Pernyataan tersebut disampaikan Tebas dalam wawancara dengan media Italia La Gazzetta dello Sport, Selasa (21/7), menyusul berakhirnya Piala Dunia 2026 di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko.
Menurut Tebas, kebijakan FIFA yang terus menambah jumlah peserta turnamen internasional justru membebani kalender pertandingan dan mengancam keberlangsungan kompetisi domestik.
"Meningkatkan jumlah tim nasional tidak masuk akal. Industri sepak bola bukan hanya Piala Dunia. Memang itu turnamen paling penting, tetapi tidak semuanya harus berputar di sekitar Piala Dunia," ujar Tebas.
Minta Infantino Mundur
Tebas menilai masa kepemimpinan Infantino sudah seharusnya berakhir. Namun, ia mengakui peluang pergantian presiden FIFA masih kecil karena kuatnya dukungan dari berbagai federasi anggota."Dalam pandangan saya, ya, waktunya sudah habis. Namun dia mendapat dukungan dari sistem dan federasi, sehingga tidak banyak yang bisa dilakukan. Tidak ada kandidat oposisi karena tidak ada yang ingin maju hanya untuk kalah," katanya.
Ia juga menilai banyak pihak sebenarnya tidak setuju dengan kepemimpinan Infantino, tetapi memilih diam.
"Saya mendengar banyak orang menentang Infantino. Mereka mengatakannya, tetapi tidak melakukan apa pun. Saya tidak tahu mana yang lebih buruk, diam atau ikut berkompromi, karena mereka yang diam tahu betul kerusakan yang sedang dialami sepak bola," lanjut Tebas.
Tolak Wacana Piala Dunia 64 Tim
Salah satu kebijakan yang paling dikritik Tebas adalah usulan memperluas Piala Dunia 2030 menjadi 64 peserta. Wacana tersebut sebelumnya diajukan secara resmi oleh konfederasi sepak bola Amerika Selatan (CONMEBOL).Menurut Tebas, kompetisi nasional merupakan fondasi utama industri sepak bola yang menciptakan puluhan ribu lapangan pekerjaan.
"Kompetisi nasional adalah penopang olahraga ini. Mereka sedang menghancurkan industri sepak bola yang menghasilkan puluhan ribu pekerjaan demi sebuah turnamen yang hanya berlangsung sekitar 40 hari dan hanya melibatkan sebagian kecil pemain," ujarnya.
Kritik Aturan Piala Dunia 2026
Selain format turnamen, Tebas juga menyoroti sejumlah aturan baru yang diterapkan FIFA selama Piala Dunia 2026, termasuk cooling break atau jeda hidrasi di tengah pertandingan serta durasi jeda babak pertama final yang diperpanjang menjadi 27 menit untuk kepentingan pertunjukan paruh waktu.Menurutnya, kebijakan tersebut lebih mengutamakan kepentingan komersial dibanding kualitas pertandingan.
"FIFA mengatur semuanya sesuai keinginannya sendiri, bukan demi sepak bola. Cooling break itu hanya alasan. Kami juga menerapkannya di LaLiga, tetapi hanya jika cuaca benar-benar panas. Di beberapa stadion Piala Dunia bahkan sudah dilengkapi pendingin udara. Itu hanya jeda untuk iklan," kata Tebas.
Desakan Reformasi Tata Kelola FIFA
Kritik terhadap FIFA juga datang dari organisasi Football Supporters Europe (FSE) yang mewakili kelompok suporter di Eropa.FSE menilai penyelenggaraan Piala Dunia 2026 lebih mengutamakan aspek hiburan dan komersialisasi dibanding pengalaman suporter.
Dalam pernyataan resminya, organisasi tersebut mendesak reformasi tata kelola FIFA agar proses pengambilan keputusan kembali melibatkan liga, klub, pemain, dan pendukung sepak bola.
FSE juga menyoroti tingginya harga tiket, mahalnya biaya transportasi, minimnya transparansi komunikasi, serta berbagai kebijakan yang dinilai merusak identitas sepak bola.
Sementara itu, Gianni Infantino telah menyatakan akan kembali mencalonkan diri sebagai Presiden FIFA untuk periode 2027-2031. Pemilihan dijadwalkan berlangsung pada 18 Maret 2027 di Maroko.
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda