Zaskia memastikan tempat di podium dunia setelah memenangkan pertandingan perebutan medali perunggu pada Sabtu (17/10). Keberhasilan ini menjadi pencapaian penting bagi Indonesia sekaligus membuktikan bahwa atlet-atlet muda Tanah Air mampu bersaing dengan karateka terbaik dari berbagai negara.
Perjalanan Zaskia dimulai pada babak eliminasi, Kamis (15/10). Ia membuka pertandingan dengan menampilkan kata Kanku Sho dan mengalahkan Aurelija Ivanova (Latvia) dengan skor 5–0. Zaskia kemudian menundukkan Isabella Sanchez (Amerika Serikat) 5–0, Chiara Brandauer (Portugal) 4–1, dan Belen Guzman Vergara (Republik Dominika) 4–1.
Pada semifinal, Zaskia harus mengakui keunggulan Wakana Ito (Jepang) dengan skor 0–5. Namun, ia bangkit pada pertandingan perebutan medali perunggu dan berhasil mengalahkan Rocío Castro López (Spanyol) untuk mengamankan podium dunia.
Perjuangan 11 Karateka Indonesia di Polandia
Indonesia mengirimkan 11 karateka terbaik dari kelompok usia kadet, junior, dan U21. Selain keberhasilan Zaskia, sejumlah atlet Indonesia yang juga ikut bertanding pada kegiatan ini adalah
Kategori U21:
- Muhammad Abimeyzhar Nugraha (Kata Putra).
- Luvena Milano Setiyaka (Kumite Putri −61 kg)
- Tiara Sandi Almahyra (Kumite Putri −68 kg)
- Variel Alexandro Putra Irawan (Kumite Putra −84 kg):
Kategori Kadet:
- Zahadiah Al Muhammadi (Kata Putri).
- I Putu Gustin Mahesa (Kumite Putra −57 kg):
Kategori Junior:
- Farras Ijlal Khairy (Kata Putra)
- Felicx Parlindungan Sinaga (Kumite Putra −55 kg)
- Muhammad Ghathaf Aria Suwardi (Kumite Putra −68 kg)
- Raisa Syahmina Qistina Rahadian (Kumite Putri −53 kg):
- Zaskia Putri Salurante (Kata Putri)
Head of Delegation: Bersyukur dengan TC Singkat, Indonesia Tetap Raih Medali Dunia
Manajer Tim Nasional Karate Indonesia sekaligus Head of Delegation, Harmen Saputra, menyampaikan rasa bangga dan syukur atas perjuangan seluruh atlet yang mewakili Indonesia dalam kejuaraan dunia tersebut.
“Kami tentu sangat bangga dengan hasil yang dicapai tim Indonesia, khususnya Zaskia Putri Salurante yang berhasil meraih medali perunggu dunia di kategori Junior Female Kata. Ini merupakan hasil yang sangat berarti bagi kontingen Indonesia,” ujar Harmen Saputra.
Harmen menjelaskan bahwa persiapan tim nasional menghadapi kejuaraan dunia kali ini tergolong singkat. Para atlet menjalani pemusatan latihan atau Training Camp (TC) selama kurang lebih dua minggu sebelum bertolak ke Polandia.
“Dengan persiapan TC yang relatif singkat, sekitar dua minggu, kami tentu sangat bersyukur masih bisa membawa pulang medali dari kejuaraan dunia. Ini merupakan hasil kerja keras atlet, pelatih, dan seluruh tim yang telah berjuang maksimal,” lanjutnya.
Dalam kejuaraan tersebut, tim nasional Indonesia didampingi oleh jajaran pelatih yang terdiri atas Jintar Simanjuntak, Srunita Sari, dan Aswar. Ketiganya turut berperan dalam persiapan, pendampingan, serta pengarahan teknis atlet selama kejuaraan berlangsung.
Meskipun demikian, Harmen mengakui bahwa masih terdapat sejumlah aspek yang harus menjadi perhatian, khususnya pada nomor kumite yang belum berhasil mempersembahkan medali.
“Untuk kategori kumite, kali ini memang belum menjadi rezeki kita. Namun, hasil ini harus menjadi bahan evaluasi bersama. Kita melihat banyak atlet dari negara lain memiliki keunggulan postur tubuh yang lebih tinggi serta jangkauan serangan yang lebih panjang. Ini merupakan tantangan yang harus kita jawab melalui peningkatan strategi, teknik, kecepatan, pengaturan jarak, dan kualitas latihan,” jelas Harmen.
Prestasi Zaskia Bukan Hasil Semalam
Sementara itu, Wakil Ketua Umum Pengurus Besar Federasi Olahraga Karate-Do Indonesia (PB FORKI) Bidang Luar Negeri, Ricky Muchtar, menegaskan bahwa keberhasilan Zaskia bukanlah prestasi yang datang secara instan.
Menurutnya, perjalanan panjang Zaskia, yang akrab disapa Keong, merupakan contoh nyata pentingnya pembinaan atlet secara konsisten, berkelanjutan, dan melalui pengalaman kompetisi internasional.
Baca Juga :
Profil Agung Sanistyarani, Karateka Indonesia Peraih Medali Perunggu di Asian Games 2026
“Prestasi Keong hari ini tidak terjadi dalam semalam. Ini adalah hasil dari proses pembinaan yang panjang. Kami sudah beberapa kali memberikan kesempatan kepada Keong untuk mengikuti berbagai kejuaraan internasional yang diselenggarakan World Karate Federation,” ujar Ricky Muchtar.
Ricky mengenang bahwa pada awal perjalanan internasionalnya, ketika masih bertanding di kelompok usia kadet, Zaskia belum berhasil membawa pulang medali dari kejuaraan dunia yang diikutinya.
Namun, hasil tersebut tidak menyurutkan komitmen untuk terus memberikan kesempatan bertanding dan mengembangkan kemampuannya.
“Ketika pertama kali mengikuti kejuaraan dunia pada masa kadet, Keong belum berhasil meraih medali. Tetapi kami tidak menyerah. Kami terus mendorong Keong untuk mengikuti berbagai event WKF, baik dengan pembiayaan mandiri maupun melalui dukungan perguruan. Karena kami percaya, untuk menghasilkan atlet kelas dunia, mereka harus diberikan kesempatan dan pengalaman bertanding di level dunia secara konsisten,” jelas Ricky.
Tiga Emas WKF Youth League Menjadi Fondasi Prestasi Dunia
Kesempatan bertanding secara konsisten tersebut akhirnya membuahkan hasil. Sebelum merebut medali perunggu Kejuaraan Dunia Junior 2026, Zaskia telah mencatatkan prestasi penting dengan meraih tiga medali emas dalam rangkaian WKF Youth League, salah satu kompetisi internasional bergengsi bagi karateka muda.
Ketiga medali emas tersebut diraih melalui:
- 2025: Medali emas WKF Youth League Fujairah, Uni Emirat Arab (Cadet Kata Female).
- 2026: Medali emas WKF Youth League Fujairah, Uni Emirat Arab (Junior Kata Female).
- 2026: Medali emas WKF Youth League Manila, Filipina (Junior Kata Female).
Tiga gelar tersebut menjadi bukti perkembangan kualitas teknik, konsistensi penampilan, dan kematangan mental bertanding Zaskia di kancah internasional.
Ricky menilai keberhasilan tersebut merupakan hasil nyata dari proses pembinaan dan pengalaman bertanding yang telah dijalani Zaskia selama beberapa tahun.
Ia menekankan bahwa keberhasilan Zaskia juga tidak terlepas dari kontribusi banyak pihak, mulai dari keluarga, pelatih, perguruan, hingga seluruh pihak yang selama ini mendukung perjalanan kariernya.
Pengalaman Internasional Menjadi Kunci Pembinaan Atlet Masa Depan
Ricky juga berharap prestasi Zaskia dapat menjadi pembelajaran bagi pengembangan karate Indonesia, khususnya dalam mempersiapkan atlet usia muda menuju level senior.
Menurutnya, pengalaman mengikuti kompetisi internasional harus dipandang sebagai investasi jangka panjang, bukan semata-mata berdasarkan keberhasilan membawa pulang medali dalam satu pertandingan.
“Kita tidak bisa mengharapkan seorang atlet langsung menjadi juara dunia hanya dengan satu atau dua kali mengikuti pertandingan internasional. Mereka membutuhkan proses, pengalaman, kesempatan untuk kalah, belajar, memperbaiki diri, dan kembali bertanding. Itulah bagian penting dari pembinaan,” tegas Ricky.
Ia berharap semakin banyak karateka muda Indonesia yang mendapatkan kesempatan mengikuti kejuaraan internasional secara berkelanjutan sehingga mampu meningkatkan daya saing karate nasional.
Medali perunggu Zaskia Putri Salurante di Polandia menjadi pencapaian penting sekaligus pengingat bahwa pembinaan berkelanjutan, pengalaman bertanding internasional, dan dukungan berbagai pihak merupakan fondasi utama dalam melahirkan atlet karate Indonesia yang mampu bersaing di tingkat dunia.
(Muhammad Zaidan Rizky)