Foto: Antara/Yudhi Mahatma
Foto: Antara/Yudhi Mahatma ()

Raut Muka Bahagia di Saat Mudik

26 Juli 2014 22:59
DI saat elite politik masih sibuk dengan hasil pemilihan presiden, masyarakat menganggap urusan pemilihan umum sudah berakhir. Masyarakat telah melanjutkan kehidupan mereka dan memulai lembaran baru yang memang lebih menarik untuk dijawab.
 
Dua hari lagi Idul Fitri akan tiba. Kini perhatian masyarakat lebih tertuju kepada persiapan menghadapi hari raya itu. Mereka memilih mudik ke kampung halaman untuk bertemu dengan keluarga besar.
 
Presiden Terpilih Joko Widodo tidak ketinggalan pulang ke Solo. Setelah sekitar tiga bulan disibukkan dengan urusan pemilu, Jokowi menemui ibunya untuk meminta restu dan bersilaturahmi dengan kerabatnya di kota kelahirannya.
 
Mudik lebaran bukanlah perjalanan yang mudah. Ketika jutaan orang nyaris bersamaan pulang ke kampung halamannya, maka kemacetan terjadi di mana-mana. Puncak mudik tahun ini terjadi hari Kamis dan Jumat lalu. Pada dua hari kemarin arus lalu lintas sempat berhenti berjam-jam. Pintu tol Cikampek menjadi salah satu pusat titik kemacetan. Semua kendaraan nyaris tidak bisa bergerak karena terkunci dari segala arah.
 
Di tengah kemacetan yang luar biasa, kita tidak melihat wajah-wajah yang kecewa, apalagi marah. Semua seperti memaklumi bahwa itulah bagian dari ritual lebaran. Kemacetan sesuatu yang harus diterima.
 
Harapan untuk bisa berkumpul dengan sanak saudara menjadi pelipur lara. Itulah yang membuat kita tetap melihat wajah-wajah penuh kegembiraan di tengah kemacetan yang luar biasa.
 
Kita harus memberi hormat dan acungan jempol kepada petugas polisi. Sekitar 250.000 polisi yang diterjunkan untuk menangani mudik lebaran, bekerja dengan sangat profesional. Mereka mengatur lalu lintas di sepanjang Pulau Jawa untuk mengurai kemacetan.
 
Hasilnya kemacetan parah yang terjadi hari Kamis dan Jumat, bisa diurai hari Sabtu siang. Meski harus menempuh perjalanan di atas 20 jam, para pemudik akhirnya bisa sampai ke tempat tujuan masing-masing.
 
Kita melihat keikhlasan menjadi faktor terpenting yang membuat masyarakat tidak larut dalam kekecewaan dan kemarahan. Semua orang bisa menerima bahwa risiko ketika harus mudik lebaran adalah kemacetan yang luar biasa.
 
Karena keikhlasan maka masyarakat percaya bahwa polisi akan bekerja untuk mengurai kemacetan. Ketika semua orang tunduk kepada pengaturan yang dilakukan polisi, maka kemacetan pun akhirnya bisa diurai dan semua bisa sampai ke kota tujuan masing-masing.
 
Pelajaran inilah yang baik untuk dipetik oleh para politisi. Bahwa dalam mengejar ambisi, tetap harus ada keikhlasan. Sebab hanya dengan itulah kita tidak terjebak dalam ambisi yang memerangkap kita sendiri.
 
Para politisi tidak harus malu untuk belajar kepada rakyatnya. Banyak kebajikan yang kita bisa petik dari kehidupan masyarakat banyak. Ketulusan yang ada pada rakyat biasa seringkali membuat tindakan mereka menjadi lebih asli, tidak ada kepura-puraan.
 
Para politisi sendiri seringkali dipenuhi oleh khayalannya. Bahkan mereka terjebak dalam kebenaran yang diyakininya sendiri. Seakan-akan kebenaran hanya miliknya dan orang lain harus mengikuti kebenaran mereka itu.
 
Padahal bisa jadi kebenaran itu ada pada orang lain. Bahkan kita sering diingatkan bahwa kebenaran bisa jadi ada di tempat yang paling kotor. Namun kita tidak pernah mau mengakui kebenaran itu hanya karena bukan kebenaran kita.
 
Ramadan dan Idul Fitri memang memberi banyak pelajaran berharga bagi kehidupan kita. Hanya saja kita harus mau membuka hati untuk bisa memetik pelajaran itu. Hanya mereka yang terbuka hatinya yang akan bisa menjadi lebih kaya ilmunya dan lebih bijaksana tindakannya.
 
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Oase metro view

FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif