Adapun uji kendara dilakukan, Jumat (17/7/2026). Menempuh rute dari Kantor Pusat MMKSI di Pulomas, Jakarta Timur, menuju Karawang Baru dan Bridgestone Paving Ground, Karawang, Jawa Barat.
Ubahan Eksterior pada Xforce HEV
Kebetulan kami kebagian unit Xforce HEV tipe tertinggi, yang secara eksterior terdapat sejumlah perubahan dibandingkan model bensin generasi sebelumnya. Pertama pada emblem penanda HEV, kemudian dari sisi desain gril yang lebih elegan.
Lalu velg 18 inci dengan desain tertutup, lampu belakang bergaya clear smoke, dan ground clearance Xforce HEV lebih rendah, dari sebelumnya 222 mm menjadi 212 mm.
Kabin Lapang untuk 5-Penumpang
Masuk ke dalam kabin, kelihatan lumayan lapang untuk 5-penumpang. Menengok bagian atas, terdapat Frameless Panoramic Roof sebagai salah satu fitur unggulan. Namun kacanya tidak bisa dibuka, karena bukan Sunroof.
Baca Juga:
Mobil Listrik Jadi 'Powerbank' Darurat Saat Banjir Besar Landa China
Visualisasi kaca depan menjangkau pandangan luas. Headunit serta Dashboard mobil dengan kemudi memiliki pewarnaan senada. Desain kabin pun terkesan premium dan elegan.
Konsol tengah Xforce HEV hadir dengan pembaruan signifikan, terutama penggunaan Electric Shifter yang lebih ringkas. Tepat di samping tuas transmisi, terdapat tombol Drive Mode dan kontrol khusus sistem hybrid (seperti EV Mode dan Charge Mode).
Kenalan dengan 7 Drive Mode Mitsubishi Xforce HEV
Perlu diketahui, Xforce HEV memiliki 7 Drive Mode, yakni Normal, Wet, Mud, Tarmac, Gravel, EV Priority dan Charge. Beda dengan generasi sebelumnya yang hanya 5 Mode Berkendara.
Usai briefing singkat, Konvoi 10 unit mobil new Xforce dan Xforce HEV dilepas jajaran direksi PT MMKSI. Untuk awalan, drive mode disetel Normal, di layar Headunit dan Panelmeter terdapat menu yang menampilkan proses kerja mesin mobil, dan motor hybrid.
Memasuki tol layang MBZ, Drive Mode disetel ke EV Priority. Tiba-tiba pada layar Panelmeter terlihat indikator Low Bat. Menandakan setingan harus diubah ke Charge Mode, untuk mengaktifkan mesin bensin secara khusus.
“Hal itu dilakukan supaya baterai hybrid kembali mengisi ulang daya, saat mobil sedang melaju,” terang General Manager of Product Strategy Division MMKSI, Adam Rahman. Memang perlahan-lahan terlihat, daya baterai bertambah sebaris demi sebaris. Menurut Brand Ambassador Mitsubishi Motors Indonesia, Rifat Sungkar, Xforce HEV bisa tembus jarak lebih dari 1000 Km rute Jakarta - Bali, sampai baterai dan bensin benar-benar habis.
Baca Juga:
Tips Modifikasi Mobil untuk Perjalanan, Tetap Aman dan Sesuai Standar Pabrikan
Posisi AC dikunci di suhu 18,5 derajat Celsius, blower disetel menengah, tapi kabin masih terasa hangat. Mungkin karena pelapis atap berwarna hitam, menyerap panas. Beda dengan Destinator yang memiliki pelapis warna krem.
Suspensi Kenyal Namun Tidak Binal
Tak lama, tibalah di kawasan Karawang Baru, sebagai lokasi pertama uji performa Xforce HEV. Merupakan komplek perumahan terbengkalai yang sangat luas.
Digadang-gadang, daerah dengan banyak ilalang dan rumah kosong tak terawat ini, dulunya merupakan pemukiman untuk karyawan mobil Timor.
Setibanya di salah satu sudut komplek, terdapat trek semi offroad, berupa tanah berdebu dan bebatuan di kanan-kirinya terdapat ilalang setinggi tubuh manusia dewasa. Setelan digeser ke Gravel Mode, injak pedal gas, suspensi mengayun mengikuti trek semi offroad.
Semua penumpang merasakan suspensi ‘kenyal namun tidak binal’, alias suspensi relatif empuk tidak mencelat kesana-kemari. Membuat Xforce HEV tetap stabil, meskipun melibas jalanan rusak.
Ini terjadi lantaran Mitsubishi menyetel ulang damper (khususnya pada fase rebound). Sehingga mobil mampu meredam guncangan di jalan bergelombang dan bebatuan dengan sangat baik, tanpa mengorbankan kestabilan saat bermanuver.
Baca Juga:
800 unit Jetour T1 Terpesan, PHEV Jadi Primadona
Seseruan dengan Mode Berkendara Xforce HEV
Lanjut perjalanan ke lokasi uji performa kedua. Di lokasi ini, Xforce HEV menghadapi sejumlah rintangan, berupa lintasan menikung tajam, aspal tidak rata, dan rute zig-zag.
Setelan mode berkendara diubah-ubah, menyesuaikan rintangan yang ada. Mulai dari Tarmac Mode, meningkatkan respons akselerasi dan kelincahan menikung, untuk performa berkendara lebih sporty di jalan aspal.
Juga mencoba Gravel, Mud, dan EV Priority Mode, dengan masing-masing keunggulannya. Hanya Wet Mode yang tak terpakai, karena lintasan kering kerontang. Sewaktu melahap trek lurus tak terlalu panjang di lokasi, kecepatan tembus dikisaran 150 km per jam.
Hari beranjak senja, rangkaian uji kendara berlangsung tanpa kendala. Saatnya pulang ke Jakarta, antarkan kembali unit-unit yang digunakan. Sisakan kesan positif tentang new Xforce dan Xforce HEV. Tetapi, harganya tidak jauh beda dengan Mitsubishi Destinator ya? (Autogear.id / Alun Segoro)
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda