AP--Jokowi
AP--Jokowi ()

metro view

Tradisi Baru Penyusunan Kabinet

25 Juli 2014 17:55
SALAH satu kekuatan dari presiden rakyat adalah kemampuannya untuk memahami kehendak rakyat dan melibatkan juga rakyat dalam mengambil keputusan. Itulah yang diperlihatkan presiden pilihan kita Joko Widodo.
 
Apabila selama ini penyusunan kabinet hanya melibatkan elite saja, Jokowi mendobrak dengan melibatkan langsung rakyat. Ia mempersilakan rakyat untuk menyampaikan sosok menteri yang dinilai memiliki kemampuan, berintegritas, dan mau bekerja untuk kepentingan rakyat.
 
Maka ramailah di sosiamedia, orang mengusulkan nama-nama calon menteri. Jokowi tidak merasa terganggu karena ia memang sengaja membuka forum itu untuk juga menangkap nama-nama baru yang selama ini mungkin tidak pernah ia ketahui.
 
Namun pada akhirnya penyusunan kabinet sepenuhnya berada di tangan presiden dan wakil presiden terpilih. Jokowi mengatakan bahwa kabinetnya nanti akan diisi oleh profesional yaitu orang-orang yang memang menguasai bidang tugasnya dan mau bekerja untuk kepentingan rakyat. Kita hargai cara pendekatan baru yang ditempuh Jokowi dalam menyusun kabinet. Cara yang dilakukannya benar-benar out of the box, karena keluar dari tradisi pemilihan menteri yang selama berpuluh-puluh tahun kita kenal.
 
Pembentukan kabinet yang profesional merupakan sesuatu yang tidak terhindarkan karena persoalan yang kita hadapi memang pelik. Laporan terbaru tentang indeks pembangunan manusia Indonesia misalnya menunjukkan bahwa peningkatan kualitas manusia Indonesia stagnan dan bahkan cenderung melambat.
 
Semua ini merupakan akibat dari kealpaan kita dalam membangun manusia. Selama ini kita hanya berorientasi kepada pertumbuhan ekonomi, tanpa memedulikan pertumbuhan itu didasarkan oleh produk bernilai tambah atau sekadar bertumpu pada sumber daya alam.
 
Kita merasakan sekarang ketika harga komoditas di pasar global turun, maka pertumbuhan ekonomi kita terus melambat. Kita tidak mampu keluar dari perangkap ini, karena tidak tersedia cukup sumber daya manusia yang mampu memberikan nilai tambah atas kekayaan alam yang kita miliki.
 
Tentu tidak ada kata terlambat dalam membangun manusia. Yang dibutuhkan adalah kemauan dan kesabaran untuk mempersiapkan manusia Indonesia ke depan. Satu-satunya jalan yang bisa ditempuh adalah melalui jalur pendidikan.
 
Untuk itulah salah satu menteri yang harus terbaik kita pilih dalam kabinet mendatang adalah Menteri Pendidikan. Kita harus mau mulai melakukan sejak sekarang melakukan investasi pada manusia, karena pendidikan itu pada dasarnya membangun generasi. Apa yang kita tanam sekarang baru sekitar 25 tahun yang akan datang kita petik hasilnya.
 
Menteri Pendidikan mendatang harus mampu menyiapkan putra-putra bangsa yang sesuai dengan kebutuhan Indonesia 25 tahun mendatang. Pendidikan yang dilakukan harus sesuai dengan arah pembangunan nasional yang akan ditempuh agar manusia yang dihasilkan bisa menunjang kebutuhan pelaksanaan pembangunan itu.
 
Posisi penting kedua yang harus tepat pilihannya adalah Menteri Keuangan. Kita membutuhkan sosok Menteri Keuangan yang mampu mengelola keuangan secara baik agar terjadi efisiensi dalam pengalokasian anggaran negara.
 
Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara kita memang meningkat tajam dalam 10 tahun terakhir ini. Apabila 10 tahun lalu APBN kita hanya sekitar Rp 400 triliun, sekarang ini sudah mencapai Rp 1.800 triliun atau meningkat lebih 400 persen.
 
Pertanyaannya, mengapa dengan APBN yang meningkat begitu pesat, anggaran pembangunan yang tersedia tetap terbatas? Berarti ada yang keliru dalam pengalokasian APBN. Kita tergolong boros dalam menggunakan anggaran, sehingga tidak mampu menopang pembangunan.
 
Untuk itu kita membutuhkan sosok Menteri Keuangan yang hemat. Ini penting karena sikap hemat merupakan pilar dari investasi. Orang Inggris selalu mengatakan: "frugality is mother of investment".
 
Sekarang ini hampir seperempat anggaran kita habiskan untuk subsidi. Bahkan subsidi itu adalah subsidi yang konsumtif yaitu untuk bahan bakar minyak. Subsidi itu pun tidak dinikmati oleh seluruh rakyat, tetapi hanya kelompok orang kaya saja.
 
Presiden Terpilih Jokowi harus memutuskan lingkaran setan itu. Sepanjang subsidi BBM masih membengkak seperti sekarang, maka defisit transaksi berjalan tidak bisa dikendalikan. Akibat lebih lanjut kesehatan anggaran tidak bisa dijaga dan itu akan berpengaruh terhadap nilai tukar, inflasi, dan tingkat suku bunga kredit.
 
Namun persoalan paling utama dari buruknya kesehatan anggaran adalah ketidakmampuan kita untuk menyediakan anggaran pembangunan. Akibatnya infrastruktur yang kita miliki tidak pernah bisa diperbaiki sehingga menimbulkan biaya ekonomi tinggi, produk kita menjadi tidak kompetitif, dan akibatnya penyediaan lapangan pekerjaan pun menjadi terbatas.
 
Indonesia ke depan yang harus kita bangun adalah Indonesia yang bisa mencerdaskan kehidupan bangsanya dan membuat rakyatnya bisa bekerja. Kita harus menekan serendah mungkin angka pengangguran, karena itulah yang akan membuat manusia merasa jadi manusia sesungguhnya dan sekaligus mengurangi kemiskinan.
 
Tentu jabatan menteri-menteri lain pun harus diisi orang-orang terbaik. Kita harus membangun tim yang benar-benar bisa menjadikan Indonesia hebat. Kita tidak boleh lagi gagal untuk membangun Indonesia yang lebih baik.
 
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Oase metro view

FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif