Saatnya Hijrah Menuju Kebaikan

05 November 2018 08:49 WIB
Saatnya Hijrah Menuju Kebaikan
Saatnya Hijrah Menuju Kebaikan

Perkembangan teknologi komunikasi yang begitu pesat ibarat pedang bermata dua. Di satu sisi membawa kemaslahatan, tetapi juga memicu persoalan yang sangat serius.

Teknologi komunikasi memberi kemudahan berkomunikasi melalui berbagai media sosial. Akan tetapi, media sosial kini menjadi lahan subur untuk menyemai dan menuai ujaran kebencian atupun penyebaran berita bohong alias hoaks.

Ujaran kebencian dan penyebaran berita hoaks itu memapar sebagian besar masyarakat. Pengguna internet di Indonesia pada 2017 berjumlah 143,26 juta orang. Pengguna aktif media sosial sebanyak 130 juta orang dan rata-rata waktu yang mereka habiskan untuk bermedia sosial 3,5 jam per hari.

Harus tegas dikatakan bahwa penggunaan media sosial telah menyimpang dari tujuan yang seharusnya menaikkan martabat manusia. Akibatnya, muncullah penyesatan, kepanikan, hingga perpecahan, baik antarindividu maupun kelompok masyarakat.

Dalam konteks itulah kita menyambut baik ajakan calon presiden petahana Joko Widodo agar semua anak bangsa berani hijrah menuju hal-hal yang baik.

Tidak hanya sekali, dua kali dalam sehari Jokowi menyampaikan pesan hijrah tersebut. Jokowi berbicara mengenai hijrah ketika menghadiri deklarasi dukungan dari Repnas di Hotel Fairmont Jakarta, Sabtu (3/11) pagi. "Saya mengajak kita semua untuk hijrah. Hijrah dari pesimisme ke optimisme. Hijrah dari perilaku konsumtif ke produktif," kata Jokowi.

Ia kembali menyinggung topik yang sama ketika berpidato dalam acara deklarasi dukungan dari keluarga besar almarhum Tubagus Chasan Sochib, ulama dan pendekar silat di Banten, Sabtu malam.

Begini kata Jokowi, "Saya mengajak kita semuanya mari kita bersama-sama mulai hijrah dari ujaran-ujaran kebencian ke ujaran-ujaran kebenaran. Mari kita hijrah dari sering mengeluh-mengeluh, hijrah untuk selalu bersyukur-bersyukur."

Ajakan hijrah dari pesimisme ke optimisme sangatlah tepat waktu. Disebut tepat waktu karena narasi pesimisme yang saat ini menyesaki ruang publik dilakukan secara terstruktur dan masif. Jangan lupa, Indonesia dibangun berdasarkan optimisme. Politik yang dibangun pendiri bangsa pun ialah politik harapan; harapan merdeka, sejahtera, adil, dan beradab.

Tidak kalah pentingnya ialah ajakan hijrah dari ujaran-ujaran kebencian ke ujaran-ujaran kebenaran. Ujaran kebencian, informasi palsu, dan fitnah membawa dampak negatif yang serius dalam masyarakat karena menyerang pribadi, menimbulkan permusuhan serta kebencian.

Hoaks dan ujaran kebencian semakin menjadi-jadi saat memasuki masa kampanye Pemilu 2019. Padahal, semua peserta pemilu sudah meneken deklarasi untuk melaksanakan kampanye pemilu yang aman, tertib, damai, berintegritas tanpa hoaks, politisasi SARA, dan politik uang.

Publik, kini, merindukan hadirnya kampanye bermutu dari setiap kontestan pemilu, khususnya pilpres. Kampanye adu gagasan. Hoaks dan ujaran kebencian bisa diredam jika pasangan calon presiden dan wakil presiden menyampaikan narasi besar soal keindonesiaan. Narasi yang bisa menjaga persatuan dan kesatuan bangsa, bukan malah memainkan isu yang berpotensi menciptakan disintegrasi bangsa.

Narasi besar soal keindonesiaan diharapkan mampu mendorong anak bangsa bersama-sama berhijrah menuju hal-hal yang baik. Tanpa berhijrah menuju hal-hal yang baik, kita bukan lagi tuan, melainkan hanya hamba dari kemajuan teknologi komunikasi. Jika itu yang terjadi, kita pun berpotensi menjadi serigala bagi sesama.



Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id