Bakhrul Amal Bakhrul Amal Penggiat pendidikan politik dan demokrasi 

Visualisasi Politik

Bakhrul Amal 02 Oktober 2018 15:43 WIB
partai politikpilegpilpres 2019
Visualisasi Politik
ILUSTRASI: Kampanye politik/Medcom.id/M. Rizal
NYAWA dan tarikan napas dari politik adalah ideologi. Dia bisa dienduskan dengan halus atau pun dihela sekuat tenaga yang tergantung daripada tuan, dan medan yang dilaluinya. Politik tanpa ideologi, artinya politik yang tanpa nyawa dan napas yang hidup menghidupi.

Abad ke-20, seperti kita sepakati bersama, adalah abad teknologi. Semua kegiatan kita, secara sadar dan tak sadar, terintegrasi pada data-data yang terkomputerisasi. Sifatnya universal dan terbuka. Semua bisa mengakses secara bebas. Untuk beberapa hal, dengan keadaan macam itu, manusia tentunya memilah-milih tampilan yang paling menarik yang ada padanya untuk disuguhkan pada khalayak.


Politik yang sunatullah-nya menjadi anak asuh zaman, tentu tidak bisa tidak, terpangaruh pula pada keadaan itu. Politik yang semula tampil di atas mimbar dan sobekan-sobekan kertas, kini beralih muka menjadi tampilan menarik penuh warna-warni di layar komputer.

Politik globalisasi

Bagi manusia politik dan keberlangsungan politik itu sendiri, mereka tentunya dimudahkan dengan era ini. Ide serta gagasan bisa didesemiasikan secara luas dan mampu dijangkau oleh lebih banyak orang. Ideologi yang menjadi ikat pingganya pun dipoles dengan baik melalui kata-kata yang lebih gampang dipahami. #Indonesiahebat #saveKPK #Kamitidaktakut #Turuntangan #melawanasap adalah bentuk penyebaran politik yang kemudian kita kenal dengan istilah penyebaran viral sensation. 

Selain melalui kata-kata yang mudah tersebut, politik pun tidak luput untuk melakukan propaganda melalui media shortmovie yang minimalis namun berimbas maksimalis. Pilihan ini dilakukan karena masyarakat abad ini, sebagai subjek sekaligus objek yang dipolitikan oleh manusia politik, lebih suka hal yang singkat namun sarat makna. Maka muncullah gambaran seorang yang turun ke permukimam kumuh, gambaran seorang yang kuat menunggangi kuda, gambaran kesedihan kisah-kisah masa lalu, hingga aksi heroik perihal pilihan ‘atas nama rakyat’.

Pada beberapa kasus hal ini perlu kita akui efektif. Teroris yang semula dianggap sebagai ancaman kini berubah menjadi lelucon. Gagasan yang dahulu rumit kini dirangkum dengan dokumentasi kerja sebagai aksi nyata yang melampaui teori. Kesibukan di balik meja tidak lagi dianggap lebih mulia dari aksi turun ke bawah yang ditampilkan berulang-ulang.

Keberhasilan-keberhasilan itu secara pasti membuat alur dan pandangan terhadap politik menjadi berubah. Politik yang berorientasi pada kekuasaan, tentu kunci utama kemenangannya adalah simpati rakyat. Saat ini, simpati rakyat sedang berada pada politik gaya viral sensation tersebut, bukan lagi pada gaya politik mati-matian memperjuangkan gagasan seperti Bung Karno, Che Guevara, atau juga Hugo Chavez.

Lalu, bisakah ideologi tetap hidup pada zaman yang bergantung dengan kebutuhan pasar?

Yang politik dan yang visual

Telah kita sepakati bersama, yang politik saat ini telah berubah pada yang visual. Yang visual itu tentu berbeda dengan yang politik. Yang visual mengacu pada tuntutan pasar yang sifatnya komoditas, bukan pada ideologi. Ideologi belum tentu disukai dan tidak memiliki paksaan sedikit pun untuk disukai. Sedangkan yang visual, memiliki tuntutan agar selalu disukai, semakin disukai pasar semakin mahal nilai jualnya. Tidak peduli itu baik atau buruk, itu sandiwara atau nyata.

Imbasnya, ideologi sebagai nyawa yang satu tarikan napas berada dalam ruang politik, tidak lagi lebih penting dari tampilan apik yang disenangi konsumen. 

Tidak mengherankan jika kemudian kita melihat orang berbicara ‘saya sosialis’ ketika di layar kaca, tetapi pada tataran kebijakannya orang tersebut amatlah kapitalis. Kemudian juga jangan lagi kaget andaikan ada orang yang bermanis wajah di media sedangkan dalam kenyataannya dia adalah ‘penjagal’.

Mereka melakukan itu karena politik telah berganti yang visual sehingga tidak ada lagi aktor politik, yang ada hanyalah pemeran atau artis politik. Artis yang bisa membuat masyarakat suka padanya yang bersandiwara.


Aktor politik yang semula disematkan pada kemampuan meramu ideologi (Nabi Muhammad, Paz Estenssoro, Fidel Castro, Tan Malaka) telah berubah menjadi seorang artis pemeran sinetron yang menantikan tepuk tangan dan rating. Artis itu tidak ditentukan oleh pertempuran tesis, anti-tesis, dan sintesa. Tetapi artis itu laksana badut yang menurut Robertus Robet diatur oleh skenario, pencahayaan, mimik wajah, skema panggung, yang dibuat sedemikian rupa agar disukai.

Pada menit sekian mereka harus muncul, menit selanjutnya melambai tangan, selanjutnya lagi menari-menari, dan penutupnya dibubuhi senyum agar penonton bahagia. Ideologi pun menjadi bahan tertawaan yang semakin dilupakan.

Pasar ideologi

Akhirnya, sekarang politik yang ditenggalamkan oleh yang visual itu tidak lagi memiliki tujuan, tidak lagi jelas apa yang hendak dipertaruhkan. Ideologi menjadi nomor sekian dalam politik karena yang dikejar oleh politik saat ini adalah tuntutan pasar. Jikalau sudah begitu maka kita kembali pada paragraf pertama. Artinya, artis-artis politik yang terjangkit oportunis tingkat akut itu, tidak ubahnya seperti zombie. Yang raganya hidup tetapi hati dan jiwanya, pikiran-pikiran ideologisnya, kosong.

Pertanyaan bahwa apakah ideologi dapat tetap hidup pada zaman yang bergantung dengan kebutuhan pasar? Jawabannya tentu bisa. Bisa, selama ego ideologi lebih diutamakan daripada ego kebutuhan pasar.

Ideologi harus membentuk pasarnya sendiri yang dengan begitu muncul kebutuhan-kebutuhan akan pasar yang baru. Hanya saja, pertanyaan selanjutnya, seberapa kuatkah ideologi itu bertahan dari kepungan pasar? Sesuai anggapan Marx, siapa yang berhasil menguasai basis material suatu zaman, maka dia akan menguasai zaman tersebut.

Kuncinya adalah dengan menguasai yang visual untuk kemudian menaburkan idelogi politik.[]

*Segala gagasan dan opini yang ada dalam kanal ini adalah tanggung jawab penulis seperti tertera, tidak menjadi bagian tanggung jawab redaksi Medcom.ID. Redaksi menerima kiriman opini dari Anda melalui kolom@medcom.id




(SBH)

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id