Sebanyak 24 atlet pria dan wanita Red Bull Cliff Diving akan mengawali kompetisi di Air Terjun Kroya, Buleleng. Untuk pertama kali dalam sejarah, para atlet akan meloncat secara akrobatik dari pohon setinggi 20–21 meter ke kolam alami sedalam lima meter. Selepas itu, laga puncak akan digelar di Nusa Penida, di mana para atlet akan meloncat dari Tebing T-Rex Pantai Kelingking ke perairan Samudera Hindia yang berombak besar.
Dalam kolaborasi ini, TNI AL membawa wawasan mendalam tentang karakteristik perairan Indonesia, dari pembacaan arus, pola dan dinamika cuaca, pemahaman kondisi unik di kedua lokasi, hingga dukungan personel terlatih di lapangan menjadi bagian dari sinergi untuk menciptakan kondisi ideal bagi atlet yang bertanding di lingkungan alam yang menuntut presisi tinggi.
“TNI AL menyambut baik kerja sama ini. Dengan pengamanan dan dukungan operasional yang optimal dari TNI Angkatan Laut, Indonesia dapat menunjukkan kesiapan dan profesionalisme dalam menjadi tuan rumah perhelatan olahraga dunia,” ujar Kepala Staf Angkatan Laut (KSAL) Laksamana TNI Dr. Muhammad Ali.
TNI AL akan mengerahkan armada dan personel gabungan dari sejumlah satuan. Salah satunya, para penyelam TNI AL akan terlibat langsung di dalam tim rescue diver bersama dengan tim Red Bull Blue & Silver. Mereka akan bersiaga penuh untuk memastikan keselamatan para atlet.
Sinergi keahlian inilah yang menjadi kunci bagi tim Red Bull Blue & Silver untuk memastikan persiapan yang matang. Dengan demikian, memastikan setiap atlet dapat menampilkan performa terbaik mereka di alam terbuka secara aman, mengingat mereka harus melompat dari ketinggian 21 meter (wanita) dan 27 meter (pria), hampir tiga kali lipat lebih tinggi dari loncat indah Olimpiade.
Baca juga: Jaden Ivey Dipecat Chicago Bulls Gegara Pernyataan Kontroversial di Media Sosial
Di luar aspek teknis dan keselamatan, Red Bull Cliff Diving juga menggandeng dengan Pemerintah Kabupaten Klungkung dan Buleleng di bawah koordinasi Pemerintah Provinsi Bali untuk memastikan acara ini memberikan dampak positif berkelanjutan. Gubernur Bali I Wayan Koster meyakini, kejuaraan olahraga ekstrem dunia ini akan membawa efek berganda terhadap Pulau Dewata.“Merupakan suatu kehormatan bagi Bali menjadi tuan rumah ajang bergengsi dunia, Red Bull Cliff Diving World Series. Acara ini bukan hanya menampilkan keberanian dan ketangguhan para atlet kelas dunia, tetapi juga memperkenalkan keindahan alam Bali yang luar biasa kepada masyarakat global," kata Koster.
"Kami percaya bahwa Bali adalah tempat di mana harmoni antara manusia, alam, dan budaya dapat dirasakan secara nyata. Melalui ajang ini, kami ingin menunjukkan bahwa Bali siap menjadi panggung bagi acara internasional yang berkualitas, berkelas, dan berkelanjutan," imbuh Koster.
"Kami menyambut seluruh atlet, penyelenggara, dan pengunjung dari berbagai negara untuk merasakan keunikan Bali, bukan hanya sebagai destinasi, tetapi sebagai pengalaman yang tak terlupakan. Mari kita jaga Bali bersama, dengan menghormati alam dan budaya yang menjadi jiwa Pulau Dewata,” tutup Koster.
Selain Indonesia, Red Bull Cliff Diving World Series 2026 akan lanjut diselenggarakan di lima negara lain. Usai Bali, para atlet akan berlaga di pesisir Kota St. Petersburg, Florida, Amerika Serikat (5–6 Juni). Kemudian, laga ketiga akan digelar di Opera House Kopenhagen, Denmark (27 Juni), yang menjulang megah di tengah pelabuhan bersejarah.
Paruh kedua musim 2026 akan dibuka di Mostar, Bosnia & Herzegovina (31 Juli–1 Agustus), di mana para atlet akan meloncat ke Sungai Neretva dari Jembatan Stari Most yang merupakan situs warisan dunia UNESCO. Lalu, laga kelima akan dilangsungkan di Polignano a Mare, Italia (25–27 September), sebuah kota tua di bibir tebing yang sudah 12 kali menjadi tuan rumah ajang ini. Setelahnya, Red Bull Cliff Diving World Series 2026 akan ditutup dengan pertandingan di tengah bentang gurun pasir di Muscat, Oman (12–14 November).
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News