DKI Jakarta: Kekhawatiran terhadap degradasi baterai masih menjadi salah satu pertimbangan konsumen sebelum membeli mobil listrik atau electric vehicle (EV). Namun, studi terbaru Aviloo menunjukkan baterai sejumlah EV modern mampu mempertahankan sebagian besar kapasitasnya setelah digunakan hingga 150.000 kilometer.
Studi tersebut disebut sebagai salah satu penelitian independen terbesar terhadap baterai mobil listrik bekas. Aviloo telah mempublikasikan lebih dari 500.000 hasil pengujian baterai yang mencakup 20 model EV populer di industri otomotif.
Hasil pengujian menunjukkan sejumlah mobil listrik mengalami penurunan kapasitas baterai kurang dari 5 persen setelah menempuh 150.000 kilometer. Temuan tersebut mengindikasikan bahwa baterai pada sejumlah EV dapat bertahan sepanjang masa penggunaan rata-rata mobil baru.
Hyundai Ioniq 5 Tunjukkan Performa Terbaik di 50.000 Km
Berdasarkan studi Aviloo, Hyundai Ioniq 5 mencatat performa terbaik setelah menempuh 50.000 kilometer. Model tersebut masih mempertahankan 97,1 persen dari kapasitas baterai yang dapat digunakan sejak awal.
Mercedes-Benz CLA menempati posisi berikutnya dengan tingkat retensi baterai 96,6 persen. Kemudian Hyundai Kona EV mencatat 96,3 persen, Audi Q8 e-tron sebesar 95,7 persen, dan BMW i4 sebesar 95,6 persen.
Baca Juga:
Daftar 10 Merek Mobil Terlaris di Indonesia Januari–Agustus 2026
Sementara itu, Volvo XC40 Recharge dan Volkswagen ID.4 sama-sama mempertahankan 95,2 persen kapasitas baterainya setelah menempuh 50.000 kilometer.
Mercedes-Benz CLA Teratas Setelah 150.000 Km
Setelah jarak tempuh meningkat menjadi 150.000 kilometer, Mercedes-Benz CLA menjadi model dengan tingkat kesehatan baterai atau battery health tertinggi dalam studi tersebut.
Mercedes-Benz CLA mencatat battery health sebesar 94 persen. Posisi berikutnya ditempati Hyundai Ioniq 5 dengan 93,6 persen dan Hyundai Kona EV sebesar 93 persen.
Volvo XC40 Recharge berada di posisi selanjutnya dengan 92,8 persen. Kemudian Ford Mustang Mach-E dan Polestar 2 sama-sama mencatat tingkat kesehatan baterai sebesar 92,5 persen.
Dengan demikian, sejumlah model dengan performa terbaik dalam studi tersebut masih mempertahankan lebih dari 92 persen kapasitas baterai setelah digunakan sejauh 150.000 kilometer.
Tesla Model Y dan Model 3 Catat Retensi Lebih Rendah
Tidak seluruh EV dalam penelitian tersebut menunjukkan tingkat retensi baterai yang sama. Tesla Model Y tercatat mempertahankan 90,3 persen kapasitas baterai setelah menempuh 150.000 kilometer.
Baca Juga:
Honda CT125 Dapat Warna Baru, Harga Rp83,5 Juta
Sementara Tesla Model 3 mempertahankan 88,9 persen kapasitas baterainya. Model lain yang mencatat tingkat retensi lebih rendah antara lain Renault Zoe sebesar 87,3 persen, Mini Cooper SE sebesar 87,1 persen, dan Nissan Leaf sebesar 86,7 persen.
Studi tersebut mencatat bahwa model-model dengan hasil lebih rendah itu memiliki ukuran baterai yang relatif kecil.
Kondisi Baterai Setiap Mobil Bisa Berbeda
Aviloo menegaskan hasil penelitian tidak berarti setiap unit Mercedes-Benz CLA akan memiliki battery health 94 persen setelah menempuh 150.000 kilometer. Hal serupa berlaku pada model lain yang diuji.
Penelitian tersebut menggunakan nilai median dari seluruh kendaraan yang diuji. Hasilnya menunjukkan kondisi baterai antara satu unit dan unit lainnya dari model yang sama dapat berbeda hingga 13,5 persen.
Artinya, usia dan jarak tempuh kendaraan saja tidak dapat menjadi satu-satunya acuan untuk menentukan kondisi baterai sebuah mobil listrik bekas. Meski demikian, hasil studi ini menunjukkan perkembangan teknologi baterai EV saat ini memiliki daya tahan yang cukup baik.
DKI Jakarta: Kekhawatiran terhadap degradasi
baterai masih menjadi salah satu pertimbangan konsumen sebelum membeli
mobil listrik atau electric vehicle (EV). Namun, studi terbaru Aviloo menunjukkan baterai sejumlah EV modern mampu mempertahankan sebagian besar kapasitasnya setelah digunakan hingga 150.000 kilometer.
Studi tersebut disebut sebagai salah satu penelitian independen terbesar terhadap baterai mobil listrik bekas. Aviloo telah mempublikasikan lebih dari 500.000 hasil pengujian baterai yang mencakup 20 model EV populer di industri otomotif.
Hasil pengujian menunjukkan sejumlah mobil listrik mengalami penurunan kapasitas baterai kurang dari 5 persen setelah menempuh 150.000 kilometer. Temuan tersebut mengindikasikan bahwa baterai pada sejumlah EV dapat bertahan sepanjang masa penggunaan rata-rata mobil baru.
Hyundai Ioniq 5 Tunjukkan Performa Terbaik di 50.000 Km
Berdasarkan studi Aviloo, Hyundai Ioniq 5 mencatat performa terbaik setelah menempuh 50.000 kilometer. Model tersebut masih mempertahankan 97,1 persen dari kapasitas baterai yang dapat digunakan sejak awal.
Mercedes-Benz CLA menempati posisi berikutnya dengan tingkat retensi baterai 96,6 persen. Kemudian Hyundai Kona EV mencatat 96,3 persen, Audi Q8 e-tron sebesar 95,7 persen, dan BMW i4 sebesar 95,6 persen.
Sementara itu, Volvo XC40 Recharge dan Volkswagen ID.4 sama-sama mempertahankan 95,2 persen kapasitas baterainya setelah menempuh 50.000 kilometer.
Mercedes-Benz CLA Teratas Setelah 150.000 Km
Setelah jarak tempuh meningkat menjadi 150.000 kilometer, Mercedes-Benz CLA menjadi model dengan tingkat kesehatan baterai atau battery health tertinggi dalam studi tersebut.
Mercedes-Benz CLA mencatat battery health sebesar 94 persen. Posisi berikutnya ditempati Hyundai Ioniq 5 dengan 93,6 persen dan Hyundai Kona EV sebesar 93 persen.
Volvo XC40 Recharge berada di posisi selanjutnya dengan 92,8 persen. Kemudian Ford Mustang Mach-E dan Polestar 2 sama-sama mencatat tingkat kesehatan baterai sebesar 92,5 persen.
Dengan demikian, sejumlah model dengan performa terbaik dalam studi tersebut masih mempertahankan lebih dari 92 persen kapasitas baterai setelah digunakan sejauh 150.000 kilometer.
Tesla Model Y dan Model 3 Catat Retensi Lebih Rendah
Tidak seluruh EV dalam penelitian tersebut menunjukkan tingkat retensi baterai yang sama. Tesla Model Y tercatat mempertahankan 90,3 persen kapasitas baterai setelah menempuh 150.000 kilometer.
Sementara Tesla Model 3 mempertahankan 88,9 persen kapasitas baterainya. Model lain yang mencatat tingkat retensi lebih rendah antara lain Renault Zoe sebesar 87,3 persen, Mini Cooper SE sebesar 87,1 persen, dan Nissan Leaf sebesar 86,7 persen.
Studi tersebut mencatat bahwa model-model dengan hasil lebih rendah itu memiliki ukuran baterai yang relatif kecil.
Kondisi Baterai Setiap Mobil Bisa Berbeda
Aviloo menegaskan hasil penelitian tidak berarti setiap unit Mercedes-Benz CLA akan memiliki battery health 94 persen setelah menempuh 150.000 kilometer. Hal serupa berlaku pada model lain yang diuji.
Penelitian tersebut menggunakan nilai median dari seluruh kendaraan yang diuji. Hasilnya menunjukkan kondisi baterai antara satu unit dan unit lainnya dari model yang sama dapat berbeda hingga 13,5 persen.
Artinya, usia dan jarak tempuh kendaraan saja tidak dapat menjadi satu-satunya acuan untuk menentukan kondisi baterai sebuah mobil listrik bekas. Meski demikian, hasil studi ini menunjukkan perkembangan teknologi baterai EV saat ini memiliki daya tahan yang cukup baik.
(UDA)