Steve Bruce. (Foto: AFP/Hector Retamal)
Steve Bruce. (Foto: AFP/Hector Retamal)

5 Pesepak Bola Hebat yang Tidak Pernah Dipanggil Timnas

Friko Simanjuntak • 06 Agustus 2022 11:10
Jakarta: Bermain untuk tim nasional sepak bola negara merupakan impian bagi setiap pemain. Dengan bermain untuk negaranya, seorang pemain bisa dianggap layaknya pahlawan.
 
Jika bermain untuk timnas saja sudah menjadi suatu pencapaian besar buat seorang pemain, apalagi mereka berhasil memenangi sebuah turnamen internasional, sebut saja Piala Dunia atau Piala Eropa.
 
Maka dari itu, banyak pemain berjuang keras menunjukkan permainan terbaik di klub masing-masing, agar bisa mendapatkan panggilan untuk membela timnas.

Akan tetapi, tidak semua pemain berhasil mewujudkan mimpinya membela timnas. Bukan karena permainan mereka yang biasa-biasa saja. Tapi, banyak juga pemain hebat yang tidak pernah mendapatkan kesempatan membela timnas sepanjang kariernya.
 
Berikut, 5 pemain hebat yang tidak pernah membela Timnas:

5. Jimmy Case (Inggris)

Jimmy Case adalah bagian dari skuat Liverpool yang mendominasi kompetisi Inggris dan Eropa pada era 70-an. Menjadi bagian integral dari klub yang begitu dominan, ada peluang besar bahwa Case akan mendapatkan panggilan dari Timnas Inggris. Sayangnya, kesempatan itu tidak pernah datang pada sang gelandang.
 
Sepanjang kariernya, Case tidak pernah dilirik pelatih Timnas Inggris. Dari enam pelatih, mulai dari Alf Ramsey yang mengantar Inggris meraih satu-satunya trofi Piala Dunia pada 1966, hingga Terry Venables (1994-1996), Case tak kunjung mendapatkan kesempatan mengenakan jersey Timnas Inggris.
 
Nasib berbeda justru dialami tiga rekan Case di Liverpool kala itu, yakni Terry McDermott, Ian Callaghan, dan Alan Kennedy yang merupakan bagian dari skuat Tiga Singa. Hal ini kontan mengundang kritik dari pelatih Liverpool saat itu Bob Paisley.
 
"Itu (absennya Case) memaksa tiga (pemain Liverpool) lainnya melakukan pekerjaan yang tidak biasa mereka lakukan saat Case absen," seloroh Paisley kala itu.
 
Meski tidak pernah memperkuat Timnas Inggris, Case punya prestasi yang cukup mentereng. Sepanjang kariernya (1973-1996), Case memenangkan 4 gelar Liga Inggris, 3 Piala Eropa (Liga Champions) dan satu trofi UEFA Cup.

4. Dario Hubner (Italia)

Hubner memenuhi syarat untuk mewakili Italia dan Jerman, mengingat ayahnya adalah orang Jerman tetapi ia lahir dan besar di Italia. Pada akhirnya, Hubner lebih memilih sebagai warga negara Italia.
 
Di level klub, Hubner dikenal sebagai salah satu predator ulung dan salah satu yang terbaik di Italia pada masa itu. Sejak memulai karier profesionalnya pada 1987 hingga pensiun pada 2011, Hubner sudah mengoleksi 217 gol dalam 436 caps.
 
Berbagai penghargaan individu pun berhasil ditorehkannya. Ia berhasil menyabet trofi sepatu emas (topskorer) di tiga kasta Liga Italia yang dimainkannya. Ia bahkan masih bisa meraih sepatu emas di usia 35 tahun, sebuah rekor yang bertahan cukup lama sebelum dipecahkan Luca Toni.
 
Sayangnya, selama 24 tahun kariernya, Hubner tidak pernah merasakan kebanggaan mengenakan jersey Timnas Italia. Striker kurus yang namanya meroket bersama Brescia dan Piacenza ini tidak pernah sekalipun mendapatkan panggilan dari Timnas Italia.
 
Namanya selalu berada di daftar tunggu, kalah bersaing dengan pemain tulen Italia macam Filippo Inzaghi, Cristian Vieri, Francesco Totti dan Alessandro Del Piero.
 
Tidak diketahui apa yang menjadi dasar pertimbangan para pelatih Italia kala itu, tidak memanggil Hubner dalam skuatnya. Namun, yang mungkin bisa jadi rujukan adalah catatan buruk Hubner terkait perangainya di lapangan. Hubner memang dikenal pemain yang temperamental. Selama kariernya, ia telah 10 kali mendapatkan kartu merah.
 
 

3. Paolo Di Canio (Italia)

Orang Italia kedua dalam daftar in adalah Paolo Di Canio. Tidak seperti rekan senegaranya Dario Hubner yang meroket bersama tim-tim papan tengah, Paolo Di Canio justru menghabiskan dua dekade lebih kariernya bermain di klub-klub besar.
 
Pria yang dikenal sebagai salah satu legenda Lazio itu pernah memperkuat klub top macam Juventus, Napoli, AC Milan, dan West Ham United. Ia membantu Lazio promosi ke Serie A pada 1987/1988, menjuarai UEFA Cup bersama Juventus (1992/1993) dan merebut scudetto pertamanya bersama AC Milan di musim 1995/1996. Selama 23 tahun kariernya, ia memainkan 670 laga dan mencetak 149 gol.
 
Bicara soal kecintaannya terhadap negaranya, Di Canio bisa dibilang tidak ada lawannya. Dia adalah seorang fasis yang membuaat tato Benito Mussolini di punggungnya. Bisa dibayangkan, betapa bangganya dia jika mendapatkan kesempatan mengenakan jersey Gli Azurri.
 
Sayangnya, kesempatan itu tidak pernah datang. Sama seperti Hubner, Di Canio juga selalu menjadi pilihan kedua atau ketiga dalam daftar pilihan para pelatih Timnas kala itu. Sepanjang kariernya pada 1985-2008, Di Canio hanya memperkuat Timnas Italia U-21 dan tim B Italia.

2. Bert Trautmann (Jerman)

Seorang sersan Nazi selama Perang Dunia II yang kemudian menjadi tawanan perang setelah Jerman ditaklukkan, Bert Trautmann adalah penjaga gawang terhebat yang tidak pernah membela timnas.
 
Memulai karier pada 1948, Bert Trautmann yang berkarier di Inggris sempat mendapat penolakan ketika Manchester City merekrutnya dari St Helens Town pada 1949. Sebanyak 20 ribu fans pemegang tiket musiman City yang tidak suka dengan rekam jejaknya sebagai mantan sersan Nazi, bahkan sampai mengancam akan memboikot klub sebagai protes.
 
Namun Trautmann segera memenangkan hati para pendukung dengan penampilannya yang berani, bahkan memenangkan penghargaan Pemain Terbaik Inggris pada tahun 1956. Ia jadi penjaga gawang pertama yang berhasil mendapatkan penghargaan tersebut.
 
Salah satu momen heroik Trautmann untuk City adalah ketika City menjuarai Piala FA musim 1955/1956. Dalam kondisi cedera usai lehernya dihantam lutut pemain Birmingham, Trautmann tetap melanjutkan pertandingan (karena saat itu belum diperbolehkan pergantian pemain) di sisa 15 menit dan berhasil membantu City mempertahankan keunggulan 3-1.
 
Ketidakberuntungan Trautmann di level timnas bukan karena ada kiper yang lebih baik darinya, tapi karena aturan Federasi Sepak Bola Jerman kala itu yang melarang non-domestik mewakili negara mereka saat itu. Alhasil, Trautmann yang berkarier di Inggris tidak pernah mendapatkan kesempatan untuk membela Timnas Jerman.

1. Steve Bruce (Inggris)

Steve Bruce mungkin jadi satu-satunya pemain yang harus "menderita" akibat pengambilan keputusan yang buruk dari pelatih-pelatih Inggris di era 80 hingga 90an.
 
Legenda Manchester United ini sejatinya adalah pemain yang memiliki semua kompetensi untuk masuk dalam skuat Timnas Inggris. Sebagai seorang bek, ia adalah pemain yang lugas dan tangguh di garis pertahanan.
 
Ban kapten MU yang melingkar di lengannya adalah salah satu buktinya. Selama hampir satu dekade berkarier di Old Trafford, Bruce memimpin MU meraih 3 gelar Liga Inggris, 3 Piala FA dan juga trofi Piala Eropa (Liga Champions).
 
Apesnya, semua prestasi yang ia torehkan selama dua dekade (1979-1999) seakan tidak berarti buat enam pelatih Inggris yang berkuasa pada periode tersebut. Mulai dari Bobby Robson hingga Glenn Hoddle tidak pernah memanggil Bruce untuk memperkuat Timnas Inggris. Bruce bahkan kalah bersaing dengan pemain yang memiliki rekam jejak biasa saja seperti, Carlton Palmer yang memiliki 18 caps bersama Timnas Inggris pada periode yang sama.
 
Mungkin hal ini jugalah yang membuat Timnas Inggris gagal menambah koleksi trofi juaranya di era 80-90an. Bahkan, skuat Tiga Singa sempat mencatatkan salah satu catatan terburuknya pada 1994 di mana mereka gagal lolos ke Piala Dunia.
 
Jika mengambil analogi yang normal dalam pemilihan seorang pemain untuk memperkuat timnas, salah satunya adalah jumlah penampilan pemain tersebut di level klub. Sayang beribu sayang, Bruce sebagai salah satu pemain dengan penampilan terbanyak (929) justru tidak pernah mendapatkan panggilan memperkuat Timnas Inggris hingga ia pensiun pada 1999.
 
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(ASM)
  • Halaman :
  • 1
  • 2
Read All




TERKAIT

BERITA LAINNYA

social
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan