DKI Jakarta: PT Transportasi Jakarta (Transjakarta) terus mempercepat elektrifikasi armada sebagai bagian dari upaya membangun ekosistem transportasi rendah emisi di DKI Jakarta. Hingga saat ini, Transjakarta telah mengoperasikan 500 unit bus listrik di seluruh jaringan layanannya.
Elektrifikasi armada tersebut menjadi bagian dari strategi Transjakarta untuk mendukung target Pemerintah Provinsi DKI Jakarta menyediakan 50 persen angkutan umum bebas polusi pada 2027 dan mencapai 100 persen pada 2030.
Direktur Operasional dan Keselamatan Transjakarta, Mohamad Deddy Gamawan (Dega), mengatakan perusahaan menerapkan sejumlah strategi untuk mencapai target tersebut.
“Untuk mencapai target tersebut, kami menerapkan strategi peremajaan armada, pengadaan bus listrik baru, serta program retrofit. Pada tahun 2030, sebanyak 96% kontrak operator eksisting ditargetkan telah bertransformasi menggunakan kendaraan listrik,” jelas Dega melalui keterangan resminya.
Transjakarta Targetkan 96 Persen Operator Gunakan Kendaraan Listrik
Percepatan elektrifikasi Transjakarta dilakukan melalui tiga pendekatan, yakni peremajaan armada, pengadaan bus listrik baru, dan program retrofit atau konversi kendaraan. Melalui strategi tersebut, Transjakarta menargetkan 96 persen kontrak operator eksisting telah bertransformasi menggunakan kendaraan listrik pada 2030.
Baca Juga:
Bahaya Salah Data di BPKB, Ini Dampaknya
Selain elektrifikasi, Transjakarta juga memperkuat pengembangan layanan bus rapid transit (BRT) dan non-BRT. Perusahaan turut memperluas integrasi antarmoda serta meningkatkan aksesibilitas masyarakat terhadap transportasi publik.
Pengembangan tersebut diarahkan untuk menciptakan layanan transportasi perkotaan yang lebih terhubung, andal, aman, dan ramah lingkungan.
Coverage Area Transjakarta Capai 92 Persen DKI Jakarta
Dega mengatakan pengembangan transportasi publik di Jakarta tidak hanya berkaitan dengan penambahan jangkauan layanan. Konektivitas antarlayanan juga menjadi bagian penting untuk memudahkan mobilitas masyarakat.
“Transjakarta terus berupaya menghadirkan layanan yang mampu menjangkau lebih banyak wilayah sekaligus mempermudah perjalanan masyarakat melalui integrasi antarmoda. Dengan jaringan yang saling terhubung, saat ini coverage area Transjakarta sudah mencapai 92% area DKI Jakarta. Masyarakat dapat menikmati moda transportasi publik yang lebih praktis, nyaman, dan efisien,” ujar Dega.
Saat ini, Transjakarta mengoperasikan 240 rute yang mencakup berbagai jenis layanan. Jaringan tersebut terdiri atas BRT, feeder, Mikrotrans, Transjabodetabek, bus ke hunian rumah susun, Royaltrans, hingga sejumlah layanan khusus lainnya.
Baca Juga:
Biaya Derek Mobil di Tol, Kapan Gratis dan Berapa Tarifnya?
Penguatan jaringan tersebut ditujukan untuk mendukung konsep first-and-last mile connectivity. Dengan konsep ini, perjalanan penumpang diharapkan dapat terakomodasi mulai dari titik keberangkatan hingga destinasi akhir.
Integrasi Transjakarta dengan MRT dan LRT
Integrasi fisik dan rute Transjakarta telah terhubung dengan sejumlah simpul transportasi publik di Jakarta.
Beberapa di antaranya adalah stasiun MRT Jakarta, seperti Bundaran HI, ASEAN, dan Lebak Bulus. Sementara untuk LRT Jabodebek, integrasi tersedia di Setia Budi, Rasuna Said, Cikoko, Cawang, Ciliwung, dan Kuningan.
Integrasi tidak hanya dilakukan melalui keterhubungan halte dan rute. Masyarakat juga mendapatkan manfaat dari integrasi tarif lintas moda.
Tarif terintegrasi tersebut memiliki batas maksimum atau plafon Rp10.000 untuk perjalanan dengan durasi hingga 180 menit.
Dega menilai integrasi fisik, keterhubungan rute, dan tarif yang terjangkau menjadi bagian penting dalam pengembangan transportasi publik Jakarta.
“Integrasi bukan sebatas keterhubungan halte atau rute, melainkan juga kemudahan perpindahan penumpang antar-moda. Oleh karena itu, penguatan integrasi fisik, keterhubungan rute, dan keterjangkauan tarif menjadi prioritas utama pengembangan Transjakarta,” tambah Dega.
DKI Jakarta: PT Transportasi Jakarta (
Transjakarta) terus mempercepat elektrifikasi armada sebagai bagian dari upaya membangun ekosistem
transportasi rendah emisi di DKI Jakarta. Hingga saat ini, Transjakarta telah mengoperasikan 500 unit
bus listrik di seluruh jaringan layanannya.
Elektrifikasi armada tersebut menjadi bagian dari strategi Transjakarta untuk mendukung target Pemerintah Provinsi DKI Jakarta menyediakan 50 persen angkutan umum bebas polusi pada 2027 dan mencapai 100 persen pada 2030.
Direktur Operasional dan Keselamatan Transjakarta, Mohamad Deddy Gamawan (Dega), mengatakan perusahaan menerapkan sejumlah strategi untuk mencapai target tersebut.
“Untuk mencapai target tersebut, kami menerapkan strategi peremajaan armada, pengadaan bus listrik baru, serta program retrofit. Pada tahun 2030, sebanyak 96% kontrak operator eksisting ditargetkan telah bertransformasi menggunakan kendaraan listrik,” jelas Dega melalui keterangan resminya.
Transjakarta Targetkan 96 Persen Operator Gunakan Kendaraan Listrik
Percepatan elektrifikasi Transjakarta dilakukan melalui tiga pendekatan, yakni peremajaan armada, pengadaan bus listrik baru, dan program retrofit atau konversi kendaraan. Melalui strategi tersebut, Transjakarta menargetkan 96 persen kontrak operator eksisting telah bertransformasi menggunakan kendaraan listrik pada 2030.
Selain elektrifikasi, Transjakarta juga memperkuat pengembangan layanan bus rapid transit (BRT) dan non-BRT. Perusahaan turut memperluas integrasi antarmoda serta meningkatkan aksesibilitas masyarakat terhadap transportasi publik.
Pengembangan tersebut diarahkan untuk menciptakan layanan transportasi perkotaan yang lebih terhubung, andal, aman, dan ramah lingkungan.
Coverage Area Transjakarta Capai 92 Persen DKI Jakarta
Dega mengatakan pengembangan transportasi publik di Jakarta tidak hanya berkaitan dengan penambahan jangkauan layanan. Konektivitas antarlayanan juga menjadi bagian penting untuk memudahkan mobilitas masyarakat.
“Transjakarta terus berupaya menghadirkan layanan yang mampu menjangkau lebih banyak wilayah sekaligus mempermudah perjalanan masyarakat melalui integrasi antarmoda. Dengan jaringan yang saling terhubung, saat ini coverage area Transjakarta sudah mencapai 92% area DKI Jakarta. Masyarakat dapat menikmati moda transportasi publik yang lebih praktis, nyaman, dan efisien,” ujar Dega.
Saat ini, Transjakarta mengoperasikan 240 rute yang mencakup berbagai jenis layanan. Jaringan tersebut terdiri atas BRT, feeder, Mikrotrans, Transjabodetabek, bus ke hunian rumah susun, Royaltrans, hingga sejumlah layanan khusus lainnya.
Penguatan jaringan tersebut ditujukan untuk mendukung konsep first-and-last mile connectivity. Dengan konsep ini, perjalanan penumpang diharapkan dapat terakomodasi mulai dari titik keberangkatan hingga destinasi akhir.
Integrasi Transjakarta dengan MRT dan LRT
Integrasi fisik dan rute Transjakarta telah terhubung dengan sejumlah simpul transportasi publik di Jakarta.
Beberapa di antaranya adalah stasiun MRT Jakarta, seperti Bundaran HI, ASEAN, dan Lebak Bulus. Sementara untuk LRT Jabodebek, integrasi tersedia di Setia Budi, Rasuna Said, Cikoko, Cawang, Ciliwung, dan Kuningan.
Integrasi tidak hanya dilakukan melalui keterhubungan halte dan rute. Masyarakat juga mendapatkan manfaat dari integrasi tarif lintas moda.
Tarif terintegrasi tersebut memiliki batas maksimum atau plafon Rp10.000 untuk perjalanan dengan durasi hingga 180 menit.
Dega menilai integrasi fisik, keterhubungan rute, dan tarif yang terjangkau menjadi bagian penting dalam pengembangan transportasi publik Jakarta.
“Integrasi bukan sebatas keterhubungan halte atau rute, melainkan juga kemudahan perpindahan penumpang antar-moda. Oleh karena itu, penguatan integrasi fisik, keterhubungan rute, dan keterjangkauan tarif menjadi prioritas utama pengembangan Transjakarta,” tambah Dega.
(UDA)