Chery menargetkan pengoperasian lini produksi percontohan baterai solid-state Rhinoceros S pada 2027 dengan kepadatan energi 400 Wh/kg.
Chery menargetkan pengoperasian lini produksi percontohan baterai solid-state Rhinoceros S pada 2027 dengan kepadatan energi 400 Wh/kg.

Chery Siapkan Produksi Percontohan Baterai Solid-State Rhinoceros S pada 2027

Ekawan Raharja • 21 Oktober 2026 10:19
Ringkasnya gini..
  • Chery menargetkan pengoperasian lini produksi percontohan baterai solid-state Rhinoceros S pada 2027 dengan kepadatan energi 400 Wh/kg.
  • Chery mengembangkan baterai solid-state, baterai sodium-ion, dan sistem pengisian cepat untuk mendukung kendaraan serta penyimpanan energi.
  • Chery turut memperkenalkan sistem SOFC berbahan bakar amonia untuk pembangkit listrik stasioner dengan efisiensi listrik yang diklaim 60%.
Wuhu: Chery mengumumkan rencana pengoperasian lini produksi percontohan baterai solid-state Rhinoceros S pada 2027. Teknologi baterai ini dikembangkan dengan kepadatan energi 400 Wh/kg dan rentang suhu operasional minus 40 hingga 100 derajat Celsius.

Rencana tersebut disampaikan dalam Chery Global Innovation Conference 2026, dikutip dari Carnewchina. Pengoperasian lini produksi percontohan menjadi salah satu tahapan pengembangan baterai solid-state sebelum teknologi tersebut dapat diterapkan pada kendaraan.

Spesifikasi Baterai Solid-State Chery Rhinoceros S

Chery mencatat baterai solid-state Rhinoceros S memiliki kepadatan energi 400 Wh/kg dengan rentang suhu operasional minus 40 hingga 100 derajat Celsius. Perusahaan juga melaporkan hasil pengujian internal menggunakan ruang pemanas pada suhu 200 derajat Celsius.

Meski demikian, raksasa otomotif asal China itu belum mengungkapkan durasi pengujian, tingkat pengisian baterai, maupun konfigurasi sampel yang digunakan. Informasi tersebut diperlukan untuk membandingkan hasil pengujian dengan metode uji keselamatan baterai yang terstandardisasi.

Angka kepadatan energi 400 Wh/kg bukan teknologi yang sepenuhnya baru bagi Chery. Sebelumnya, perusahaan juga memaparkan pengembangan baterai solid-state dengan target kepadatan energi 600 Wh/kg.
 

Kedua angka tersebut berasal dari pendekatan teknologi berbeda. Pengembangan baterai 400 Wh/kg sebelumnya dilaporkan menggunakan elektrolit berbasis sulfida dan katoda terner berkandungan nikel tinggi. Sementara itu, teknologi dengan target 600 Wh/kg menggunakan elektrolit polimerisasi in-situ dan katoda berbasis mangan kaya litium.

Karena menggunakan formulasi material berbeda, kedua angka tersebut tidak dapat langsung dibandingkan sebagai dua versi dari sel baterai yang sama.

Dalam pengembangannya, para insinyur mengidentifikasi sejumlah tantangan teknis, termasuk menjaga kontak antarmuka material, mengintegrasikan sel ke dalam paket baterai, serta mengembangkan Dedicated Management System (DMS) milik perusahaan.

Pada baterai solid-state, menjaga kontak yang stabil antara elektrolit padat dan elektroda selama siklus pengisian serta pengosongan menjadi salah satu tantangan utama. Stabilitas antarmuka tersebut berpengaruh terhadap kinerja dan keandalan baterai dalam penggunaan berulang.

Chery Kembangkan Baterai Cair dan Sodium-Ion

Portofolio Rhinoceros tidak hanya mencakup baterai solid-state, tetapi juga baterai dengan elektrolit cair dan baterai sodium-ion untuk penyimpanan energi.
 

Untuk baterai elektrolit cair, Chery mencantumkan tingkat pengisian puncak 12C dan tingkat pengisian rata-rata berkelanjutan di atas 8C. Spesifikasi tersebut berlaku untuk baterai elektrolit cair, bukan baterai solid-state Rhinoceros S.

Sementara itu, baterai sodium-ion Chery diklaim memiliki masa pakai hingga 15.000 siklus. Teknologi ini ditujukan untuk kebutuhan penyimpanan energi di sektor komersial, industri, dan rumah tangga.

Pengembangan berbagai jenis baterai tersebut menunjukkan bahwa Chery menyiapkan solusi penyimpanan energi untuk sejumlah kebutuhan, tidak terbatas pada kendaraan listrik.

Chery Perkenalkan Sistem Sel Bahan Bakar Amonia

Dalam konferensi yang sama, Chery juga memaparkan sistem solid oxide fuel cell (SOFC) berbahan bakar amonia untuk pembangkit listrik stasioner.

Materi presentasi perusahaan menyebutkan sistem tersebut menggunakan amonia sebagai bahan bakar, termasuk amonia hijau yang diproduksi dengan memanfaatkan energi angin dan surya. Chery mencantumkan efisiensi listrik sebesar 60% dan efisiensi gabungan listrik serta panas atau combined heat and power (CHP) sebesar 90%.
 

Sistem tersebut juga disebut memiliki rentang pengaturan keluaran daya 30–100% serta waktu penerapan 90 hari. Namun, penilaian independen terhadap angka efisiensi tersebut memerlukan informasi lebih lanjut mengenai kondisi operasi dan konfigurasi sistem.

Amonia dapat digunakan sebagai pembawa hidrogen untuk sistem sel bahan bakar. Meski demikian, proses pengolahan bahan bakar, produksi amonia, serta distribusinya turut memengaruhi efisiensi dan emisi secara keseluruhan. Penggunaan energi terbarukan dalam produksi amonia saja belum cukup untuk memastikan emisi nol sepanjang siklus hidup.

Chery mengidentifikasi pembangkit listrik terdesentralisasi dan infrastruktur pengisian daya di lokasi terpencil sebagai potensi penerapan teknologi tersebut. Kelayakannya tetap bergantung pada ketersediaan dan distribusi bahan bakar, kebutuhan instalasi, permintaan listrik, serta biaya operasional.

Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda

(UDA)




TERKAIT

BERITA LAINNYA

social
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan