Petugas menghitung pecahan Dolar AS di salah satu gerai penukaran mata uang asing di Jakarta. (foto: Antara/Rivan Awal Lingga).
Petugas menghitung pecahan Dolar AS di salah satu gerai penukaran mata uang asing di Jakarta. (foto: Antara/Rivan Awal Lingga). ()

The Fed dan Dag Dig Dug Rupiah

25 Agustus 2015 19:32
Ronny P Sasmita, Analis Ekonomi Global di Financeroll Indonesia, Jakarta
 

 
THE US economy is like a bird with a clipped wing, ekonomi AS ibarat seekor burung dengan sayap yang terpotong, demikian ditulis oleh Jefrey Bartash, reporter Wall Street Journal (23/8). Alasannya tentu sudah sangat jelas. Di saat perekonomian Amerika mulai memperlihatkan tanda-tanda perbaikan yang meyakinkan, faktanya selalu ada saja sesuatu yang menghalanginya untuk terus merangkak lebih tinggi.
 
Sebelum saya sampai pada poin teknis yang dimaksud penulisnya, pikiran saya sudah langsung tertuju pada kebijakan mengejutkan dari People's Bank of China (PBOC) yang mendevaluasi mata uang yuan beberapa waktu lalu sebagai reaksi sepihak untuk merespons tanda-tanda perlambatan ekonomi Tiongkok. Tak butuh waktu lama setelah itu, ekspektasi kenaikan tingkat suku bunga perbankan Amerika (The Fed's Rate) pelan-pelan merosot tajam. Pasar ekuitas Amerika terhempas pada sesi penutupan minggu lalu dengan Dow Jones terkoreksi secara intraday sekitar 530,94 basis poin atau 3,1%. Itu ialah penurunan intraday paling drastis dalam empat tahun terakhir. Mengendurnya ekspektasi kenaikan tingkat suku bunga The Fed itu juga bisa dilihat dari sisi yang lain, yakni perubahan mendadak tren harga komoditas safe haven atau instrumen aman seperti logam mulia. Berdasarkan pelacakan kontrak teraktif, harga emas naik 4,2% untuk minggu lalu. Itu merupakan kenaikan mingguan terbesar sejak 16 Januari lalu. Secara month to date, harga emas telah membukukan kenaikan sekitar 5,7% setelah penurunan bertubi-tubi akibat meroketnya ekspektasi kenaikan The Fed's Rate.
 
Sementara itu, dolar mulai terlihat bergeliat negatif terhadap rival-rival utamanya. Jumat lalu, kekalahan dolar terkonsentrasi pada dua mata uang utama, yakni euro dan yen. Kedua mata uang itu naik lebih dari 1% terhadap dolar. USDJPY tergelincir ke level 122,20 yen dari level 123,44 yen, level penutupan sehari sebelumnya. Itu merupakan level terendah dolar terhadap mata uang Jepang dalam hampir dua minggu. Di sisi lain, EURUSD naik ke level US$1,1360 pada sesi penutupan Jumat lalu, terjatuh dari posisi US$1,1215 sehari sebelumnya. Itu juga merupakan level tertinggi euro terhadap dolar dalam dua bulan terakhir.
 
Aksi by design
 
Secara psikologis, pesimisme pasar itu merupakan kelanjutan dari reaksi The Fed pada Forum Open Market Committee (FOMC) minggu lalu. Pernyataan The Fed yang cenedrung ambigu dan kurang 'jelas' membingungkan pelaku pasar setelah didahului oleh keriuhan pasar akibat kebocoran data hasil the minutes meeting 15 menit sebelum pengumuman resmi.
 
Kebocoran hasil meeting itu, kuat dugaan saya, merupakan aksi by design yang dilakukan The Fed untuk mereaksi devaluasi yuan yang telah mengendurkan optimisme pasar Amerika dan menggiring dolar menjadi terlalu kuat. Dengan membiarkan data bergulir ke ruang publik 15 menit sebelum rilis resmi, The Fed memberikan ruang kepada pasar untuk panik dan bersiap-siap menekan dolar secara masif sehingga membuat yuan kembali menemukan titik stabil seperti yang sudah berlangsung dua hari setelah devaluasi.
 
Pasalnya, jauh hari sebelum kebijakan PBOC diambil, kebocoran semacam itu juga pernah terjadi, bahkan sering. Sebulan sebelumnya, hasil off the record dari the minute meeting juga bocor. Pegawai The Fed beralasan secara tidak sengaja telah memublikasikan hasil pertemuan FOMC di laman resmi The Fed. Lagi-lagi, The Fed mengakui bahwa itu merupakan tindakan unofficial atau kelalaian pegawai, bukan kelalaian The Fed secara organisasional.
 
Padahal waktu itu, The Fed memang sedang menggiring opini untuk mengangkat optimisme dan ekspektasi pasar Amerika. Faktanya, imbas kebocoran itu bergerak sesuai dengan harapan The Fed, dolar langsung terkerek naik, mata uang rival dolar terdepak secara mendadak, termasuk rupiah yang merosot dari level Rp13 ribuan ke level Rp13.400-an hingga Rp13.500-an akibat kebocoran informasi bahwa The Fed telah menyiapkan skema kenaikan suku bunga menjadi 0,375% (suku bunga sebelumnya berkisar 0,00%-0,25%).
 
Penegasan lanjutan juga datang dari Gubernur Bank Sentral Amerika untuk negara bagian Atlanta, Dennis Lockhart, beberapa hari setelah rilis data FOMC bulan lalu (the minutes meeting untuk Juni). Lockhart mengisyaratkan ada peluang besar kenaikan tingkat suku bunga The Fed pada September nanti menyusul kian positifnya hasil survei ekspektasi pasar terhadap rencana kebijakan pengetatan The Fed. Ketika itu, peluang kenaikan tingkat suku bunga bank sentral AS pada September meningkat menjadi 48% dari posisi 38% sebelumnya.
 
Sementara itu, perkiraan bunga yang dianggap efektif rata-rata menjadi 0,375% (bunga saat ini 0,0%-0,25%) setelah dinaikkan, persis sesuai dengan arahan dari bocoran yang terpublikasi di laman The Fed. Sementara itu, kemungkinan kenaikan tingkat suku bunga pada pertemuan Dewan Gubernur The Fed pada Desember nanti juga meningkat menjadi 75% dari angka 68% pada survei sebelumnya sebagaimana dilansir situs berita internasional, Bloomberg (5/8).
 
Nah, kebocoran 15 menit sebelum rilis resmi hasil pertemuan para pengambil kebijakan The Fed minggu lalu juga tergolong berhasil mengarahkan aksi pelaku pasar. Di satu sisi, The Fed ingin tetap memperlihatkan optimismenya atas perekonomian Amerika karena data-data mutakhir sudah terpantau kinclong meski tak terlalu spektakuler. Akhirnya, pernyataan 'menunda' atau 'akan menaikan' suku bunga pun tak diucapkan secara jelas. Sebagian pejabat The Fed menganggap bahwa kondisi ekonomi Amerika telah berada pada jalur yang 'mendekati' untuk kenaikan tingkat suku bunga atas pertimbangan tingkat inflasi dan data tenaga kerja tanpa ada klarifikasi kapan waktu yang tepat.
 
Nasib rupiah
 
Namun, di sisi lain, The Fed juga tidak berharap dolar tersundul terlalu tinggi sebelum keputusan kenaikan suku bunga resmi diumumkan. Jika dolar terkerek terlalu jauh sebelum rencana kenaikan suku bunga diambil saat kebijakan tersebut dilaksanakan, dolar akan semakin menjulang. Faktanya, dolar yang terlalu kuat juga tak menjanjikan kebaikan bagi perekonomian Amerika ke depan karena akan memukul ekspor. Bahkan pahitnya, penguatan dolar yang terlalu tajam akan menipiskan keuntungan perusahaan-perusahaan tambang minyak yang berbasiskan teknologi shale (serpih) yang notabene memang sudah telanjur sesak napas.
 
Lalu bagaimana nasib rupiah di tengah-tengah perekonomian nasional yang juga nyaris lemah syahwat seperti ini? Secara teknikal, level-level baru di atas Rp14 ribu per dolar AS tentu telah siap menunggu. Tak bisa dimungkiri, Gubernur BI hanya bisa berpatokan pada keputusan Janet Yellen dan ikut menahan tingkat suku bunga persis seperti hasil the minutes meeting karena tak ada 'faktor-faktor' domestik yang bisa diharapkan akan menyundul rupiah untuk kembali menguat. Pemangkasan suku bunga sepihak sebagaimana yang diharapkan wakil presiden tentu menjadi irasional jika situasi global dan kondisi domestik sama-sama tak mampu memberikan justifikasi kenaikan.
 
Ketidakberanian BI tentu dipicu pula oleh sikap pemerintah yang 'terlalu optimistis' dalam menetapkan APBN 2016 karena kalkulasi fiskal dan moneter atas prospek ekonomi global 2016 agak kurang in line dengan hitung-hitungan pemerintah tersebut. Artinya, kemungkinan rupiah menjadi 'perkasa' secara mendadak jauh dari posisi yang mengkhawatirkan saat ini sangatlah kecil. Kecuali, semua pihak sama-sama sedang bermimpi membeli dolar dengan harga Rp12.500-Rp13.000. Jika demikian, sebaiknya segera bangun.
 
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Oase dolar as

FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif