Hamid Basyaib: Melawan Senja Kala Buku Anak

Sobih AW Adnan 21 Oktober 2018 21:47 WIB
buku baruperpustakaanminat baca
Hamid Basyaib: Melawan Senja Kala Buku Anak
Komisaris Utama PT Balai Pustaka Hamid Basyaib. Foto: MI/Adam Dwi.
Jakarta: Dua tahun lalu, istilah "senja kala" muncul untuk mengomentari banyaknya media cetak yang berguguran. Mereka yang tumbang, mengaku sebagai bagian dari dampak perputaran roda zaman.

Para pembaca banyak yang beralih ke media daring, atau seabrek platform digital lainnya yang dianggap lebih canggih dan praktis. Pola periklanan yang turut bergeser, menjadi faktor kuat bahwa bisnis koran dan majalah tak bisa apa-apa kecuali berpasrah dan mengalah.


Bagaimana dengan buku? Untuk produk yang satu ini, boleh dibilang mengalami nasib yang sedikit lain. Dalam riset yang dilakukan Ikatan Penerbit Indonesia (Ikapi) 2016, para pembaca masih gemar membeli buku cetak ketimbang versi digital. Alih-alih mencoba format e-book, pembaca pun lebih memilih mengunduh versi gratis dibanding yang berbayar.

Sayangnya, tidak semua jenis buku cetak bernasib serupa. Ambil contoh, buku anak. Malahan, tak sedikit yang bilang, pergerakannya makin tak terdengar.

"Faktornya, ditulis tidak serius," kata Komisaris Utama PT Balai Pustaka Hamid Basyaib kepada Medcom.id, Sabtu, 20 Oktober 2018.

Kritik Hamid ini, tampaknya tidak main-main. Sebab, komentar tersebut kami dapat saat menghadiri peluncuran Love Letters from a Father, sebendel buku anak yang ia tulis sendiri.

Seserius apa buku anak karya sosok yang sebelumnya lebih masyhur di bidang kajian agama, budaya, dan sosial ini? Berikut ikhtisar wawancara kami dengan Hamid Basyaib:

Apa yang ingin Anda sampaikan melalui buku ini?

Love Letters from a Father ini memuat 24 cerita dalam format surat untuk anak saya, Alma Sophia. Semacam kado ulang tahun untuknya yang memasuki usia 10 tahun.

Melalui buku ini, sebenarnya saya mau mengajari anak saya tidak sebatas tentang moral. Tetapi juga tentang makna-makna yang terkandung dalam perkembangan dunia. Anak-anak seusianya, tentu belum tahu tentang ini. Namun yang perlu dicatat, hasrat ingin tahu mereka cukup tinggi.

Saya melihat, apa yang diajarkan kepada mereka di sekolah, khususnya tentang etika dan moral, belum cukup. Mereka belum mendapatkan penopang dari pesan-pesan tersebut dengan sesuatu yang lebih bernalar.

Nah, dalam buku ini, saya mencoba untuk memberikan dasar-dasar rasional untuk sebuah tindakan moral. Misalnya, tidak boleh mencuri, dasarnya apa? Harus rajin melakukan ibadah, sebabnya bagaimana? Ini yang tidak didapat anak-anak.


Buku Love Letters from a Father (2018) karya Hamid Basyaib/Medcom.id/Sobih AW Adnan

Ringkasnya, hal-hal yang moralistik, seperti pentingnya sikap tolong-menolong, atau hidup jujur, harus disertai dengan penjelasan tentang dasar, alasan, atau argumentasi yang jelas. Itu konteks dan kebutuhan generasi sekarang, berbeda dengan generasi sebelumnya.

Tidak cukup dengan buku anak yang sudah ada?

Benar, buku cerita untuk anak-anak tidak sedikit. Akan tetapi, tidak ditulis secara serius.

Saya sering terlibat perbincangan dengan beberapa kawan tentang kegelisahan yang sama terkait kelangkaan buku anak yang berkualitas. Kualitas-tidaknya buku anak, bisa ditimbang dari berbagai hal.

Pertama, penulis buku anak jarang yang bisa membangun contoh-contoh yang lebih kekinian, modern, dan tidak kuno. Atau, yang sesuai dengan konteks dan kebutuhan anak zaman sekarang.

Kedua, dalam ilmu jurnalistik pun sudah jelas diajarkan bahwa sejatinya pembaca itu senang dengan sesuatu yang dekat dengan dirinya.

Persoalannya, sekarang tidak ada buku dengan tema-tema yang dekat namun memiliki kualitas bagus. Maka, wajar jika orang tua hari ini kebingungan mencarikan referensi buku untuk anak-anak mereka. Justru, kebanyakan anak-anak menyukai buku-buku cerita luar negeri, misalnya, Beauty and the Beast dan lain-lain.

Anak-anak Indonesia, sudah jarang yang suka membaca cerita Legenda Timun Emas, ya karena itu, faktornya ditulis tidak serius. Buku-bukunya jelek.

Persisnya, seperti apa karakter anak sekarang?

Ini yang tidak dipahami banyak penulis buku anak. Anak-anak, sebenarnya lebih suka terlibat dengan isu-isu orang dewasa. Mereka, ingin dihitung dalam apa yang telah dilakukan dan diperbincangkan kedua orang tuanya, atau orang-orang dewasa di sekitarnya.

Jadi, imajinasi anak-anak tidak sekadar bermain, kuda-kudaan, lari-larian, tidak.

Anak-anak lebih suka, misalnya, diajak berbincang soal lingkungan. Dengan syarat, cara menerangkannya benar. Ajaklah mereka berdiskusi tentang tata cara mengelola atau mendaur ulang sampah.

Anak saya, Alma, ketika duduk di bangku kelas 1 SD sudah bisa menulis soal kadar gula. Dia berhasil membandingkan kadar gula dari air mineral sampai minuman ringan bersoda. Tak sebatas itu, dia juga berhasil dengan fasih mempresentasikan apa yang telah dihasilkan penelitiannya.

Ini, bukan sekadar soal jenius tidak jenius. Faktor utamanya, anak-anak sekarang lebih senang terlibat dengan isu-isu orang dewasa. Maka, begitu pula yang perlu diperhatikan jika kita ingin menyajikan sesuatu untuk mereka.

Mengapa dalam format surat? Bukankah itu asing untuk anak sekarang?

Tradisi surat-menyuratnya, betul, sudah asing di mata anak-anak sekarang. Tapi, untuk buku ini, minimal saya mempertimbangkan dalam tiga hal.

Pertama, tentu, ini pola penulisan paling mudah. Kedua, menulis surat termasuk salah satu pendekatan sastra. Ketiga, keintiman dalam komunikasi jenis surat lebih terjaga.

Alma, atau siapapun anak-anak yang membacanya saya kira akan merasa lebih gampang untuk terlibat dari apa yang disajikan dalam buku tersebut.


Hamid Basyaib dalam peluncuran buku Love Letters from a Father (2018) di kawasan Kemang, Jakarta, Sabtu, 20 Oktober 2018/Medcom.id/Sobih AW Adnan

Seberapa serius Anda menulis buku ini?

Saya menulis buku ini menghabiskan waktu berbulan-bulan, terutama untuk tahap pengeditan.

Perhitungannya, anak-anak itu tidak suka membaca sesuatu yang terlalu gampang, tidak pula yang terlewat rumit. Garis tengah ini sangat tipis sehingga anak-anak bisa dengan mudah meninggalkannya jika dinilai tidak pas.

Satu lagi yang perlu ditimbang dalam menilai karakter anak-anak sekarang, yaitu meski mereka tidak suka hal-hal yang terkesan sulit, tapi mereka gemar mencari tahu.

Jadi, jangan sungkan menuliskan peristilahan modern. Mereka, akan dengan sendirinya tergugah untuk mencari tahu lebih lanjut.

Anda sebelumnya lebih dikenal sebagai intelektual? Ada sosok inspiratif tertentu yang turut mendorong proyek ini?

Nah, ini. Di luar negeri, tradisi menulis buku anak sudah marak sejak lama. Ilmuwan, politisi, figur publik, banyak yang menyempatkan hidupnya untuk melahirkan karya bertema anak-anak. Dari Jawaharlal Nehru sampai Stephen Hawking pernah melakukannya.

Khususnya, bagi para ilmuwan. Menulis buku anak itu semacam ujian. Berhasil-tidaknya menuliskan tema anak-anak kadang dipertimbangkan untuk mengukur apakah ia seorang imuwan yang mumpuni atau tidak.

Di Indonesia, sedikit terbalik. Menulis buku anak ada kesan tidak bergengsi. Padahal, penulisan buku anak hari ini perlu kembali disemarakkan. Terutama, soal kualitas.





(SBH)

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id