Meneladani Isra Mikraj Sang Nabi
Meneladani Isra Mikraj Sang Nabi

PEMANTIK Isra Mikraj ialah kesedihan mendalam sang Nabi sepeninggal istrinya, Khadijah. Nabi tidak bisa membayangkan betapa berat persoalan yang dihadapinya tanpa istrinya yang selama ini menjadi penyokong dan pelindungnya.

Akan tetapi, Sang Nabi tidak larut begitu saja dalam frustasi di larut malam itu. Dia lalu mencari jalan keluar dengan bermunajat, berdoa, melakukan refleksi hingga menembus batas keprofanan menuju kesakralan yang disebut Isra Mikraj itu.  Esensi doa, munajat, dan refleksi ialah dialog dengan Sang Mahapencipta.

Pelajaran pentingnya ialah bahwa seberat apa pun persoalan, kita pantang frustasi dan tetap optimistis bahwa kita mampu menghadapinya. Bila ditarik ke kehidupan kebangsaan, bangsa ini pantang frustasi, harus tetap optimistis, bahwa bangsa ini tak akan bubar karena kita bersama-sama sanggup menyelesaikan segala persoalan.

Pelajaran berharga lainnya ialah kita semestinya mengutamakan dialog, bukan amarah, dalam menghadapi persoalan, sebagaimana Nabi berdialog dalam Isra Mikraj-nya. Alih-alih menyelesaikan, kemarahan hanya menambah rumit perkara sehingga penyelesaiannya menghabiskan energi besar. Daripada menghabiskannya untuk menyelesaikan satu perkara, lebih baik kita menggunakan energi itu untuk menyelesaikan persoalan lain.

Kisah menarik lain dalam Isra Mikraj terjadi ketika Nabi menerima perintah salat. Dikisahkan awalnya Nabi menerima perintah salat 50 waktu. Karena salat 50 waktu dirasakan akan memberatkan umat, sang Nabi bernegosiasi dengan sang Pemberi Perintah hingga perintah salat tinggal lima waktu seperti sekarang ini.

Terlepas kisah itu fiksi menurut seorang filsuf lokal, umat meyakininya dan, yang terpenting, bisa mengambil pelajaran darinya. Pelajarannya ialah, sekali lagi, seberat apa pun persoalan, ia bisa diselesaikan dengan negosiasi, dialog, musyawarah.

Bangsa ini di awal reformasi mengalami begitu banyak konflik sosial dan primordial. Seringkali penyebab awalnya cuma perkara sepele. Lantaran enggan menggunakan jalan dialog, negosiasi, atau musyawarah, tetapi dengan amarah, cekcok kecil jadi konflik besar. Amuk seperti melekat begitu dalam di kultur bangsa yang katanya ramah-tamah ini.

Sejak Pemilu Presiden 2014, berlanjut di Pilkada
DKI dan kini menjelang Pemilu 2019, amarah, tuduhan, ancaman, dan persekusi menyesaki ruang publik. Itu semua menciptakan polarisasi sosial-politik berkepanjangan.

Sudah saatnya kita kembali ke jati diri sebagai bangsa yang ramah dan terbuka pada perbedaan. Sudah waktunya bangsa ini kembali ke kebersamaan dan permusyawaratan, bukan dengan kemurkaan dan egosentrisme, ketika menyelesaikan berbagai persoalan.

Itu semua bisa kita capai antara lain bila kita sebagai bangsa mau memetik pelajaran berharga dari kisah Isra Mikraj sang Nabi yang kita peringati hari ini. Selamat memperingati Isra Mikraj. Selamat memetik hikmah darinya.