Sejarah Piala Dunia 1978, Mario Kempes, dan kontroversi junta militer yang mewarnai jalannya turnamen. (Ilustrasi: ChatGPT)
Sejarah Piala Dunia 1978, Mario Kempes, dan kontroversi junta militer yang mewarnai jalannya turnamen. (Ilustrasi: ChatGPT)

Sejarah Piala Dunia 1978: Kontroversi, Hujan Konfeti, dan Nuansa Politik Argentina

Friko Simanjuntak • 10 Juni 2026 17:49
Ringkasnya gini..
  • Piala Dunia 1978 diwarnai dengan intrik politik menyusul terjadinya kudeta militer berdarah yang melahirkan pemimpin diktator.
  • Kemenangan 6-0 Argentina atas Peru menjadi sorotan karena dinilai ada campur tangan politik dalam pertandingan tersebut.
  • Diluar segala kontroversinya, Piala Dunia 1978 menyajikan visual yang sangat berkesan, salah satunya adalah hujan konfeti di lapangan.
Medcom.id - Jika ada edisi Piala Dunia yang paling memicu perdebatan sengit antara pencapaian olahraga dan intrik politik di luar lapangan, jawabannya adalah Piala Dunia 1978 Argentina. Kenapa?
 
Edisi kesebelas ini bergulir di tengah atmosfer yang sangat kontras: keindahan visual hujan konfeti putih yang memenuhi stadion, berbanding terbalik dengan bayang-bayang kelam rezim junta militer yang sedang berkuasa di negara tersebut.
 
Di atas lapangan, Argentina sukses mengukir sejarah dengan meraih gelar juara dunia untuk pertama kalinya. Namun, perjalanan mereka menuju podium juara diwarnai oleh drama ketegangan yang awet dibicarakan hingga hari ini.
 

Sepak Bola di Bawah Cengkeraman Junta Militer


Jadi, dua tahun sebelum turnamen dimulai, sebuah kudeta militer berdarah terjadi di Argentina, menempatkan Jenderal Jorge Rafael Videla sebagai pemimpin diktator. Mirip dengan apa yang dilakukan Benito Mussolini pada Piala Dunia 1934, Videla melihat turnamen ini sebagai panggung propaganda sempurna untuk menutupi pelanggaran HAM di negaranya dan menunjukkan citra Argentina yang damai serta teratur kepada dunia.
 
Ketegangan politik ini membuat beberapa bintang dunia enggan datang. Sang maestro Belanda, Johan Cruyff, secara mengejutkan memilih absen dari turnamen ini. Selama puluhan tahun publik mengira ia memboikot rezim militer Argentina, meskipun di era modern Cruyff akhirnya mengungkapkan bahwa alasan utamanya adalah trauma psikologis akibat percobaan penculikan keluarganya di Barcelona beberapa bulan sebelum turnamen.
 

Misteri 6 Gol ke Gawang Peru


Kontroversi terbesar sepanjang sejarah Piala Dunia modern meledak di babak fase grup kedua. Format turnamen saat itu tidak menggunakan semifinal sistem gugur, melainkan ada dua babak grup. Fase grup berisikan 16 tim, dan fase grup kedua beranggotan delapan tim. Nah, di fase grup kedua ini, tim dengan poin tertinggi di masing-masing grup akan langsung bersua di babak final.

Argentina berada di grup yang sama dengan musuh bebuyutannya, Brasil di fase grup kedua. Pada laga penungkas, Brasil menang 3-1 atas Polandia di sore hari. Hasil itu memaksa Argentina wajib menang dengan selisih minimal 4 gol melawan Peru di laga malam hari jika ingin lolos ke final mengangkangi Brasil.
 
Tugas itu awalnya dinilai mustahil karena Peru memiliki pertahanan yang sangat kokoh sepanjang turnamen. Namun, apa yang terjadi di lapangan Stadion Rosario mengejutkan dunia.
 
Pertahanan Peru -yang hanya kebobolan dua gol di fase grup pertama- mendadak terlihat sangat rapuh dan pasif. Argentina pun dengan mudah mencabik-cabik gawang Peru. Los Albiceleste menang telak 6-0 dan berhasil mengkudeta posisi Brasil untuk memimpin Grup 2 dan lolos ke final melawan Belanda.
 
Kemenangan janggal ini memicu protes keras dari kubu Brasil yang menuduh adanya pengaturan skor (match-fixing). Berbagai rumor konspirasi tingkat tinggi berembus, mulai dari isu kesepakatan pengiriman ribuan ton gandum gratis dari Argentina ke Peru, hingga pembekuan aset keuangan para pemain Peru oleh pemerintah diktator. Namun, hingga detik ini, tuduhan tersebut tidak pernah terbukti secara hukum.
 

Hujan Konfeti dan Gaya Rambut Mario Kempes


Di luar segala kontroversinya, Piala Dunia 1978 menyuguhkan salah satu pemandangan visual paling estetis dan ikonik dalam sejarah pertelevisian dunia. Setiap kali Timnas Argentina memasuki lapangan, puluhan ribu suporter di Stadion Monumental, Buenos Aires, akan melemparkan jutaan potongan kertas putih (papelitos) ke udara.
 
Stadion seketika tertutup oleh hujan konfeti putih yang tampak luar biasa indah di layar kaca, menciptakan atmosfer magis yang belum pernah terlihat di stadion-stadion Eropa.
 
Panggung final mempertemukan Argentina dengan Belanda yang kembali berhasil menembus final tanpa Cruyff. Di sinilah pahlawan sejati Argentina lahir: Mario Kempes. Penyerang berambut gondrong ikonik yang dijuluki El Matador ini tampil kesurupan sepanjang laga final yang berjalan sangat keras dan penuh kontak fisik.
 

Gelar Pertama yang Melegakan


Kempes membuka keran gol Argentina pada menit ke-38. Namun, Belanda menolak menyerah dan menyamakan kedudukan lewat gol Dick Nanninga pada menit ke-82 dan memaksa laga berlanjut ke babak tambahan menyusul hasil 1-1 di waktu normal.
 
Pada babak perpanjangan waktu, Argentina yang didukung penuh oleh gemuruh suporternya menggila. Mario Kempes kembali jadi aktor utama. Aksi individunya melewati dua bek Belanda membawa Argentina kembali unggul di menit ke-105.
 
Pesta Argentina akhir benar-benar terjadi setelah Daniel Bertoni mencetak gol pada menit ke-115 sekaligus membawa Argentina menaklukkan Belanda 3-1.
 
Saat peluit panjang berbunyi, kapten Daniel Passarella mengangkat tinggi-tinggi FIFA World Cup Trophy di tengah lapangan yang tertutup karpet kertas putih. Belanda yang kecewa dengan kepemimpinan wasit dan provokasi pemain Argentina memilih menolak hadir dalam upacara penyerahan medali.
 
Argentina akhirnya mendapatkan bintang pertama di jersey mereka, sebuah pencapaian olahraga luar biasa yang sayangnya akan selalu berdampingan dalam buku sejarah dengan catatan kelam politik zamannya.
 

Fakta Piala Dunia 1978


Tuan Rumah: Argentina
Juara: Argentina (Gelar ke-1)
Runner-up: Belanda
Top Scorer: Mario Kempes (Argentina) – 6 Gol
 
Pencetak Gol ke-1000: Penyerang Belanda, Rob Rensenbrink, mencatatkan namanya dalam sejarah sebagai pencetak gol ke-1000 sepanjang sejarah Piala Dunia lewat titik penalti saat melawan Skotlandia di fase grup.
 
Fakta Unik: Prancis terpaksa bertanding menggunakan jersi garis-garis hijau-putih milik klub lokal Argentina, Club Atlético Kimberley, saat melawan Hungaria di fase grup. Hal ini terjadi karena kedua tim sama-sama membawa jersey putih akibat salah paham regulasi seragam dari FIFA.
 
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(ACF)




TERKAIT

BERITA LAINNYA

social
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan