Pemain berusia 35 tahun tersebut menilai aturan tersebut berpotensi menimbulkan perlakuan yang tidak setara bagi pendukung tim peserta.
Sorotan tajam ini mencuat setelah Senegal melakoni laga perdana babak penyisihan grup melawan Prancis di MetLife Stadium, yang berakhir dengan kekalahan Singa Teranga dengan skor 1-3.
Mantan bek tangguh Chelsea tersebut menyayangkan kebijakan penangguhan izin masuk yang membuat tribune stadion sepi dari dentuman khas pendukung orisinal Senegal.
“Pihak federasi sebenarnya sudah melakukan berbagai upaya maksimal agar orang tua maupun keluarga dekat kami bisa hadir di sini. Namun, memang benar ada banyak pendukung yang sama sekali tidak bisa terbang ke Amerika,” ujarnya seperti dikutip melalui The Athletic.
“Saya rasa setiap tim seharusnya berhak membawa orang-orang (suporter) mereka. Jadi, saya tidak mengerti mengapa orang-orang dari Afrika tidak bisa memilikinya di sini,” lanjutnya.
Empat Negara Terdampak Travel Ban
Permasalahan ini bermula dari kebijakan larangan perjalanan parsial (travel ban) yang ditandatangani Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, pada Desember lalu. Kebijakan tersebut berdampak pada 4 negara peserta Piala Dunia 2026, yaitu Senegal, Pantai Gading, Iran, dan Haiti.
Aturan itu menangguhkan penerbitan visa kunjungan non-imigran, termasuk visa B1/B2 untuk keperluan bisnis dan pariwisata yang biasanya digunakan suporter untuk menghadiri pertandingan secara langsung.
Baca Juga :
Prediksi Tunisia vs Jepang: Debut Herve Renard Diuji, Samurai Biru Selangkah Lagi ke Fase Gugur
Meski demikian, pemerintah AS memberikan pengecualian bagi atlet, staf pelatih, diplomat resmi, dan keluarga inti peserta Piala Dunia. Namun, kebijakan tersebut tetap membatasi akses bagi suporter umum dari negara-negara yang terdampak.
Berdasarkan dokumen Gedung Putih, kebijakan ini diterapkan karena tingginya tingkat pelanggaran masa tinggal visa (overstay) di sejumlah negara. Senegal tercatat memiliki tingkat overstay sebesar 4,30 persen untuk visa kunjungan B1/B2 dan 13,07 persen untuk visa pelajar.
Fokus Membela Negara
Meski mengaku kecewa dengan keputusan tersebut, Kalidou Koulibaly memilih untuk tidak terlalu jauh menanggapi persoalan politik dan lebih fokus pada perjuangan tim di lapangan.
“Saya tidak ingin berbicara mengenai ranah politik atau hal-hal seperti itu. Saya hanya ingin menyuarakan tentang sepak bola, karena sepak bola adalah milik semua orang,” tegas Koulibaly.
“Harapan saya situasi ini bisa membaik. Namun yang terpenting, kami akan tetap bermain mati-matian demi rakyat kami di rumah,” pungkasnya.
*Halo sobat Medcom, buat kalian yang suka nonton bola dan nebak skor pertandingan, yuk ikutan lomba tebak skor Medcom.id yang akan hadir setiap hari dari fase grup hingga final. Nah, kita udah siapin hadiah menarik senilai jutaan rupiah buat kalian yang paling banyak menebak skor pertandingan dengan benar. So, tunggu apa lagi, yuk, daftar di sini.
(Ahmad Raul)
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda