(Ant/Widodo Jusuf)
(Ant/Widodo Jusuf) ()

Belum Selesai dengan Menko Perekonomian

17 Mei 2014 20:55

PRESIDEN Susilo Bambang Yudhoyono menunjuk Pemilik CT Corp, Chairul Tanjung sebagai Menteri Koordinator Perekonomian yang baru. Chairul menggantikan posisi Hatta Rajasa yang mengundurkan diri karena akan maju sebagai calon wakil presiden Prabowo Subianto.
 
Penunjukan Chairul sebagai Menko Perekonomian tidak mengejutkan karena dalam lima tahun terakhir ini ia menjadi Ketua Komite Ekonomi Nasional (KEN). Presiden menyatakan bahwa selama ini ia banyak dibantu KEN untuk merumuskan kebijakan ekonomi.
 
Hanya saja dengan latar belakang pendidikan sebagai seorang dokter gigi dan selama ini menjadi pengusaha, Chairul perlu memahami fenomena makroekonomi. Sebagai Menko Perekonomian ia harus bisa memberikan arahan kepada menteri-menteri ekonomi khususnya dalam merespons perkembangan ekonomi dalam negeri maupun luar negeri yang bisa berpengaruh terhadap perekonomian nasional.


 
Seperti ketika ia memimpin KEN, Chairul perlu didampingi para ahli ekonomi. Ia tidak bisa hanya mengandalkan intuisi semata, tetapi membutuhkan kajian yang mendalam. Kelebihannya sebagai pemimpin perusahaan yang setiap kali harus mengambil keputusan, bisa menjadi kekuatan untuk menyatukan masukan dari para ahli ekonomi. Tantangan berat langsung harus dihadapi Chairul. Meski pertumbuhan ekonomi masih berjalan positif, tetapi perlambatannya terus mengalami pemburukan. Ini sudah berlangsung hampir 12 kuartal terakhir dan masalah ini belum pernah berhasil kita atasi.
 
Sekarang ini tekanannya semakin berat karena bisnis ternyata tidak berjalan seperti yang diharapkan. Tekanan terhadap penerimaan negara pun menguat karena penerimaan pajak di bawah target, demikian pula dengan penerimaan dari sektor minyak dan gas serta produk mineral.
 
Produksi minyak di luar dugaan menurun lebih cepat dari yang diperkirakan. Bulan Maret produksi minyak mentah hanya mencapai 700 ribu barel per hari. Kondisi ini menyebabkan subsidi diperkirakan bertambah hingga Rp 40 triliun tahun ini, karena konsumsi tetap meningkat.
 
Dengan penerimaan yang tertekan, pemerintah pekan lalu terpaksa mengurangi belanja kementerian dan lembaga. Pengurangan belanja pemerintah otomatis akan berpengaruh terhadap angka pertumbuhan. Koreksi itulah yang disampaikan Menteri Keuangan Muhammad Chatib Basri.
 
Sebagai orang yang terbiasa untuk menjawab persoalan, Chairul diharapkan bisa memainkan peran itu di dalam pemerintah. Cara pandangnya yang tidak biasa diharapkan bisa memberi angin segar untuk menjawab tekanan ekonomi yang sedang kita hadapi.
 
Kita pantas menunggu terobosan apa yang akan dibawa oleh Chairul Tanjung, seperti ketika ia membuat CT Corp dari kelompok usaha biasa menjadi perusahaan raksasa dalam waktu 16 tahun. Kita sungguh berharap Chairul bisa langsung bekerja, karena tidak cukup waktu bagi dirinya untuk melakukan penyesuaian. Masa kerja pemerintah ini hanya tinggal lima bulan lagi.
 
Kondisi terberat yang harus dihadapi adalah kesiapan kabinet ekonomi untuk tetap bekerja penuh. Banyaknya menteri yang berasal dari partai politik membuat perhatian mereka pasti akan lebih tertuju kepada urusan pemilihan presiden daripada urusan negara.
 
Kita tidak bisa membayangkan nasib kabinet sekarang ini setelah tanggal 1 Oktober nanti. Beberapa menteri seperti EE Mangindaan, Jero Wacik, Sjarief Hasan, Zulkifli Hasan, dan Tifatul Sembiring terpilih sebagai anggota DPR periode 2014-2019.
 
Para menteri itu harus mengundurkan diri sebelum dilantik sebagai anggota DPR. Pengalaman tahun 2009, Menteri Pemuda dan Olahraga Adyaksa Dault memilih mengundurkan diri sebagai anggota DPR demi menyelesaikan tugas sebagai menteri. Meski ia kemudian tidak terpilih lagi sebagai menteri, tetapi ia menjalankan penuh tugas kenegaraan yang ia emban.
 
Kita tidak yakin para menteri sekarang ini mau mengambil posisi yang sama seperti Adyaksa. Apalagi peluang mereka untuk tetap bisa duduk di dalam kabinet kecil, sehingga mereka akan memilih menjadi anggota DPR demi mempertahankan statusnya sebagai pejabat negara.
 
Presiden tentunya harus memikirkan jalan keluar dari posisi yang pelik itu. Bagaimana pun Presiden harus menyelesaikan tugasnya hingga 20 Oktober. Salah satu tugas Presiden adalah memastikan bahwa pemerintahan tetap berjalan sampai akhir jabatannya.
 
Apalagi Presiden mempunyai janji yang harus dipenuhi yakni meninggalkan kondisi perekonomian negara yang baik. Itu membutuhkan kerja keras dari seluruh anggota kabinet dan mereka harus bekerja sampai akhir masa tugasnya.


 
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Oase kabinet

FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif