DKI Jakarta: Tesla mengembangkan konsep teknologi aerodinamika berupa kipas listrik yang mampu menghasilkan gaya tekan ke bawah (downforce) dengan mengisap udara dari bagian bawah mobil. Teknologi ini berpotensi meningkatkan daya cengkeram ban saat berakselerasi, menikung, hingga mengerem, termasuk pada kecepatan rendah.
Mengutip laporan Carscoops, paten bertajuk Electric Fan Car tersebut resmi diberikan pada 29 September. Sistem ini menggunakan saluran udara di bagian bawah kendaraan, dengan lubang masuk di bawah bodi dan saluran keluar yang lebih besar di bagian belakang.
Kipas listrik ditempatkan di dalam saluran untuk menarik udara, sementara sejumlah sirip vertikal dipasang di antara kipas pada bagian keluaran udara.
Konsep tersebut membuka peluang bagi Tesla untuk meningkatkan performa kendaraan melalui pengelolaan aliran udara, bukan hanya dengan menambah tenaga motor listrik. Meski Tesla Roadster menjadi salah satu model yang berpotensi mengadopsi teknologi ini, paten tersebut tidak membatasi penggunaannya pada satu model tertentu.
Cara Kerja Kipas Listrik Tesla untuk Meningkatkan Downforce
Pada mobil performa, downforce merupakan gaya aerodinamika yang menekan kendaraan ke permukaan jalan sehingga membantu meningkatkan daya cengkeram ban. Umumnya, gaya ini dihasilkan melalui komponen seperti sayap belakang, dive plane, dan canard yang memanfaatkan aliran udara saat kendaraan bergerak.
Baca Juga :
Bukan Tesla, Ini Merek Mobil dengan Baterai paling Awet
Teknologi kipas listrik menawarkan pendekatan berbeda. Kipas mengisap udara dari bawah mobil sehingga dapat menghasilkan gaya tekan ke bawah, bahkan ketika kendaraan belum bergerak. Dengan demikian, sistem ini berpotensi membantu meningkatkan grip ketika mobil melewati tikungan lambat maupun saat melakukan pengereman.
Keuntungan lainnya adalah potensi menghasilkan downforce tanpa hambatan udara sebesar yang dapat ditimbulkan sayap berukuran besar. Hal ini menjadi relevan bagi mobil listrik berperforma tinggi yang membutuhkan keseimbangan antara kemampuan aerodinamika dan efisiensi energi.
Namun, efektivitas sistem tersebut tetap bergantung pada desain saluran udara, kemampuan kipas, konsumsi energi, serta integrasinya dengan struktur kendaraan.
Tesla Bukan Produsen Pertama yang Mengembangkan Mobil Kipas
Teknologi yang memanfaatkan kipas untuk menghasilkan downforce bukan konsep baru dalam industri otomotif. Sejumlah produsen dan pengembang mobil performa telah mengembangkan pendekatan serupa dengan konfigurasi yang berbeda.
Salah satu contohnya adalah Chaparral 2J, mobil balap yang digunakan pada musim Can-Am 1970. Mobil tersebut menggunakan dua kipas di bagian belakang yang digerakkan mesin terpisah, serta panel samping untuk membantu menyegel bagian bawah kendaraan. Kombinasi tersebut memungkinkan mobil menghasilkan downforce tanpa bergantung pada kecepatan kendaraan.
Baca Juga :
Elon Musk Dikabarkan Bahas Merger SpaceX dan Tesla
Contoh lainnya adalah Gordon Murray Automotive T.50. Mobil ini menggunakan kipas belakang berdiameter 400 mm yang bekerja bersama sayap aktif dan diffuser untuk mengatur aliran udara. Gordon Murray Automotive mengklaim konfigurasi High Downforce mampu meningkatkan downforce hingga 50 persen.
Sementara itu, McMurtry Spéirling menunjukkan potensi teknologi serupa melalui sistem yang mampu menghasilkan downforce ketika mobil diam. Mobil listrik tersebut bahkan pernah diperlihatkan melaju dalam posisi terbalik sebagai demonstrasi kemampuan daya isap sistemnya.
Pengalaman dari berbagai pengembangan tersebut dapat menjadi referensi bagi Tesla dalam merancang sistem kipas listrik yang sesuai untuk mobil jalan raya.
Tesla Model S dan Model Performa Lain Berpotensi Menggunakan Teknologi Ini
Tesla Roadster berpotensi menjadi model yang cocok untuk memperkenalkan teknologi kipas listrik tersebut. Namun, laporan Carscoops mencatat bahwa ilustrasi dalam dokumen paten justru menampilkan Model S, bukan Roadster.
Hal ini menunjukkan bahwa konsep tersebut tidak harus terbatas pada mobil sport. Model Tesla lain, termasuk varian Plaid dan Performance, juga berpotensi memperoleh manfaat dari peningkatan daya cengkeram.
Baca Juga :
Bukan Tesla, Ini Pabrikan Mobil Listrik Pertama di Dunia
Dengan downforce tambahan, tenaga besar yang dihasilkan sistem penggerak listrik berpeluang disalurkan ke jalan secara lebih efektif. Kemampuan menikung dan pengereman juga berpotensi meningkat apabila sistem bekerja secara optimal.
Meski demikian, penerapan teknologi ini masih menghadapi sejumlah tantangan. Tesla perlu mempertimbangkan kebutuhan energi untuk mengoperasikan kipas, tingkat kebisingan, daya tahan komponen, serta kebutuhan ruang untuk menempatkan sistem di bawah bodi kendaraan.
Paten yang telah diberikan juga tidak otomatis menandakan teknologi tersebut akan diproduksi atau digunakan pada model tertentu. Hingga ada pengumuman resmi mengenai implementasinya, kipas listrik ini masih sebatas konsep pengembangan yang berpotensi meningkatkan performa mobil Tesla.
DKI Jakarta: Tesla mengembangkan konsep
teknologi aerodinamika berupa kipas listrik yang mampu menghasilkan gaya tekan ke bawah (downforce) dengan mengisap udara dari bagian bawah mobil. Teknologi ini berpotensi meningkatkan daya cengkeram ban saat berakselerasi, menikung, hingga mengerem, termasuk pada kecepatan rendah.
Mengutip laporan Carscoops, paten bertajuk Electric Fan Car tersebut resmi diberikan pada 29 September. Sistem ini menggunakan saluran udara di bagian bawah kendaraan, dengan lubang masuk di bawah bodi dan saluran keluar yang lebih besar di bagian belakang.
Kipas listrik ditempatkan di dalam saluran untuk menarik udara, sementara sejumlah sirip vertikal dipasang di antara kipas pada bagian keluaran udara.
Konsep tersebut membuka peluang bagi Tesla untuk meningkatkan performa kendaraan melalui pengelolaan aliran udara, bukan hanya dengan menambah tenaga motor listrik. Meski Tesla Roadster menjadi salah satu model yang berpotensi mengadopsi teknologi ini, paten tersebut tidak membatasi penggunaannya pada satu model tertentu.
Cara Kerja Kipas Listrik Tesla untuk Meningkatkan Downforce
Pada mobil performa, downforce merupakan gaya aerodinamika yang menekan kendaraan ke permukaan jalan sehingga membantu meningkatkan daya cengkeram ban. Umumnya, gaya ini dihasilkan melalui komponen seperti sayap belakang, dive plane, dan canard yang memanfaatkan aliran udara saat kendaraan bergerak.
Teknologi kipas listrik menawarkan pendekatan berbeda. Kipas mengisap udara dari bawah mobil sehingga dapat menghasilkan gaya tekan ke bawah, bahkan ketika kendaraan belum bergerak. Dengan demikian, sistem ini berpotensi membantu meningkatkan grip ketika mobil melewati tikungan lambat maupun saat melakukan pengereman.
Keuntungan lainnya adalah potensi menghasilkan downforce tanpa hambatan udara sebesar yang dapat ditimbulkan sayap berukuran besar. Hal ini menjadi relevan bagi mobil listrik berperforma tinggi yang membutuhkan keseimbangan antara kemampuan aerodinamika dan efisiensi energi.
Namun, efektivitas sistem tersebut tetap bergantung pada desain saluran udara, kemampuan kipas, konsumsi energi, serta integrasinya dengan struktur kendaraan.
Tesla Bukan Produsen Pertama yang Mengembangkan Mobil Kipas
Teknologi yang memanfaatkan kipas untuk menghasilkan downforce bukan konsep baru dalam industri otomotif. Sejumlah produsen dan pengembang mobil performa telah mengembangkan pendekatan serupa dengan konfigurasi yang berbeda.
Salah satu contohnya adalah Chaparral 2J, mobil balap yang digunakan pada musim Can-Am 1970. Mobil tersebut menggunakan dua kipas di bagian belakang yang digerakkan mesin terpisah, serta panel samping untuk membantu menyegel bagian bawah kendaraan. Kombinasi tersebut memungkinkan mobil menghasilkan downforce tanpa bergantung pada kecepatan kendaraan.
Contoh lainnya adalah Gordon Murray Automotive T.50. Mobil ini menggunakan kipas belakang berdiameter 400 mm yang bekerja bersama sayap aktif dan diffuser untuk mengatur aliran udara. Gordon Murray Automotive mengklaim konfigurasi High Downforce mampu meningkatkan downforce hingga 50 persen.
Sementara itu, McMurtry Spéirling menunjukkan potensi teknologi serupa melalui sistem yang mampu menghasilkan downforce ketika mobil diam. Mobil listrik tersebut bahkan pernah diperlihatkan melaju dalam posisi terbalik sebagai demonstrasi kemampuan daya isap sistemnya.
Pengalaman dari berbagai pengembangan tersebut dapat menjadi referensi bagi Tesla dalam merancang sistem kipas listrik yang sesuai untuk mobil jalan raya.
Tesla Model S dan Model Performa Lain Berpotensi Menggunakan Teknologi Ini
Tesla Roadster berpotensi menjadi model yang cocok untuk memperkenalkan teknologi kipas listrik tersebut. Namun, laporan Carscoops mencatat bahwa ilustrasi dalam dokumen paten justru menampilkan Model S, bukan Roadster.
Hal ini menunjukkan bahwa konsep tersebut tidak harus terbatas pada mobil sport. Model Tesla lain, termasuk varian Plaid dan Performance, juga berpotensi memperoleh manfaat dari peningkatan daya cengkeram.
Dengan downforce tambahan, tenaga besar yang dihasilkan sistem penggerak listrik berpeluang disalurkan ke jalan secara lebih efektif. Kemampuan menikung dan pengereman juga berpotensi meningkat apabila sistem bekerja secara optimal.
Meski demikian, penerapan teknologi ini masih menghadapi sejumlah tantangan. Tesla perlu mempertimbangkan kebutuhan energi untuk mengoperasikan kipas, tingkat kebisingan, daya tahan komponen, serta kebutuhan ruang untuk menempatkan sistem di bawah bodi kendaraan.
Paten yang telah diberikan juga tidak otomatis menandakan teknologi tersebut akan diproduksi atau digunakan pada model tertentu. Hingga ada pengumuman resmi mengenai implementasinya, kipas listrik ini masih sebatas konsep pengembangan yang berpotensi meningkatkan performa mobil Tesla.
(UDA)