Ilustrasi. Medcom.id
Ilustrasi. Medcom.id

Pemerintah Dinilai Harus Tegas Cegah Ideologi Anti Pancasila

Nasional terorisme pancasila radikalisme Negara Islam Indonesia
Media Indonesia.com • 23 April 2022 05:46
Jakarta: Pendiri Negara Islam Indonesia (NII) Crisis Center Ken Setiawan mengatakan fenomena NII telah menimbulkan kegaduhan publik. Hal ini dinilai akibat lemahnya regulasi yang melarang ideologi dan gerakan anti Pancasila.
 
"Butuh ketegasan dari pemerintah supaya virus ini tidak menjalar sehingga harus dipotong dan dipangkas. Siapa yang mengatakan bahwa akan mengganti Pancasila dengan ideologi lain itu harus bisa dipidanakan," kata Ken dilansir dari Media Indonesia, Sabtu, 23 April 2022.
 
Menurut dia, harus ada undang-undang yang jelas tentang pencegahan ideologi anti Pancasila. Tanpa regulasi yang tegas, gerakan NII dikhawatirkan menjadi ancaman besar bagi negara ke depannya. Sebab, kelompok ini terus bergerak dan ber-taqiyyah menyusun rencana untuk menimbulkan kekacauan di tengah masyarakat sebagai strategi menjaring simpati dan dukungan.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Kami mendorong pemerintah untuk membuat regulasi yang betul-betul melindungi Pancasila dari serangan ideologi apa pun. Kalau tidak, bisa bahaya buat negara kita ini sendiri. Pemerintah harus tegas untuk membuat undang-undang tersebut," ungkap dia.
 
Ken memaparkan bagaimana gerakan NII yang selama ini dianggap berbagai pihak telah tiada. Kenyataannya, hari ini NII masih muncul dan eksis, serta tumbuh subur di tengah kehidupan masyarakat, bahkan dengan membawa agenda kudeta pemerintah sebelum 2024. 
 
"Gerakan NII ini tidak akan pernah berhenti dan tidak akan pernah surut. Permasalahannya adalah ketika masyarakat tidak menganggap NII ini bahaya, bahkan sebagian masyarakat lagi menganggap NII ini sudah tidak ada," tutur dia.
 
Baca: Teroris NII Ingin Lengserkan Pemerintah dengan Membuat Kerusuhan Bak 98
 
Ken menilai ideologi NII mudah untuk disebarkan karena kelengahan masyarakat. Terlebihm NII diuntungkan dengan keahlian kelompoknya dalam menyembunyikan jati diri, serta mampu membaur di masyarakat.
 
"NII ini 'kan dia pintar, dia cenderung untuk menyembunyikan jati diri, pintar membaur dengan masyarakat lewat gerakan-gerakan sosial juga. Kelihatannya bagus membantu masyarakat. Akan tetapi, ini adalah virus yang butuh vaksin," ucap Ken. 
 
Ken menyebut NII awalnya sebagai gerakan lokal. Namun, kini sudah mulai menunjukkan afiliasinya dengan gerakan transnasional yang sama-sama ingin menggoyahkan Tanah Air dan mengganti ideologi Pancasila dengan sistem agama yang mereka yakini. 
 
"Karena NII yang tadinya gerakan di bawah tanah, muncul dengan nama baru, mendekati konsep-konsep hijrah bahkan khilafah. Kolaborasi antara NII dan Ikhwanul Muslimin contohnya, ini menjadi ancaman," terang Ken. 
 
Ken juga berharap adanya penguatan daya tangkal masyarakat dari ideologi maupun propaganda kelompok radikal, baik oleh pemerintah maupun tokoh agama, masyarakat, dan pemangku kepentingan lainnya. Ia memandang perlu lebih kencang lagi untuk menjelaskan bagaimana konsep harmoni dan kebinekaan seperti yang didengungkan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT). 
 
"Perlu sekali sosialisasi sampai ke bawah agar masyarakat mendapatkan informasi-informasi tentang propaganda kelompok radikalisme yang mengatasnamakan agama," papar dia.
 
Sebagai mantan anggota NII, Ken berpesan agar masyarakat peka dan mewaspadai gerakan radikalisme. Kemudian, senantiasa membiasakan diri untuk tidak menerima berita hoaks yang beredar di dunia maya. 
 
"Kita harus berani antiradikalisme, maka jangan kasih ruang, jangan kasih kesempatan dan jangan kasih panggung untuk mereka yang membuat propaganda untuk benci pada Pemerintah, serta jangan sampai kita menjadi korban hoaks atau menjadi pelaku," ucap dia.
 
(AGA)



LEAVE A COMMENT
LOADING
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif