Pengamat sepak bola, Ronny Pangemanan. (Foto: Dok. Medcom.id)
Pengamat sepak bola, Ronny Pangemanan. (Foto: Dok. Medcom.id)

Pengamat Ungkap Alasan Timnas U-17 Sulit Bersaing di Asia Meski Lolos Sekalipun

Alfa Mandalika • 13 Mei 2026 12:59
Ringkasnya gini..
  • Pengamat sepak bola Ronny Pangemanan menilai kegagalan Timnas Indonesia U-17 di Piala Asia U-17 sangat disayangkan karena Garuda Muda sebenarnya sempat memiliki peluang besar untuk lolos ke fase berikutnya.
  • Menurutnya, kemenangan atas China membuka jalan bagi Indonesia untuk menjaga asa di turnamen.
  • Namun, hasil negatif saat menghadapi Qatar menjadi titik krusial yang akhirnya menentukan nasib tim.
Jakarta: Pengamat sepak bola Ronny Pangemanan menilai kegagalan Timnas Indonesia U-17 di Piala Asia U-17 sangat disayangkan karena Garuda Muda sebenarnya sempat memiliki peluang besar untuk lolos ke fase berikutnya.
 
Menurutnya, kemenangan atas China membuka jalan bagi Indonesia untuk menjaga asa di turnamen. Namun, hasil negatif saat menghadapi Qatar menjadi titik krusial yang akhirnya menentukan nasib tim.
 
“Sangat disayangkan karena sebenarnya kita punya peluang lolos setelah menang dari China. Masalahnya kita tidak bisa menang lawan Qatar karena kuncinya memang di pertandingan itu. Imbang saja sebenarnya sudah bagus, tetapi justru kalah,” ujar Ronny kepada Medcom.id, Rabu 15 Mei 2026.

Ropan, sapaan karib Ronny juga menyoroti momen penting ketika Indonesia mendapatkan peluang emas melalui penalti saat lawan Qatar. Namun kesempatan itu gagal dimaksimalkan oleh Matthew Baker.
 
“Peluang terbuka setelah ada penalti, tetapi gagal diselesaikan oleh Matthew Baker,” lanjutnya.
 
Meski begitu, ia menilai secara kualitas skuat Timnas Indonesia U-17 saat ini masih berada di bawah generasi sebelumnya yang ditangani Nova Arianto dan tampil di ajang Piala Dunia U-17.
 
“Terlepas dari itu, memang tim ini secara kualitas masih jauh dibanding Timnas U-17 yang dipegang Nova Arianto saat terakhir ikut Piala Dunia. Jadi kalaupun lolos dengan materi pemain seperti sekarang, kita akan sulit bersaing,” katanya.
 
Lebih lanjut, ia menilai kontribusi pemain diaspora sangat membantu performa Garuda Muda sepanjang turnamen. Kehadiran Mike Rajasa, Matthew Baker, dan Noha Pohan disebut menjadi faktor penting yang membuat Indonesia tetap kompetitif.
 
“Kita masih tertolong di Piala Asia kali ini karena diperkuat tiga pemain diaspora, yakni Mike Rajasa, Baker, dan Pohan. Kalau tiga pemain itu tidak ada, kita bisa jadi bulan-bulanan dan mungkin tidak akan menang lawan China,” papar Ropan.
 
Pernyataan tersebut sekaligus menjadi gambaran bahwa pembinaan usia muda Indonesia masih membutuhkan peningkatan, terutama dalam hal kualitas pemain lokal dan kedalaman skuad agar mampu bersaing secara konsisten di level Asia.

Kompetisi usia muda sangat penting

Ropan juga mengatakan bahwa jika ingin memiliki timnas muda yang berkualitas, perlu ditunjang dengan kompetisi terukur setiap tahun.
 
"Kompetisi sangat penting untuk diputar setiap tahun di level U-15 dan U-17. Tanpa kompetisi usia muda, sulit didapatkan tim muda yang baik," pungkas Ropan.
 
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(ASM)




TERKAIT

BERITA LAINNYA

social
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan