Reuni 212 Dinilai Ditunggangi Kepentingan Kampanye Prabowo-Sandi
Suasana reuni akbar alumni 212 di Monas, Jakarta. Foto: Cindy/Medcom.id
Jakarta: Gerakan reuni akbar alumni 212 dinilai kental dengan suasana politis. Aksi itu dinilai telah ditunggangi untuk kepentingan kampanye pasangan calon presiden dan calon wakil presiden, Prabowo Subianto-Sandiaga Uno.

"Ya, nuansa politis pasti ada, bodoh saja kalau dibilang tidak ada gerakan politiknya," ujar Direktur Lembaga Survei Politik Indonesia Budiyana dalam keterangannya, Minggu, 2 Desember 2018.

Budiyana mengatakan bobot gerakan itu berbeda jauh dengan 212 sebelumnya. Namun, dia melihat kubu Prabowo-Sandi ingin menunjukkan berhasil mengumpulkan jutaa massa. "Inti pesannya adalah massa reuni itu banyak," ucap dia.


Menurut dia, wajar bila gerakan reuni 212 ini membuat kubu Prabowo-Sandi semakin optimis dalam menghadapi Pilpres 2019. Tapi, dia menilai jumlah massa yang hadir tak seberapa jika dibandingkan jumlah seluruh penduduk di Indonesia.

Jumlah massa yang hadir dalam gerakan reuni 212 itu pun dinilai hanya sebagian kecil dari pemilih Prabowo di Pilpres 2014. Saat itu, Prabowo yang berpasangan dengan Hatta Rajasa memperoleh 62.578.528 suara atau sekitar 46,81 persen.

"Kalaupun semua pemilih Prabowo di Pilpres 2014 hadir reuni, tetap saja kalah oleh pemilih Jokowi. Itu karena Jokowi memperoleh 71.107.184 suara atau sekitar 53,19 persen) dan unggul di 23 provinsi dengan selisih 8.528.656," ujar dia.

Baca: Prabowo Mengaku Bangga Jadi Muslim Indonesia

Budiyana mengakui massa yang hadir dalam reuni 212 sudah dapat dipastikan tak akan memilih Jokowi dalam Pilpres 2019. Namun, Prabowo dinilai masih harus berjuang keras untuk mengalahkan Jokowi. Setidaknya, Prabowo membutuhkan sekitar 10 juta suara tambahan agar tak kembali kalah di pilpres.

"Dalam politik kadang diperlukan masa bersenang ria dan berhibur. Saya kira reuni 212 dari sisi ini jelas hiburan yang membahagiakan bagi pendukung Prabowo. Yang hebat adalah jika reuni itu membuat pendukung Jokowi pindah ingin ikut," tandas dia.

Reuni 212 sendiri berlangsung meriah dan damai serta dihadiri oleh capres Prabowo dan pendukungnya. Kubu Jokowi sendiri menilai kegiatan itu sebagai hal biasa saja dan tidak oerlu dirisaukan. 

Koordinator Relawan Bersatu Menangkan Jokowi-Ma'ruf, Nisail Kamilah pun tak cemas dengan gerakan reuni 212. Yang terpenting, kata dia, timnya akan terus mengajak rakyat untuk menjaga yang sudah dibangun dan meneruskan pembangunan. 

"Kita kampanyekan bagaimana agar Pak Jokowi meneruskan kepemimpinan lagi di periode berikutnya. Ini agar rencana-rencana yang sedang dan akan berjalan bisa direalisasikan. Soal reuni 212, kami sama sekali tidak terganggu. Kami hormati sikap politik siapapun di negara ini. Beda sikap itu biasa, kita tetap satu bangsa," pungkas Nisail.

Baca: Fahri Ingin Reuni 212 Dijadikan Momentum Nasional

Wakil Ketua Umum Partai Gerindra Fadli Zon sebelumnya mengatakan tak ada salahnya jika gerakan reuni 212 bermuatan politik. Hak setiap orang jika memang ingin mengganti presiden.

"Sekarang apa sih yang tidak ada politiknya? Jadi jangan naif lah. Yang penting kita tahu kriteria kampanye itu ajakan dan sebagainya, tapi kalau orang punya aspirasi mau ganti presiden apa salahnya?" kata Fadli di kawasan Monumen Nasional (Monas), Jakarta Pusat.

Dalam aksi itu sempat menggema lagu 'Ganti Presiden'. Lagu itu melantun setelah ceramah Imam Besar Front Pembela Islam (FPI) Rizieq Shihab diputar. 

Lirik lagu diawali dengan ajakan untuk mengganti presiden yang tak cerdas. Lagu ini pun diikuti oleh sejumlah peserta Reuni 212.

Fadli menilai lagu tersebut bukan sebuah pelanggaran. Menurut dia, hal itu tidak melanggar aturan atau undang-undang yang berlaku.



(AZF)

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id