Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Siti Nurbaya. Dok. KLHK
Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Siti Nurbaya. Dok. KLHK

Menteri LHK Siti Nurbaya Luruskan Deforestasi dan Hutan Primer

Nasional kehutanan
Ferdian Ananda • 05 Juni 2020 05:57
Jakarta: Deforestasi di Indonesia menurun tajam di era pemerintahan Presiden Joko Widodo, dan itu jelas dalam hitungan areal dari citra satelit. Hasil itu sejalan dengan upaya-upaya yang cukup gigih dan keras dilakukan pemerintah dan masyarakat termasuk dorongan aktivis di tingkat lapangan, penegakan hukum, dan pengendalian regulasi seperti moratorium.
 
"Tidak tepat apabila hasil kerja keras itu kemudian direka-reka dengan membangun justifikasi atas alasan metode, yang menghasilkan data yang menjadikan rancu. Kerancuan ini tidak saja memanipulasi data, tetapi lebih fatal dan menjadi buruk kepada perkembangan dunia akademik bidang studi kehutanan," kata Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) Siti Nurbaya, Jumat, 4 Juni 2020.
 
Siti telah memerintahkan Kepala Biro Humas KLHK Djati Witjaksono Hadi dan Direktur Inventarisasi dan Pemantauan Sumber Daya Hutan Belinda Arunarwati Margono yang secara teknis untuk menjelaskan bagaimana metode, definisi, dan batasan dijelaskan ke ruang publik supaya masyarakat mendapatkan informasi yang adil.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Dalam pengelolaan hutan di Indonesia, hutan primer dan hutan sekunder bagian dari hutan alam. Direktur Inventarisasi dan Pemantauan Sumber Daya Hutan (IPSDH) Ditjen Planologi Kehutanan dan Tata Lingkungan (PKTL) Belinda Arunarwati Margono menjelaskan hal tersebut mengacu pada beberapa aturan yang ada, termasuk Perdirjen Planologi Kehutanan dan Tata Lingkungan No.P.1/VII-IPSDH/2015, Dokumen FREL 2016, SNI 8033, 2014, dan SNI 7645-1, 2014.
 
“Hutan primer didefinisikan sebagai seluruh kenampakan hutan yang belum menampakkan bekas tebangan/gangguan. Sedangkan seluruh kenampakan hutan yang telah menampakkan bekas tebangan/gangguan disebut hutan sekunder. Secara sederhana, hutan alam merupakan gabungan antara hutan primer dan hutan sekunder, sedangkan Hutan sendiri mencakup hutan primer, hutan sekunder, dan hutan tanaman,” jelas Belinda.
 
Menurut Belinda, menyamakan terminologi primary forest yang dipakai Global Forest Watch (GFW) yang merupakan hutan dengan kerapatan tutupan pohon minimum 30%, dengan hutan primer sesuai definisi Indonesia, adalah kurang tepat.
 
Karena apabila memperhatikan batasan yang dipakai tersebut, maka yang dinamai primary forest sesungguhnya adalah hutan alam (mature natural forest), dan tidak sama dengan definisi hutan primer yang digunakan Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK). Perbedaan terminologi ini harus diluruskan karena pengertiannya yang beda dapat menimbulkan interpretasi yang berbeda.
 
“Perlu kami luruskan bahwa istilah primary forest dimaksud GFW tidak seharusnya diterjemahkan langsung (translate) sebagai hutan primer, karena pengertiannya tidak sama dengan pengertian hutan primer yang berlaku umum dan standar di Indonesia,” tuturnya.
 
Dari pertama dirilis, data GFW menggunakan informasi canopy tree secara series untuk melakukan estimasi perubahan tree cover. Dalam hal ini, kata Belinda, tree cover akan mencakup apapun vegetasi yang memiliki tinggi lebih dari 5 meter pada tahun pengamatan (sumber data, misalnya untuk GFW menggunakan tahun awal pengamatan tahun 2000).
 
Tree cover ini akan mencakup hutan alam, hutan tanaman, jungle rubber, belukar tua maupun agroforestry dengan tanaman keras, ataupun kebun/perkebunan. Dengan situasi tersebut, ketika muncul informasi atau data tree cover loss, maka perubahan (loss) yang terdeteksi, terjadi pada semua vegetasi yang mempunyai tinggi lebih dari 5 meter tersebut.
 
Situasi tersebut tidak sesuai dengan Indonesia, di mana yang dimaksud dengan deforestasi, khususnya gross deforestastion, hanya fokus pada perubahan tutupan hutan yang terjadi pada hutan alam.
 
"Untuk inilah, maka Indonesia tidak bisa menerima informasi tree cover loss sebagai angka deforestasi," kata Belinda.
 
(AZF)



LEAVE A COMMENT
LOADING
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif