Kekalahan 1-3 dari Jepang bukan sekadar hasil buruk di atas kertas. Bagi skuad Garuda Muda asuhan Kurniawan Dwi Yulianto, kekalahan ini mengunci nasib mereka di posisi paling bawah Grup B, meski secara poin mereka tidak sendirian di sana.
Indonesia, China, dan Qatar sama-sama mengumpulkan tiga poin. Namun berdasarkan regulasi AFC, selisih gol menjadi pembeda pertama saat poin setara.
China yang mencatatkan produktivitas gol lebih tinggi berhasil finis sebagai runner-up dan mendampingi Jepang melaju ke babak perempat final. Indonesia tertinggal di posisi terbawah karena kalah dalam kriteria tersebut.
Gagal ke Piala Dunia U-17 2027
Dampak dari kegagalan lolos fase grup bukan hanya soal kompetisi yang berhenti di sini. Ada konsekuensi jangka panjang yang jauh lebih besar: Indonesia dipastikan absen dari Piala Dunia U-17 2027.
Sesuai regulasi turnamen, hanya dua tim terbaik dari masing-masing grup Piala Asia U-17 2026 yang berhak mendapatkan tiket menuju Piala Dunia U-17 2027. Indonesia yang finis di posisi keempat Grup B tidak memenuhi syarat tersebut, sehingga ambisi tampil di pentas dunia harus ditunda ke kesempatan berikutnya.
Absennya Indonesia dari Piala Dunia U-17 2027 merupakan pukulan ganda. Selain kehilangan pengalaman berharga di pentas global, para pemain muda berusia belasan tahun ini kehilangan momen untuk berkembang melawan tim-tim terbaik di dunia di level usia mereka.
Dulu Juara Grup, Kini Juru Kunci
Yang membuat kegagalan ini terasa lebih menyakitkan adalah kontrasnya dengan pencapaian satu tahun lalu. Pada Piala Asia U-17 2025, Indonesia hadir dan pergi sebagai salah satu tim terbaik di fase grup, sebuah kisah sukses yang kini tampak seperti mimpi yang jauh.
Pada Piala Asia U-17 2025, Indonesia tampil impresif di Grup C dengan menyapu bersih tiga kemenangan. Garuda Muda mengalahkan Korea Selatan, Yaman, dan Afganistan, serta mencetak total tujuh gol sepanjang fase grup. Mereka finis sebagai juara grup, sebuah pencapaian terbaik yang pernah diraih Indonesia di turnamen ini dalam beberapa tahun terakhir.
Perbandingan antara dua edisi ini menggarisbawahi betapa sulitnya menjaga konsistensi di level kompetisi Asia. Grup B edisi 2026 yang dihuni Jepang, salah satu kekuatan terbesar Asia, memang jauh lebih berat dibandingkan grup yang dihadapi tahun lalu.
Namun demikian, perbedaan hasil yang begitu drastis tetap menjadi bahan evaluasi serius bagi tim pelatih dan federasi.
(Ahmad Raul)
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News