Asisten Deputi Pengembangan Industri Logam, Mesin, Alat Transportasi, Elektronika dan Aneka Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Atong Soekirman, mengatakan pembangunan ekosistem industri baterai saat ini tidak hanya berfokus pada pengembangan industri, tetapi juga pengelolaan limbah baterai setelah masa pakainya berakhir.
“Ini adalah isu yang hangat untuk kita sekarang, karena tidak hanya untuk mengembangkan industri terutama untuk EV, tapi bagaimana kita mengelola limbahnya, ini isu yang pemerintah lakukan sekarang,” kata Atong, dikutip dari Antara.
Menurut dia pengembangan kendaraan listrik menjadi salah satu strategi pemerintah dalam mendukung hilirisasi industri dan meningkatkan nilai tambah sumber daya alam nasional, sebagaimana tertuang dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) 2025-2029.
Baca Juga:
Jajal GWM Tank 300, Cara Unik Memperlihatkan Lo Orang Mampu!
Pasar kendaraan listrik nasional menunjukkan tren positif. Penjualan kendaraan listrik pada 2025 tercatat mencapai sekitar 103 ribu unit. Sementara itu, baterai berbasis litium dan besi mendominasi penggunaan pada mobil listrik di Indonesia dengan pangsa sekitar 96 persen pada 2024, sedangkan baterai berbahan nikel dan mangan sekitar 4 persen.
Di sisi lain, meningkatnya penggunaan kendaraan listrik juga berpotensi meningkatkan volume limbah elektronik dan baterai bekas secara global.
“Indonesia harus lebih mempersiapkan mengenai waste management system, seiring meningkatnya angka mobil elektrik bertenaga baterai dan masa akhir penggunaan baterai, sistem pengelolaan baterai penting untuk memastikan keberlanjutan supply material kritikal,” katanya lagi.
Atong menilai pengelolaan limbah baterai yang baik dapat menjadi indikator penting sekaligus menjadi contoh bagi negara-negara berkembang lainnya.
Ia menambahkan adopsi teknologi dari negara lain dalam sektor pertambangan dan produksi baterai perlu dilakukan dengan pendekatan ekonomi sirkular. Pendekatan tersebut dinilai penting untuk mendukung proses daur ulang material mineral kritis dan menjaga keberlanjutan industri baterai.
Baca Juga:
KSPI Bocorkan Ada 2 Perusahaan Industri Otomotif Mau Hengkang
Menurutnya, pengembangan ekonomi sirkular perlu difokuskan pada inovasi produk dan desain manufaktur yang mampu meningkatkan nilai tambah melalui adaptasi teknologi.
Penerapan ekonomi sirkular juga diperlukan untuk memastikan baterai kendaraan listrik dapat dikelola hingga akhir masa pakainya. Kebijakan tersebut telah diterapkan di berbagai negara, termasuk Jepang, Korea Selatan, dan Singapura.
Penguatan regulasi, pengelolaan bersama, serta pembangunan fasilitas daur ulang dinilai menjadi kunci dalam menciptakan ekosistem industri baterai kendaraan listrik yang berkelanjutan. Langkah ini semakin penting mengingat permintaan baterai kendaraan listrik global diproyeksikan meningkat dari 1 ton pada 2024 menjadi 3 ton pada 2030, dengan masa pakai baterai berkisar 8-12 tahun.
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda