MANUSIAyang terdidik dan tercerahkan ialah kunci kemajuan sebuah bangsa. Pun demikian dengan bangsa ini, yang hanya akanbisa maju dan tak terus tertinggal dari bangsa-bangsa lain jika rnmemiliki manusia-manusia pintar dan berintegritas.
Pada konteks itu pula, sistem pendidikan yang tepat tak lagi dapat ditawar. Pembangunan pendidikan secara menyeluruh pun menjadi sebuah keharusan yang wajib dikelola secara optimal oleh pemerintah.
Tiada lagi alasan bagi pemerintah untuk tidak menyediakan pendidikan secara merata, adil, dan berkualitas bagi seluruhanak bangsa.
Benar bahwa pendidikan memang selalu menjadi fokus kendati pemerintah silih berganti. Ia mendapat perhatian utama, anggaran negara yang digelontorkan untuk pendidikan pun selalu yang terbesar. Namun, harus kita akui, output dari pembangunan di sektor pendidikan belumlah menggembirakan. Dalam daftar indeks pembangunan manusia yang salah satunya diukur dari pendidikan, misalnya, posisi Indonesia masih berkutat di urutan ke-108 dari 187 negara pada 2014.
Perlu keseriusan luar biasa bagi pengelola negeri iniuntuk membuat rakyatnya pintar. Tak cuma pintar, rakyat Indonesia mesti berkepribadian dan kita patut menyambut baik karena pemerintah tampak gigih mewujudkan syarat-syarat ideal bagi kemajuan bangsa itu.
Pemerintah sadar betul bahwa generasi yang pandai dan berkarakterlah yang akan menentukan masa depan Republik ini.
Pemerintah juga sadar, kita sudah cukup lama melupakan kepribadian luhur bernama Pancasila dalam berbangsa dan bernegara, termasuk dalam mengelola pendidikan.
Karena itulah, sangat pas peringatan Hari Pendidikan Nasional tahun ini mengusung tema Pendidikan dan kebudayaan sebagai gerakan pencerdasan dan penumbuhan berkarakter Pancasila.
Bagi Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Anies Baswedan, gerakan pencerdasan dan penumbuhan generasi berkepribadian Pancasila ialah ikhtiar menuju pembentukan generasi yang berkualitas dalam arti sesungguhnya. Berkualitas dari sisi otak, berkualitas pula dalam hal kepribadian.
Semangat itu pun klop dengan misi pelaksanaan ujian rnnasional (UN), yang hari ini diberlakukan untuk siswa sekolah menengah pertama (SMP).
Lewat kebijakan Mendikbud Anies Baswedan, paradigma UN diubah total. Sebelumnya, UN menjadi syarat mutlak kelulusan siswa, tetapi mulai tahun ini syarat itu ditanggalkan karena memang terlalu banyak mudarat yang ditimbulkan.
Tatkala masih menjadi penghakiman atas kelulusan, UN rnialah hantu paling menakutkan bagi anak didik. Amat banyak siswa yang kemudian menempuh segala upaya untuk lolos dari UN. Tak sedikit yang menghalalkan segala cara, termasuk dengan mencari bocoran jawaban.
UN pun menjelma menjadi pemicu generasi bermental rncurang. Ada pula yang lantas berpikir irasional, umpamanya dengan mendatangi makam, demi lulus UN.
Kini, UN tak lagi menjadi penghakiman, tetapi rnmerupakan ajang pembelajaran. Ia sarana pemetaan sekaligus syarat masuk ke jenjang sekolah yang lebih tinggi. Ia telah kembali ke jalur yang benar demi pembentukan anak didik yang cerdas, berkarakter, dan rasional.
Meski begitu, upaya membangun generasi yang cerdas dan berkepribadian tak cukup hanya semangat di atas kertas, tetapi harusdiimplementasikan secara nyata.
Sebuah bangsa mustahil dapat bertahan dalam persaingan jika hanya mengandalkan sumber daya alam. Bangsa yang hebat ke depan ialah bangsa yang dihuni manusia-manusia berkualitas. Itulah tugas kita untuk memastikannya.
