Wawancara Khusus Dirut Bulog

Djarot Kusumayakti: Kita Gunakan Kas Internal

Desi Angriani 30 Januari 2018 19:26 WIB
bulog
Djarot Kusumayakti: Kita Gunakan Kas Internal
Dirut Bulog Djarot Kusumayakti saat diwawancarai tim Medcom.id. (FOTO: Medcom.id/Desi Angriani)
Jakarta: Pemerintah akhirnya memutuskan impor beras dengan total volume hingga 500 ribu ton ada di tangan Perum Bulog. Penunjukan itu didasarkan pada Perpres Nomor 48 Tahun 2016 tentang Penugasan kepada Perum Bulog.

Bulog bertanggung jawab menjaga ketahanan pangan nasional. Impor beras semata-mata diikhtiarkan menjaga ketersediaan pangan, menjaga stabilisasi harga pangan pada tingkat konsumen, dan produsen pada jenis pangan pokok beras.


Lantas bagaimana persiapan Bulog mendatangkan ratusan ton beras dari luar negeri itu? Berikut wawancara khusus tim Medcom.id; Angga Bratadharma, Desi Angriani, Ade Hapsari Lestarini, dan Dimas Prasetyaning bersama Direktur Utama Perum Bulog Djarot Kusumayakti  di kantor Pusat Perum Bulog Jakarta, pada Kamis 25 Januari 2018.

Sejauh apa persiapan Bulog untuk mengimpor beras?

Pertama, perlu saya garis-bawahi, pemerintah dalam hal ini rakortas atau rapat koordinasi terbatas karena saya khawatir kita tidak tahu pemerintah yang muncul itu seperti apa. Artinya merupakan persetujuan dari beberapa kementerian yang terkait harga pangan di bawah koordinasi Menko Perekonomian. Ini hasil rapat yang menugaskan Bulog melaksanakan importasi. Kemudian karena penugasan ini ada beberapa syarat, ada beberapa negara yang dimungkinkan diambil berasnya. Mulai dari Vietnam, Thailand, Kamboja, India, dan Pakistan. Kemudian ada syarat di mana Bulog melaksanakan importasi ini dengan baik dan benar. Dan barang tersebut harus sampai ke Indonesia di akhir Februari. Nah atas hal itu Bulog segera mengambil langkah yaitu melalui lelang terbuka.

Namun untuk lelang ada prasyarat harus minta izin resmi dan sebagainya. Terhitung sejak 15 Januari malam kita sudah buka pendaftaran melalui website. Isinya, semua perusahaan bisa ikut lelang sepanjang memenuhi kriteria.

Kriteria pertama, mereka harus menjadi eksportir di negara asal tadi atau terdaftar dalam asosiasi. Kedua, mereka harus punya pengalaman ekspor. Kita kan takut ya nanti orang mau ekspor tapi dia malah tidak punya pengalaman, segala sesuatunya menjadi tidak termonitor dengan baik. Dan ada beberapa syarat lain seperti company profile, apakah peusahaan ini benar atau perusahaan kurang terlalu baik. Dari situ maka dari ter-capture atau diperoleh seingat saya ada 20 perusahaan dari Thailand, Vietnam, India, Pakistan, dan Kamboja enggak ada yang masuk. Dari 20 yang masuk ini tim menyeleksi, saya juga ingin jelaskan, saya membentuk tim sehingga bukan saya yang melaksanakan, maksudnya agar saya tidak terlibat dalam konflik kepentingan karena saya akan memposisikan diri sebagai orang yang mengawasi proses ini, sehingga saya voting, dan atas berkas yang masuk tim menyeleksi atau memenuhi syarat administrasi itu sebanyak 12, artinya 12 perusahaan itu yang diundang melakukan bidding.

Kemudian, Jumat lalu dilakukan bidding sejak pagi, saya lihat dari 12 itu yang akhirnya maju ikut bidding seingat saya ada 11 perusahaan, satu tidak mau ikut setelah melihat kondisi dan kebutuhan waktu. Kemudian dari 11 itu, ada delapan perusahaan yang lolos artinya masuk baik dalam administrasi maupun harga bidding.


Dirut Bulog Djarot Kusumayakti saat diwawancarai tim Medcom.id. (FOTO: Medcom.id/Desi Angriani)

Kalau untuk progresnya, apa tahapan berikutnya?

Setelah selesai bidding, mereka melakukan berita acara dan sebagainya, yaitu kami teruskan dengan tanda tangan kontrak secara legal. Saya mulai teken hasil bidding itu, dari delapan yang menang maka sampai hari ini yang mau menandatangani kontrak ada tujuh, ada satu yang masih mencoba mengurus kapal karena waktunya sangat pendek. Sampai akhir Februari mereka hanya punya waktu satu bulan lebih sedikit. Padahal mereka harus melakukan packaging. Pertama harus cetak karung, karena karung yang dipakai harus sesuai standar kontrak karena dikasih gambarnya untuk mereka cetak dan setelahnya isi karung. Mungkin mereka dalam bentuk curah sehingga perlu packing dan setelahnya harus menggeser ke pelabuhan dan loading ke kapal baru kemudian perjalanan. Akhir cerita itu enggak boleh lebih dari Februari. Inilah mungkin mereka ada yang kesulitan sehingga sampai hari ini masih ada satu perusahaan yang belum bersedia teken. Saya kira memang waktu ini menjadi constrain (kendala) ya.

Satu perusahaan itu dari mana?

Sampai sore ini (Kamis, 25 Januari) belum mau teken satu dari Pakistan, memang dari sana butuh waktu perjalanan normal itu sekitar 21 hari mungkin ya.

Kebanyakan perusahaan ekspor itu dari mana?

Satu dari India, empat dari Thailand, dan dua dari Vietnam.

Waktu estimasi kapal sesuai target?

Untuk yang tujuh saya harapkan, karena saya enggak bisa memprediksi kondisi laut. Kapal laut ini ada masalah juga. Kata shipper ini juga cuaca, tentu arus besar, kecepatan besar, angin besar, kalau perhitungan normal rasanya bisa masuk.

Alasan dan tujuan Bulog memilih mekanisme tender? Apa untuk mengedepankan transparansi?

Betul, paling utama untuk mengedepankan transparansi dan proper terhadap aturan. Kita semua hari ini kondisi sulit dan banyak orang berpikir berbeda. Kan banyak di media sosial ada fee dan sebagainya. Yang pasti sejauh undercontrol saya enggak ada yang seperti itu. Makanya saya buat tender, maka muncul lah info yang dipilih si A karena temannya Bulog, kenapa yang lain ditolak bidding karena enggak memenuhi syarat. Saya garis bawahi yang boleh ikut cuma negara tujuan.

Untuk anggaran sendiri dari kas internal atau ada bantuan pemerintah?

Sampai saat ini kita gunakan kas internal Bulog. Kita juga pinjam ke perbankan. Angka ini juga tidak kecil, katakan naik turun dengan kontrak yang ada Rp3 triliun, maka kita gunakan dana internal dan juga gunakan pinjaman bank.

Berapa ya Pak anggarannya?

Saya enggak tahu angka detilnya, kalau enggak salah itu harga cost and freight (CFR)-nya itu average-nya USD450 per ton karena impor ada yang sampai lima persen dan 15 persen sehingga harganya berbeda. Kedua importasi kita ini destinasinya berbeda, ada yang ke Jakarta, ini tentu membuat harga berbeda. Tapi barangkali setelah CFR kami keluarkan biaya asuransi, biaya survei, bea masuk, ada juga inclaring, biaya angkut ke gudang dan sebagainya mungkin sampai gudang rata-rata Rp7.400 per kg. Kalau itu dikali 300 ribu ton kurang lebih jadi Rp2,1 triliun sampai Rp2,2 triliun, tapi intinya kami sudah siapkan sampai batas atas. Tapi syukur enggak harus dipakai, kalau dipakai bayar bunga kita.

Jadi anggaran sudah disiapkan, kalau untuk ketersediaan infrastruktur apa sudah mencukupi atau ada upaya Bulog bangun infrastruktur baru?

Saya kira untuk importasi untuk 300 ribu-350 ribu ton, misalnya, atau 400 ribu ton. Saya kira gudang kami di seluruh Indonesia ada 1.550 unit gudang terdiri dari 550 kompleks gudang dengan kapasitas maksimal kira-kira 3,9 juta ton. Hari ini kami cuma punya beras 800 ribu ton, punya gula 400 ribu ton. Saya kira space yang tersisa masih banyak, enggak memerlukan infrastruktur mendesak khusus impor ini ya.

Ketika impor sudah masuk ke Tanah Air akan langsung masuk ke gudang Bulog. Mekanismenya nanti seperti apa? Dari pemerintah Bulog sebagai operator untuk menekan harga beras?

Ini perintah dari regulator ya, intinya untuk menekan harga kami diperintahkan untuk menambah dan memperluas operasi pasar. Caranya dengan menggunakan beras yang ada. Kami punya 800 ribu ton beras, kami bisa gelontorkan untuk operasi pasar di samping bansos rastra dan golongan anggaran yang harus kita suplai masih cukup. Tapi, stok ini pasti menurun. Di sisi lain panen yang ada belum memberi kesempatan Bulog untuk mengumpulkan karena memang belum terlalu besar, kemudian harganya masih jauh. Bulog kan membeli dengan harga pembelian pemerintah (HPP), sekarang misalnya seperti harga beras kita Rp8.030 per kg sedang di lapangan belum ada yang mau jual segitu mereka masih jual Rp11 ribu. Kami kesulitan artinya dengan melakukan operasi pasar, serapan dalam negeri yang belum cukup sehingga pasti stok Bulog menurun. Sehingga yang pasti importasi ini akan dipakai untuk memperkuat cadangan, bukan diguyur ke pasar lho. Hanya sewaktu-waktu dibutuhkan akan dikeluarkan. Siapa yang berhak mengeluarkan, di waktu rapat kemarin di rakortas disepakati pengendalian beras impor tetap dikendalikan rakortas. Saya enggak bisa sembarangan melepaskan. Jadi masuk gudang dan disimpan.




Banyak berita simpang siur seakan beras yang masuk ke Bulog dilempar ke operasi pasar. Ini menjadi penting untuk Bulog menegaskan bahwa mekanismenya itu memperkuat cadangan beras pemerintah?

Saya kira ini peran media, mari kita luruskan agar masyarakat secara transparan dapat melihat kebijakan yang coba diambil oleh pemerintah itu baik adanya. Suka muncul juga nanti menyebabkan harga jatuh, perlu kita lihat jangan sampai pemerintah salah saja, padahal pemerintah ingin menjaga petani tetap sejahtrea, konsumen juga sejahtera. Keseimbangan ini yang menurut saya harus dipahami semua orang.

Untuk operasi pasar mekanismenya seperti apa? Ada usulan dari masyarakat atau berdasarkan pemantauan harga beras?

Jadi operasi pasar mekanismenya ada dua, bisa disulkan oleh pemerintah daerah karena daerahnya terjadi gejolak. Bisa diambil alih dari Kementerian Perdagangan, basisnya data yang diperoleh oleh beliau terjadi pergerakan harga yang mengkhawatirkan. Atas dasar itu Menteri Perdagangan sesuai inpresnya, beliau memerintahkan Bulog untuk melakukan operasi pasar berdasarkan target dan sasaran. Nah, kali ini itulah yang dilakukan Kemendag memerintahkan Bulog untuk stabilisasi harga.

Setiap kenaikan harga beras, Bulog sebagai operator akan melakukan operasi pasar sesuai arahan kementerian terkait. Bulog ada gambaran stabilisasi harga itu seperti apa?

Jadi memang ini menjadi PR kita semua untuk melakukan kajian, secara teoritis kita kan mengenal supply dan demand. Inilah mekanisme pasar. Kita semua sama sadar beras ini sebagian besar dilepas ke mekanisme pasar. Yang dilakukan pemerintah hanya intervensi. Ini harus dipahami intervensi bisa dilakukan dengan harga pokok, intervensi dengan pembelian, intervensi dengan harga eceran tertinggi (HET) dan intervensi dengan operasi pasar. Nah berangkat dari situ saya berkeyakinan harga ini ditentukan oleh supply dan demand. Pergeseran supply dan demand tentu mengerek harga baik ke atas maupun ke bawah, ini pasti terjadi. Kemudian orang bertanya dengan stok yang ada mampukah Bulog meredam harga. Saya tidak berani menjawab karena ini pekerjan besar. Bulog hanya akan memberikan tambahan keseimbangan dengan mengisi keseimbangan selisih supply di pasar dengan demand. Artinya kalau supply ke pasar ada demand 120, maka selisihnya ini, jumlah yang harus diisi pemerintah agar keseimbangan terjadi. Saya tidak dalam kompetensi dan tidak memahami berapa supply yang masuk dan konsumsi yang dibutuhkan secara detil, sehingga ini yang terus dibahas di regulator. Mereka usaha terus melakukan dan menghitung beras short tip-nya. Di situ peran Bulog mulai efektif.

Terkait penyerapan beras oleh Bulog, ada yang melewati target dan ada yang belum capai target. Kendala Bulog menyerap beras di daerah?

Perlu saya sampaikan Bulog dalam menyerap beras ada constrain, satu harga, dua kualitas. Sebagaimana diatur oleh HPP, baik melalui Inpres maupun harga fleksibilitas oleh rakortas. Itu mensyaratkan juga adanya kualitas. Hari ini bahwa HPP yang terbentuk Rp3.080 dengan kualitas medium, di situ ada disebutkan medium brokennya maksimum 20 persen, kadar air maksimum 14 persen, menirnya maksimum dua persen, derajat sosoh minimal 95 persen dan sebagainya. Kalau kita ke pasar, dengan standar kualitas seperti itu berapa yang mau jual Rp8.030, sedangkan hari ini standarnya dijual orang mungkin Rp10 ribu dan Rp11 ribu, saya juga kurang paham ya, tapi yang saya pahami bahwa mereka belum mau menjual ke harga pokok. Sekarang ada panen, ya bagus, semua orang bahagia.

Berapa harga gabah kering panen yang ditawarkan mereka, hari ini saya masih kirim tim ke Jawa Tengah sesuai jadwal panen yang ada, kemarinnya lagi ke Jawa Timur. Tim itu saya lengkapi dengan uang untuk membeli sesuai harga dan kualitas yang sesuai. Dari Jatim harganya Rp5.300, di Jateng harganya Rp5.400, sisi lain HPN saya Rp4.070, inilah problemnya. Beras banyak kok Bulog enggak beli? Ingin beli tapi selisih uangnya siapa yang bayar? Kalau itu tidak berarti saya harus jual ke komersial. kalau harga Rp5.300 komersialnya itu sudah ketemu berasnya Rp10.600 harga pokoknya, konversinya saya harus jual berapa karena HET nya pun Rp9.450. Kalau saya jual segitu saya rugi dan akan diminta pertangggungjawaban. Kalau saya jual Rp11.000, saya dibilang melanggar HET, kok pemerintah melanggar HET-nya sendiri tentu ini tidak baik untuk edukasi kita.

Bagaimana Bulog menanggapi itu dan pembahasannya dengan pemerintah?

Saya sudah ditanya bapak-bapak di parlemen dan saya juga ingin minta dukungan. Saya juga ketemu bapak regulator dan mereka semua tahu problemnya karena tidak sekadar menaikkan HPP tapi juga menjaga yang lain. Saya tahu beliau punya tugas berkaitan cukup rumit. Ada inflasi yang harus dijaga, ada konsumen yang harus dijaga atau kesejahteraannya. Dua ini saya lihat ya saya dengar dan lihat beliau sibuk terus membangun harga keseimbangan yang bisa menyejahterakan semua orang.

Pemerintah meluncurkan bantuan pangan nontunai (BPNT), sementara beras jadi kebutuhan dasar. Ada kaitannya enggak BPNT ini dengan bagaimana pemerintah memenuhi kebutuhan masyarakat akan pangan? Atau menekan impor beras di masa mendatang?

Saya rasa enggak ada kaitannya dengan impor. Impor itu kan kaitannya antara produksi dan komsumsi. BPNT ini saya lihat kebijakan yang ditempuh pemerintah untuk mencapai target tepat sasaran. Kabarnya dengan kartu jadi enggak bisa dibagi-bagi, dengan kartu bisa memilih dia mau beli beras model apa saja, jangan orang miskin dikasih beras jelek saja tapi mau beli beras khusus ya boleh saja. Yang pasti pemerintah memberikan kebebasan kepada rumah atau keluarga penerima manfaat untuk memberikan banyak pilihan.

Bukannya kebijakan itu seolah menghilangkan program Rastra?

Ya bukan seperti, wong itu dipindahkan jadi rastranya hilang. Jadi bukan seperti tapi memang iya, dulu dalam rastra dalam bentuk subsidi pangan. kini menjadi bantuan pangan nontunai dalam bentuk bantuan sosial. Jadi ratsranya ini dipindah sehingga ada namanya bansos rastra.

Harapan Bulog ke depan baik dari penyerapan beras, pengadaan beras dan membantu pemerintah menstabilkan harga beras?

Kalau kami harapannya satu, petani agar dapat terus bergairah menanam padi. Tentu petani harus memperoleh harga sesuai biaya ditambah ongkos untuk hidup dia. Kemudian hal lain, masyarakat umum selaku konsumen beras juga jangan sampai keluarkan ongkos yang banyak sesuai kebutuhan. Tapi ada level di negeri ini yang rawan kemiskinan. Kenaikan harga akan memicu kemiskinan. Nah sulitnya petani harus sejahtera dan konsumen harus jangan tambah miskin, itulah kita dukunglah pemerintah jangan dicerca, kasihan sudah mikir pusing dan nambah sedikit pemerintah harus berani tambah subsidi karena di sini ada potongan untuk menjaga keseimbangan. Dengan segala teori pemerintah bisalah.

Asuransi petani sendiri?

Kalau kita bicara kesejahteraan petani itu kan salah satunya gagal panen, dia terjaga dari situ ya diasuransikan. Jangan hanya nama asuransi lho benar-benar asuransi yang membuat petani aman saat dia gagal panen harus jelas janganlah sudah ditutup asuransi tapi malah riwet. Semua harus mudah, jelas, transparan, dan mampu mengkover setiap kelompok yang dijamin pemerintah.

Petani kadang menjual harga beras di atas HPP di atas selisih, harapan Bulog?

Saya selaku dirut Bulog kalau bisa jual di atas HPP ya bahagia dia. Kita Alhamdulilllah saja, itu artinya dia memperoleh pendapatan harga lebih dari yang dia minta. Cuma barangkali yang harus dilihat benarkah dia mampu memproduksi standarnya sesuai pemerintah. Misalnya untuk standar tujuh ton gabah pertanian kering dia mencapai itu enggak. Biar harga dinaikkan kalau dia panennya cuma satu ton ya sama saja. Nah ini yang harus diteliti dan diperbaiki sehingga semua tidak ada yang disalahkan. Ketika petani tidak terancam kesejahterannya dan petani akan bekerja dan beras akan tumbuh di negeri ini dan kita tak akan perlu impor. Dan kembali, setelah petani bagaimana konsumen kita jaga, agar harga tidak membuat konsumen tercekik.



(AHL)

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id