Menko Polhukam Luhut Binsar Panjaitan (kanan).ANT/Wahyu Putro A
Menko Polhukam Luhut Binsar Panjaitan (kanan).ANT/Wahyu Putro A

Luhut Minta Jangan Ada Buruk Sangka Soal Heli Italia

Nasional helikopter
Lukman Diah Sari • 30 November 2015 20:34
medcom.id, Jakarta: Pembelian helikopter produksi patungan Inggris dan Italia, AgustaWestland (AW) 101, belum diputuskan. Jadi, semua pihak dianjurkan tak cepat berburuk sangka.
 
"Kita belum sampai pada keputusan akhir," kata Menteri Koordinator Politik, Hukum, dan Keamanan Luhut Binsar Pandjaitan di lingkungan Kemenko Polhukam, Jalan Medan Merdeka Barat, Jakarta Pusat, Senin (30/11/2015).
 
Luhut meminta, berbagai pihak menahan diri. Rencana pengadaan capung besi itu masih dirapatkan. Keputusan final baru keluar setelah Presiden Joko Widodo pulang dari Paris, Prancis.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Luhut Minta Jangan Ada Buruk Sangka Soal Heli Italia
AgustaWestland (AW) 101.AirplanePictures
 
Menurut Luhut, karena belum final otomatis pengadaan itu bisa tak terealisasi. "Jadi jangan terus berburuk sangka juga," Luhut kembali mengingatkan.
 
Wakil Presiden Jusuf Kalla mewanti-wanti agar pemerintah bijaksana. Pemerintah harus hati-hati dan tak boleh berlebihan memanfaatkan uang rakyat. JK meminta, rencana pembelian AW101 dievaluasi.
 
"Uang rakyat loh yah. Hati-hati pakai uang rakyat," kata JK.
 
Luhut Minta Jangan Ada Buruk Sangka Soal Heli Italia
Super Puma Mark II NAS 332 produksi PT Dirgantara.ANT
 
Sebelumnya, Kepala Staf TNI Angkatan Udara Marsekal TNI Agus Supriatna mengatakan, TNI AU berencana membeli tiga helikopter untuk penumpang VVIP. Pembelian sesuai rencana strategis TNI AU periode 2015-2019.
 
Heli incaran, ya itu tadi, jenis AW101 yang dibandrol US$55 juta atau setara Rp756 miliar per unit. Bahkan, bila dana mencukupi, heli bakal dilengkapi tameng antipeluru, antijamming, antirudal, dan lainnya.
 
Persoalannya, PT Dirgantara Indonesia sejak 15 tahun silam, juga sudah mampu membuat heli yang tak kalah hebat dari AW101. Super Puma Mark II NAS 332 atawa EC225, namanya. Harganya pun lebih miring: US$35 juta per unit.
 
PT Dirgantara mengklaim EC225 lebih laris dan dipercaya ketimbang AW101. Sebagai bukti, saat ini EC225 dipakai oleh 75 negara dan menjadi tunggangan 53 pimpinan negara di dunia. Sementara AW101 baru digunakan oleh 12 operator.
 

(ICH)

FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif