Tepercik Coreng ke Muka Polri

14 Juli 2018 09:09 WIB
Tepercik Coreng ke Muka Polri
Tepercik Coreng ke Muka Polri

Wajah Kepolisian Negara Republik Indonesia kembali tercoreng ulah anggota sendiri. Coreng itu ditorehkan AKB M Yusuf, seorang perwira menengah di jajaran Polda Bangka Belitung, yang menganiaya dua perempuan dan seorang anak.

Meskipun korban penganiayaan diduga melakukan pencurian di minimarket miliknya, tidak sepatutnya aparat penegak hukum melakukan tindakan main hakim sendiri yang jelas-jelas menabrak aturan hukum. Polisi semestinya memberi perlindungan kepada korban, bukan main hakim sendiri meski si korban pelaku kejahatan.

Kejadian yang terekam kamera tersebut bermula saat seorang perempuan bernama Dessy ketahuan mencuri di minimarket milik Yusuf. Yusuf yang datang setelah mendapat laporan dari pegawainya menginterogasi sambil menendang bagian wajah perempuan tersebut. Permohonan ampun dari perempuan itu tak menyurutkan emosi Yusuf. Ia malah kemudian memukul perempuan itu dengan sebuah sandal. Tak hanya itu, aparat Polda Babel itu juga memukul anak yang berdiri di sebelah kiri perempuan tersebut.

Yusuf tampaknya gagal dalam memahami fungsi dan tugasnya sebagai pelindung, pelayan, dan pengayom masyarakat. Kejadian itu membuat publik sulit untuk berharap polisi akan memperbaiki kultur, menghilangkan arogansi kekuasaan, dan menekan kekerasan eksesif.

Perilaku Yusuf serupa setitik nila yang merusak sebelanga citra positif Polri yang selama ini susah payah dibangun. Kapolri Jenderal Tito Karnavian dalam peringatan Hari Bhayangkara Ke-72 tiga hari lalu tanpa ragu mengatakan citra Polri semakin positif.

Polri sukses mengawal ketertiban dan keamanan selama Ramadan dan Idul Fitri. Polri berhasil mencegah dan menindak aksi-aksi terorisme. Polri tak kalah sukses mengamankan pelaksanaan pilkada. Jajak pendapat Gallup bertajuk 2018 Global Law and Order yang menempatkan Indonesia dalam jajaan 10 negara teraman di dunia jelas tak terlepas dari peran impresif Polri menjaga keamanan dan ketertiban.

Namun, satu kesalahan lebih diingat daripada seribu kebaikan. Pantas saja Kapolri Tito Karnavian marah besar atas ulah arogan Yusuf. AKB Yusuf langsung dicopot dari jabatannya. Jangan-jangan, bila saja aksi Yusuf tak terekam kamera dan viral di media sosial, tak ada tindakan apa pun terhadapnya.

Oleh karena itu, hukuman administratif semacam itu tidak cukup untuk memenuhi rasa keadilan. Hukuman pidana harus ditegakkan kepada Yusuf.

Apalagi, hukum telah ditegakkan kepada Dessy, korban kekerasan Yusuf. Persidangan telah digelar untuk kasus tindak pidana ringan. Perbuatan Dessy masuk kategori tindak pidana ringan karena kerugian yang diakibatkannya kurang dari Rp2,5 juta, tepatnya Rp600 ribu.

Dessy dijatuhi hukuman 1 bulan penjara dan 3 bulan masa percobaan.

Untuk meraih kembali kepercayaan publik, pihak kepolisian harus benar-benar memproses kekerasan yang dilakukan AKB Yusuf. Di sini kesungguhan aparat dalam menyelesaikan kasus yang melibatkan orang dalam dipertaruhkan. Jangan sampai pengusutan yang dilakukan hanya formalitas, sekadar untuk meredam kemarahan masyarakat.

Pengusutan harus dilakukan secara serius dan menyeluruh. Polri harus membuktikan hukum tak cuma tajam ke bawah, tetapi tumpul ke atas. Hukum malah semestinya lebih tajam ke atas, ke aparat penegak hukum yang melanggar hukum.