memastikan jenis inflator yang digunakan dalam kendaraan, NHTSA meminta pemilik mobil bekas untuk memeriksa riwayat kendaraan mereka.Baca Juga:
Ducati Indonesia Hadirkan Panigale V4 R dengan Teknologi MotoGP
Jika kendaraan pernah mengalami kecelakaan dan airbag mengembang sejak 2020, pemilik disarankan segera melakukan inspeksi guna memastikan airbag pengganti yang digunakan adalah komponen resmi yang setara dengan standar pabrikan.
Apabila inflator DTN ditemukan dalam kendaraan, pemilik diminta untuk tidak mengemudikan mobil tersebut hingga komponen diganti. Selain itu, masyarakat juga diminta melaporkan temuan tersebut kepada kantor lapangan Federal Bureau of Investigation (FBI).
Menteri Transportasi Amerika Serikat, Sean Duffy, menegaskan bahwa hasil investigasi awal menunjukkan adanya tren yang mengkhawatirkan.
“Investigasi awal kami terhadap penggunaan airbag ilegal dari China di bengkel otomotif telah mengungkap tren yang mengkhawatirkan: komponen yang tidak memenuhi standar ini membunuh keluarga-keluarga di Amerika,” ujar Sean Duffy.
Gugatan Hukum Mulai Bermunculan
Seiring meningkatnya jumlah korban, sejumlah gugatan hukum juga mulai diajukan. Firma hukum Morgan & Morgan melalui pengacara Andrew Parker Felix telah mengajukan tiga gugatan terkait kasus ini.Felix menyatakan pengakuan NHTSA terhadap bahaya inflator tersebut merupakan langkah penting untuk mencegah komponen ilegal masuk ke pasar otomotif.
“Pengakuan NHTSA terhadap bahaya yang ditimbulkan oleh inflator airbag ini merupakan langkah awal yang penting untuk mencegah perangkat ilegal dan palsu ini masuk ke rantai perdagangan dan akhirnya dipasang pada kendaraan,” ujarnya.
Ia juga menambahkan dalam sejumlah kasus yang ditangani, kecelakaan yang terjadi sebenarnya masih dapat diselamatkan jika airbag bekerja normal.
“Dalam setiap kasus yang kami tinjau, tabrakan tersebut seharusnya masih dapat diselamatkan. Namun inflator airbag itu diduga bertindak seperti granat, mengubah perangkat yang seharusnya menyelamatkan nyawa menjadi hukuman mati,” kata Felix.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News