INGAR bingar Pemilihan Umum 2014 berakhir sudah. Komisi Pemilihan Umum hari Selasa malam menetapkan pasangan Joko Widodo dan Muhammad Jusuf Kalla sebagai Presiden dan Wakil Presiden Terpilih periode 2014-2019.
Segera setelah penetapan oleh KPU, Jokowi dan Jusuf Kalla berangkat ke Pelabuhan Sunda Kelapa. Dari atas geladak Kapal Phinisi Hati Buana Setia, Jokowi menyampaikan pidato penerimaan sebagai Presiden Terpilih.
Untuk merayut kembali kebersamaan sebagai sebuah bangsa, Jokowi mencoba merangkul pasangan Prabowo Subianto dan Hatta Rajasa. Jokowi menyebut saingannya dalam Pemilihan Presiden 2014 itu sebagai sahabat.
Sambil mengucapkan terima kasih kepada seluruh rakyat atas partisipasi untuk menyukseskan penyelenggaraan pemilu, Jokowi mengajak semua komponen bangsa untuk bergerak bersama. Setelah selesai pemilihan presiden, petani segera kembali ke ladangnya, nelayan kembali melaut, mahasiswa dan pelajar kembali ke sekolah, buruh dan karyawan kembali bekerja.
Sungguh luar biasa, Jokowi tidak hanya sekadar berucap, tetapi juga mengerjakan apa yang ia sampaikan. Hari Rabu pagi ia mengakhiri masa cuti kampanyenya dan kembali menjalankan tanggung jawab sebagai Gubernur DKI Jakarta.
Kita hargai sikap dan tindakan itu, karena bangsa ini membutuhkan teladan. Pemimpin harus menjadi contoh bagaimana bekerja keras dan menjadi pribadi yang produktif serta mampu memberi nilai tambah atas setiap pekerjaan yang dilakukan.
Kalau kita ingin menjadi bangsa yang maju, maka kita memang harus mau bekerja keras. Kita tidak boleh membuang-buang waktu, apalagi larut dalam kekecewaan dan rasa permusuhan. Kita harus terus maju ke depan dan berupaya melakukan yang terbaik.
Tidak mungkin kita menjadi bangsa yang maju apabila kita gampang ngambek dan mudah berputus asa. Kita harus selalu mampu bangkit dari setiap kegagalan, karena tidak mungkin kita terus meratapi nasib. Hanya kemauan untuk berhasil yang akan membuat kita menjadi besar.
Kita harus mau belajar dari bangsa-bangsa lain dalam meraih kemajuan. Kita tidak boleh kalah dari bangsa Korea yang mampu membangun bangsa dan negaranya, karena mampu membangun kultur yang kuat. Sampai-sampai ilmuwan seperti Samuel L. Huntington menjadikan Korea Selatan sebagai model keberhasilan pembangunan sebuah bangsa.
Satu yang pantas kita petik dari keberhasilan bangsa Korea itu adalah sikap untuk tidak larut dalam eforia. Segera setelah mereka berhasil membangun sistem demokrasi pada tahun 1989, semua pihak kembali kepada tugas dan tanggung jawabnya masing-masing.
Persis seperti yang disampaikan Jokowi semalam, bangsa Korea kembali bergegas membangun negeri setelah mampu membangun demokrasi. Mahasiswa tidak lagi turun ke jalan untuk berdemonstrasi, tetapi tekun untuk menimba ilmu. Buruh dan karyawan kembali bekerja untuk memajukan perusahaan. Petani dan nelayan menyediakan kebutuhan pangan bagi rakyatnya.
Sekitar 10 tahun setelah Korea membangun demokrasi, kita melakukan hal yang sama. Pada tahun 1998 kita bersepakat untuk melakukan reformasi guna meninggalkan sistem otokrasi dan memulai pembangunan demokrasi.
Hanya saja sepanjang 16 tahun reformasi kita tidak tekun untuk membangun negeri. Kita terus larut dalam suasana eforia yang tidak berakhir. Mahasiswa tidak berhenti untuk berunjuk rasa, demikian pula buruh. Sepanjang 16 tahun reformasi, kita melihat ketertiban tidak berhasil kita tegakkan.
Berulangkali kita sampaikan bahwa demokrasi memang memberi kita hak kebebasan. Hanya saja kebebasan tidaklah berwajah tunggal. Kita tidak boleh hanya berpijak pada "kebebasan dari atau freedom from", tetapi yang tidak kalah penting adalah "kebebasan untuk atau freedom for".
Kebebasan jangan hanya sekadar dilihat sebagai sikap untuk boleh melakukan apa yang kita maui. Tetapi kebebasan harus dipakai untuk bisa memperbaiki kehidupan seluruh rakyat. Kebebasan harus bisa membawa kita ke arah kemajuan, bukan sebaliknya kemunduran.
Agar kebebasan bisa membawa kemajuan, maka kita harus mau bekerja keras. Bahkan sikap itu harus diikuti dengan sikap disiplin, mau menghargai waktu, berorientasi kepada produk yang bernilai tambah, dan produk yang kita hasilkan itu harus lebih baik dari produk bangsa lain.
Kita tidak perlu menyesali apa yang sudah berlalu. Yang harus kita lakukan sekarang adalah membangun kultur kerja keras. Kita tidak perlu larut dalam eforia pemilihan presiden, sebab proses itu boleh dikatakan sudah berakhir. Tugas kita bersama sekarang ini adalah bekerja untuk membangun negeri agar bisa menyejahterakan seluruh rakyat.
Momentum hadirnya Presiden baru harus kita pakai untuk meneguhkan kembali komitmen membangun negeri. Seperti dikatakan Jokowi, itu tidak dilakukan orang per orang, tetapi kita bergerak bersama-sama menuju kemajuan negeri.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
