Ketua Komite Wasit FIFA, Pierluigi Collina, menegaskan bahwa otoritas sepak bola berkomitmen penuh untuk membersihkan permainan ini semaksimal mungkin.
“Kami berusaha semaksimal mungkin agar pertandingan berjalan dengan adil,” kata Collina, seperti dikutip melalui The Athletic.
Guna memastikan implementasi berjalan mulus, sebanyak 170 wasit yang bertugas di Piala Dunia 2026 dijadwalkan mengikuti seminar akhir persiapan di Miami. Sosialisasi intensif juga telah diberikan kepada seluruh pelatih dan pemain dari 48 negara peserta.
Berikut ada enam perubahan aturan penting yang akan diterapkan pada Piala Dunia 2026:
1. Larangan Menutup Mulut Saat Konfrontasi
Pemain yang kedapatan menutupi mulutnya dengan tangan saat terlibat dalam situasi perselisihan atau konfrontasi kini terancam langsung diganjar kartu merah. Aturan ketat ini diberlakukan untuk mencegah adanya ucapan bernada rasis, diskriminatif, atau penghinaan yang disembunyikan dari wasit.
Pada April lalu, gelandang Benfica Gianluca Prestianni dijatuhi larangan bermain enam pertandingan oleh UEFA karena melontarkan komentar homofobik kepada winger Real Madrid, Vinicius Junior, dalam laga Liga Champions pada Februari.
Vinicius sempat menuduh Prestianni melakukan pelecehan rasial. Tuduhan itu dibantah sang pemain Argentina yang saat itu menutupi mulutnya dengan menarik jersey ke atas.
Baca Juga :
Daftar Skuad Uruguay untuk Piala Dunia 2026: Suarez Dicoret, Valverde dan Darwin Nunez Masuk
Meski demikian, para pemain tetap diperbolehkan menutup mulut jika berbicara normal dengan rekan setim atau lawan dalam situasi kondusif.
"Jika itu hanya percakapan biasa, mereka tetap boleh melakukannya tanpa masalah," jelas Collina.
“Namun, ketika situasinya konfrontatif, ceritanya berbeda. Menutupi mulut berarti Anda berpotensi melakukan sesuatu yang sangat salah,” sambungnya.
2. Sanksi Tegas Aksi Boikot Keluar Lapangan
Perubahan lain muncul setelah insiden final Piala Afrika Januari lalu ketika Senegal meninggalkan lapangan saat menghadapi Maroko.
Saat itu Senegal memprotes penalti kontroversial yang diberikan kepada tuan rumah pada masa injury time. Pelatih Pape Thiaw bahkan mendorong para pemainnya meninggalkan lapangan sehingga pertandingan sempat terhenti selama 16 menit.
Meski Senegal akhirnya menang lewat adu penalti, hasil pertandingan kemudian dibatalkan oleh Konfederasi Sepak Bola Afrika (CAF) yang menyatakan aksi tersebut sebagai pelanggaran dan mengubah hasil menjadi kekalahan 0-3.
Aksi meninggalkan lapangan sebagai bentuk protes terhadap keputusan pengadil kini akan langsung dihukum kartu merah. Sanksi serupa juga berlaku bagi ofisial tim di bangku cadangan yang menghasut pemainnya untuk mogok bertanding.
Jika aksi ini menyebabkan laga terhenti atau batal, tim yang bersangkutan berpotensi dinyatakan kalah secara otomatis.
3. Perluasan Cakupan Intervensi VAR
Untuk pertama kalinya sejak diperkenalkan pada 2017, teknologi Video Assistant Referee (VAR) mendapatkan kewenangan baru untuk mengoreksi tiga situasi spesifik:
- Membatalkan keputusan tendangan sudut (corner kick) yang keliru, dengan catatan koreksi dilakukan cepat sebelum sepak pojok dieksekusi.
- Mengoreksi kartu kuning kedua yang jelas-jelas salah.
- Memperbaiki kesalahan identitas pemain yang menerima kartu kuning atau merah.
Collina menegaskan bahwa perubahan keputusan hanya dilakukan apabila VAR dapat memberikan koreksi sebelum tendangan sudut dieksekusi tanpa menghambat jalannya pertandingan.
"Mereka biasanya tidak langsung mengambil tendangan sudut karena para pemain bertahan masih harus kembali ke kotak penalti. Jadi masih ada waktu untuk melakukan koreksi," papar Collina.
Namun, VAR ditegaskan tidak memiliki kuasa untuk mengubah keputusan goal kick yang seharusnya menjadi tendangan sudut.
4. Aturan Mengulur Waktu Diperketat
IFAB menilai aturan delapan detik bagi kiper untuk melepaskan bola yang mulai diterapkan musim ini telah berjalan sukses. Mereka kini menerapkan hitungan mundur lima detik bagi kiper yang sengaja memperlambat permainan.
Jika melanggar, tim lawan akan dihadiahi tendangan sudut. Aturan serupa berlaku untuk lemparan ke dalam, di mana keterlambatan akan membuat hak lemparan berpindah ke tim lawan.
Selain itu, pemain yang diganti wajib keluar lapangan dalam waktu maksimal 10 detik. Jika melanggar, pemain pengganti baru diizinkan masuk setelah laga berjalan satu menit pada penghentian permainan berikutnya.
5. Pemain Cedera Wajib Menepi Satu Menit
Pemain yang menerima perawatan medis di dalam lapangan kini diwajibkan berada di luar area permainan selama satu menit setelah laga dimulai kembali. Aturan ini bermaksud memotong taktik mengulur waktu berkedok cedera medis. Namun, terdapat pengecualian untuk situasi tertentu seperti:
- Cedera pada penjaga gawang atau benturan yang melibatkan kiper.
- Cedera kepala atau indikasi gegar otak.
- Cedera akibat pelanggaran berat yang menghasilkan kartu kuning atau merah bagi lawan.
Menariknya, belum ada aturan baru untuk mengatasi praktik sejumlah kiper yang berpura-pura cedera guna memberi kesempatan kepada pelatih untuk memberikan instruksi tambahan kepada tim.
"Kami belum menemukan solusi yang disepakati semua pihak," ujar Collina.
Namun, ia menegaskan bahwa wasit akan bertindak lebih proaktif dan tidak akan membiarkan kedua tim berkumpul di area bangku cadangan ketika kiper sedang mendapat perawatan.
6. Gol dari Pelanggaran Tak Lagi Lolos
VAR kini dibekali kewenangan untuk meninjau pelanggaran yang dilakukan oleh tim penyerang sebelum bola aktif dalam situasi tendangan bebas atau tendangan sudut.
Jika pelanggaran tersebut terbukti terjadi sebelum bola bergulir dan berkontribusi langsung pada terciptanya gol atau penalti, wasit akan memerintahkan agar set piece diulang sembari memberikan sanksi disiplin yang sesuai.
Sebelumnya, aturan tidak memungkinkan hukuman diberikan terhadap pelanggaran yang terjadi sebelum bola hidup.
Collina menilai hal tersebut merupakan celah aturan yang perlu ditutup. Ia mencontohkan blok ilegal Adam Wharton terhadap Uruguay yang berujung pada gol Ben White untuk Inggris pada Maret lalu sebagai kasus yang ingin dihilangkan melalui aturan baru ini.
"Saya rasa tidak ada yang senang melihat gol tercipta dari sebuah pelanggaran hanya karena VAR tidak dapat campur tangan akibat keterbatasan protokol," kata Collina.
FIFA Terapkan Cooling Break Khusus
Mempertimbangkan faktor cuaca dan suhu ekstrem yang diperkirakan akan menyelimuti wilayah Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko, FIFA juga memperkenalkan kebijakan cooling break baru.
Jeda pendinginan ini akan diberikan selama tiga menit tepat pada menit ke-22 di setiap babak di seluruh pertandingan Piala Dunia 2026 guna menjaga kondisi fisik para pemain.
(Ahmad Raul)
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News