Rodri, mengangkat trofi bersama rekan-rekan setimnya setelah memenangkan pertandingan final Piala Dunia 2026 antara Spanyol dan Argentina di Stadion New York/New Jersey di East Rutherford pada 19 Juli 2026. (Foto oleh Odd Andersen / AFP)
Rodri, mengangkat trofi bersama rekan-rekan setimnya setelah memenangkan pertandingan final Piala Dunia 2026 antara Spanyol dan Argentina di Stadion New York/New Jersey di East Rutherford pada 19 Juli 2026. (Foto oleh Odd Andersen / AFP)

Piala Dunia 2026

Piala Dunia Tidak Dimenangkan dalam 90 Menit

Alfa Mandalika • 20 Juli 2026 17:51
Ringkasnya gini..
  • Final Piala Dunia 2026 menjadi pengingat bahwa sebuah gelar juara tidak ditentukan hanya dalam 90 menit pertandingan.
  • . Keberhasilan Spanyol menaklukkan Argentina merupakan buah dari sistem pembinaan sepak bola yang konsisten selama bertahun-tahun, mulai dari akademi, pelatih, hingga filosofi permainan yang diwariskan lintas generasi.
  • Pada akhirnya, kemenangan Spanyol membuktikan bahwa yang diwariskan bukan sekadar pemain hebat, melainkan sebuah sistem yang mampu terus melahirkan generasi baru.
Jakarta: Mengapa ada negara yang tidak pernah kehabisan pemain hebat, sementara negara lain terus sibuk mencari pemain hebat berikutnya? Pertanyaan itu justru muncul di kepala saya ketika final Piala Dunia 2026 berakhir.
 
Selama lebih dari seratus menit, Spanyol terus mengetuk pintu. Argentina bertahan dengan keberanian yang membuat final itu tetap hidup. Emiliano Martinez berkali-kali memperpanjang harapan. Stadion seolah menunggu satu momen yang tak kunjung datang.
 
Lalu, pada babak tambahan, kebuntuan itu akhirnya pecah. Dunia mengingat satu nama dan satu gol. Saya justru mengingat sesuatu yang sama sekali berbeda.
 
Saya mengingat betapa gol itu datang terlalu terlambat untuk disebut lahir pada malam itu. Sebab gol tersebut telah mulai diciptakan bertahun-tahun sebelumnya. Namun dunia hampir selalu hanya melihat hasil akhirnya, jarang melihat pekerjaan panjang yang membuat hasil itu menjadi mungkin.
 
Barangkali karena mata kita memang lebih mudah terpukau oleh sesuatu yang telah selesai. Sebuah gedung, lukisan, bahkan trofi. Kita menikmati hasil akhirnya tanpa pernah bertanya berapa banyak tangan yang pernah menyentuhnya.
 
Mungkin karena itulah saya selalu menyukai mosaik. Tidak ada satu keping pun yang, jika berdiri sendiri, layak disebut karya seni. Warnanya berbeda dan bentuknya tidak sama. Sebagian bahkan tampak seperti salah tempat. Tetapi ketika setiap keping menemukan posisinya, perlahan-lahan lahirlah sebuah gambar yang utuh.
 
Semakin lama saya memikirkan final malam itu, semakin saya merasa kemenangan tidak pernah benar-benar dimulai di stadion. Selama ini kita terlalu dekat melihat sepak bola. Kita menghafal nama pemain, menghitung gol, memperdebatkan siapa yang paling berbakat, juga sibuk mencari siapa penerus siapa.
 
Padahal sebuah bangsa tidak pernah dibangun oleh satu pemain. Tetapi dibangun oleh kepingan-kepingan kecil yang hampir tidak pernah mendapat tepuk tangan.
   
 
Ketika Spanyol menjuarai Piala Eropa 2008, Piala Dunia 2010, lalu kembali mengangkat Piala Eropa pada 2012, dunia menyebut mereka sebagai generasi emas. Sulit membantahnya.
 
Ada nama besar seperti Xavi, Andres Iniesta, Iker Casillas, Sergio Ramos, Carles Puyol, Sergio Busquets, David Villa, dan nama besar lainnya. Nama-nama itu seperti muncul dalam waktu yang sama, lalu mengubah cara dunia memandang sepak bola. Tetapi waktu tidak pernah berhenti. Mereka pensiun, sebagian menjadi pelatih, sebagian tinggal dalam kenangan.
 
Biasanya, di situlah sebuah negara mulai kembali dari awal. Tetapi Spanyol tidak. Enam belas tahun kemudian, mereka kembali berdiri di puncak dunia.
 
Sesungguhnya, final itu bukanlah awal dari cerita. Dua tahun sebelumnya, Spanyol telah lebih dahulu menaklukkan Eropa. Gelar Piala Eropa 2024 menjadi tanda bahwa sebuah generasi baru sedang menemukan bentuknya. Maka ketika mereka akhirnya mengangkat Piala Dunia 2026, dunia sesungguhnya sedang menyaksikan sempurnanya kisah yang telah mulai mereka tulis di Berlin.
 
Kali ini ada Rodri, Pedri, Lamine Yamal, Nico Williams, Pau Cubarsi. Nama-namanya berubah tetapi cara mereka memahami permainan terasa tetap sama.
 
Di situlah saya mulai curiga, mungkin yang selama ini kita sebut generasi emas bukanlah penyebab melainkan akibat. Sebab generasi tidak bisa diwariskan yang bisa diwariskan adalah cara melahirkan generasi.
 
Peradaban selalu tumbuh jauh dari sorotan. Bayangkan seorang pelatih di sebuah kota kecil. Pagi itu ia kembali meminta anak-anak mengulang cara menerima bola, sekali, dua kali, puluhan kali, hingga ratusan kali. Anak-anak itu mungkin menganggap latihan tersebut membosankan. Karena tidak ada sorot lensa kamera, tidak ada penonton, belum ada trofi, belum ada kumandang lagu kebangsaan.
 
 
Barangkali sang pelatih sendiri tidak pernah membayangkan bahwa dua puluh tahun kemudian, salah satu anak yang ia latih akan ikut mengangkat trofi Piala Dunia. Tetapi sejarah memang sering bekerja seperti itu, tidak lahir dari satu peristiwa besar. Namun tumbuh dari ribuan kebiasaan kecil yang dilakukan tanpa lelah.
 
Keberhasilan Spanyol tidak pernah dimulai dari ruang ganti tim nasional. Melainkan dimulai di lapangan-lapangan kecil. Di akademi, sekolah sepak bola dan di tangan para pelatih yang lebih sering membangun karakter daripada mengejar kemenangan akhir pekan.
 
Selama bertahun-tahun, anak-anak Spanyol belajar membaca ruang sebelum menggiring bola. Belajar mengambil keputusan sebelum menerima umpan. Belajar bahwa permainan selalu lebih besar daripada dirinya sendiri.
 
Dunia sering menyederhanakan semuanya menjadi satu nama, La Masia. Padahal La Masia hanyalah satu keping. Di Bilbao ada Lezama. Di San Sebastián ada Zubieta. Di kota-kota lain, akademi-akademi bekerja dalam kesunyian yang sama.
 
Pengaruh Johan Cruyff memang berawal dari Barcelona. Tetapi gagasannya tidak berhenti di Barcelona. Tetapi menjelma menjadi bahasa sepak bola Spanyol.
 
Menguasai ruang lebih penting daripada sekadar menguasai bola. Mengambil keputusan lebih penting daripada sekadar memamerkan teknik. Permainan kolektif selalu lebih besar daripada kehebatan individu. Karena itu, ketika satu generasi pergi, generasi berikutnya tidak pernah benar-benar memulai dari nol.
 
Ada ironi yang menarik, Spanyol bukan negeri yang dibangun dari keseragaman. Sebut saja ada Catalunya, Basque, Galicia, dan Andalusia. Masing-masing memiliki sejarah, bahasa, dan kebanggaannya sendiri.
 
Perbedaan itu tidak pernah benar-benar hilang. Yang berubah adalah cara mereka menyusunnya. Barangkali, seperti mosaik. Setiap keping tetap menjadi dirinya sendiri. Namun semuanya rela mengambil tempat agar gambar yang lebih besar dapat terlihat.
 
Federasi adalah satu keping. Akademi adalah satu keping. Pelatih adalah satu keping. Orang tua adalah satu keping. Anak-anak yang setiap sore mengejar bola adalah keping yang lain. Tidak ada satu keping pun yang lebih penting daripada gambar yang sedang mereka bangun bersama.
 
Barangkali selama ini kita keliru memahami kemenangan. Kita mengira kemenangan lahir dari sebelas pemain terbaik. Padahal yang sesungguhnya saling berhadapan adalah cara setiap bangsa membangun masa depannya.
 
Sembilan puluh menit hanyalah panggung tempat sebuah bangsa mempertanggungjawabkan pekerjaan yang telah mereka lakukan selama puluhan tahun. Ketika semuanya selesai, sejarah mencatat bahwa gol kemenangan itu dicetak oleh Ferran Torres. Namun sejarah yang lebih panjang sesungguhnya sedang mencatat sesuatu yang lain, kemenangan itu telah mulai dibangun jauh sebelum Ferran Torres menyentuh bola pada malam final.
 
Rodri memang mengangkat trofi. Tetapi keduanya terlalu besar untuk disebut sebagai milik satu orang. Di dalamnya ada tangan seorang pelatih yang tidak pernah dikenal. Ada orang tua yang bertahun-tahun menunggu di pinggir lapangan. Ada ribuan pagi yang dingin. Ada jutaan latihan yang terasa biasa. Pula ada keputusan-keputusan kecil yang tidak pernah menjadi berita.
 
Di awal tulisan ini saya bertanya mengapa ada negara yang tidak pernah kehabisan pemain hebat. Mungkin sekarang saya menemukan jawabannya. Sebab yang mereka wariskan bukanlah pemain, bukan pula sebuah generasi. Yang mereka wariskan adalah cara agar setiap anak yang datang kemudian tahu di mana tempatnya.
 
Dan ketika satu orang meninggalkan lapangan, selalu ada orang lain yang datang tanpa perlu mengubah gambar besarnya.
 
(N.D. Santoso)

Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda
(ASM)




TERKAIT

BERITA LAINNYA

social
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan