Wildanshah Wildanshah Komisaris Perkumpulan Warga Muda

Potret Keluarga Muda Era Industri 4.0

Wildanshah 22 November 2018 19:03 WIB
internetkeluargaRevolusi Industri 4.0
Potret Keluarga Muda Era Industri 4.0
ILUSTRASI: Medcom.id/M. Rizal
SEJAK Keputusan Presiden (Keppres) Nomor 17 Tahun 2018 tentang Kelompok Kerja Nasional Penguatan Kapasitas Pemimpin Indonesia dalam Rangka Making Indonesia 4.0 diterbitkan, revolusi industri 4.0 menjadi pembahasan yang paling menyita perhatian stakeholder di Indonesia. 

Industri generasi keempat ini mendistrupsi perilaku individu bahkan institusi secara kolektif. Industri 4.0 memiliki potensi luar biasa dalam merombak aspek industri sekaligus kehidupan manusia. Mulai dari urusan negara hingga bangsa.


Namun, revolusi industri 4.0 perlu diiringi dengan ekosistem yang didukung oleh sumberdaya manusia yang maju dan adaptif terhadap perkembangan teknologi. Karena menurut pendiri Forum Ekonomi Dunia, Klaus Schwab,  revolusi industri 4.0 dapat berdampak buruk bagi pemerintahan dan masyarakat yang tidak adaptif terhadap kecepatan perkembangan teknologi. 

Kegagapan manusia terhadap teknologi hanya akan menciptakan kesenjangan sosial, ketimpangan ekonomi, dan masalah-masalah baru di tengah masyarakat.

Perlu diingat bersama, otomatisasi dan digitalisasi tidak hanya berdampak pada sektor pembangunan ekonomi, tapi juga berdampak langsung pada proses pembangunan keluarga.

Nyatanya, tanpa disadari kehadiran industri 4.0 telah membentuk perilaku keluarga, mulai dari persoalan pola asuh, hak, kewajiban, tanggungjawab dan pembangian peran di dalam maupun di luar rumah. 

Ini selaras dengan pendapat, sosiolog mazhab Chicago, Wiliam F.Ogburn,  yang menurutnya industrialisasi dan teknologi yang mengkonstruksi keluarga, bukan sebaliknya. Dengan demikian, penting bagi kita semua untuk berusaha memahami dampak industri 4.0 terhadap keluarga, terutama pada kalangan generasi milenial. Sebuah generasi yang tumbuh seiring dengan kemajuan teknologi.

Saat ini, milenial sudah tidak remaja lagi, sebagian dari mereka mulai tumbuh dewasa dan mulai membangun rumah tangga. Ada yang baru melamar kekasih atau malah sudah beranak-pinak. Intinya, mereka memiliki tujuan yang sama; ingin berkeluarga.

Generasi ini, memiliki kebutuhan, harapan, cita-cita, dan tantangan berbeda dalam membangun keluarga jika dibandingkan dengan orangtua mereka sendiri.

Hingga sekarang,  kajian, riset dan literatur terkait dampak industri 4.0  terhadap keluarga masih sangat minim. Ini menunjukan, bahwa pembangunan keluarga  masih belum menjadi isu strategis yang layak diperjuangkan bagi semua pihak. 

Di saat bersamaan, , pemerintah dan industri justru luput memperhatikan variabel pembangunan keluarga dalam industri 4.0. Industri dan pemerintah hanya melihat generasi milenial sebagai tenaga kerja sekaligus calon konsumen dalam mendongkrak pertumbuhan ekonomi Indonesia bukan sebagai individu yang nantinya akan membangun keluarga. 

Padahal keluarga merupakan “center of development”, sebuah unit terkecil yang penting untuk dikuatkan jika ingin memastikan keberhasilan pembangunan sebuah negara di era industri 4.0. Maka dari itu, negara perlu menempatkan tugas menciptakan sumber daya manusia kualitas sebagai tugas utama keluarga. 

Keluarga  Industri 4.0

Di kalangan generasi milenial, konsep keluarga kecil dengan dua anak semakin diikuti. Hal ini dikarenakan generasi milenial sangat ingin mengejar karier. Selain itu, teknologi mampu membuka peluang berkarier yang sama dan setara bagi pria maupun wanita. Hal tersebut tidak lepas dari peran media dan budaya populer yang membentuk gaya hidup generasi milenial sekarang.

Kemajuan teknologi informasi seperti media sosial dan aplikasi kencan, membuka kemungkinan  pernikahan lintas suku, agama, ras dan budaya di Indonesia. Maka tidak heran, makin banyak keluarga multietnis yang lahir di era industri 4.0. ini menandai akan ada tumbuhnya nilai dan norma  baru dalam kehidupan berkeluarga masa mendatang.

Di saat bersamaan, keluarga muda akan semakin sulit mengidentifikasi diri dengan asal-usul pertalian keluarga karena pencampuran garis keturunan tersebut. 

Derasnya arus informasi sekaligus membuka keran globalisasi kebudayaan yang begitu masif, yang membentuk  paradigma baru anak muda memandang keluarga. Pilihan melajang, menikah tanpa anak, menjadi LGBT mulai tumbuh dibenak generasi milenial. Kelahiran anak di luar nikah pun semakin marak dan direspons secara “permisif” generasi milenial.

Tak dapat dipungkiri teknologi digital mempengaruhi cara masyarakat terutama keluarga muda dalam  membangun keluarga. Mereka dengan mudah mencari referensi kebutuhan keluarga, menerapkan pola asuh atau menyewa bantuan jasa rumah tangga melalui berbagai aplikasi.

Secara tidak langsung, teknologi membuat keluarga muda semakin instan, konsumtif, dan sulit menabung. Bahkan, untuk membayar cicilan rumah.

Bagai pisau bermata dua, teknologi tidak hanya membantu keluarga tetapi juga dapat merusaknya. Buktinya, pencari nafkah keluarga menjadi rentan karena kebijakan downsizing perusahaan, media sosial menjadi salah satu faktor terkuat penyebab perselingkuhan dan perceraian, anggota keluarga teralienasi dengan keluarganya sendiri karena gawai, orangtua dan anak kecanduan gim daring, mama muda yang rentan terjebat kredit online, suami yang terjerat judi maya, kids zaman now yang terpapar pornografi,  paham radikalisme dan potensi cybercrime lainnya.

Efek negatif ini hanya sebagian kecil dari permasalah besar lainnya yang sedang dihadapi seluruh keluarga di Indonesia. Lambat laun peran dan fungsi keluarga akan semakin diuji reputasinya di hadapan kemajuan teknologi industri 4.0 .

Kalau tidak dikawal negara, kemajuan teknologi industri 4.0 dapat merusak pembangunan keluarga di Indonesia.  Akibatnya, keluarga menjadi rentan, tercerai berai, dan tak berdaya.  Jika ini terjadi, jangankan meningkatkan angka pertumbuhan ekonomi, meningkatkan kualitas SDM saja sudah dipastikan sulit.

Karena bagaimana pun, keluarga berkualitas adalah tulang punggung dari sebuah bangsa yang besar...[]

*Segala gagasan dan opini yang ada dalam kanal ini adalah tanggung jawab penulis seperti tertera, tidak menjadi bagian tanggung jawab redaksi Medcom.ID. Redaksi menerima kiriman opini dari Anda melalui kolom@medcom.id





(SBH)

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id