4 Tahun Pemerintahan Jokowi-JK

Pemerintah tak Mudah Percaya Hasil Survei

Dheri Agriesta 19 Oktober 2018 07:00 WIB
4 Tahun Pemerintahan Jokowi-JK
Pemerintah tak Mudah Percaya Hasil Survei
Wakil Presiden RI Jusuf Kalla. Foto: MI/Adam Dwi.
Jakarta: Pemerintah bersyukur tingkat kepuasan publik terhadap pemerintahan Presiden Joko Widodo-Jusuf Kalla mencapai 60 hingga 70 persen. Namun Wakil Presiden Jusuf Kalla tidak mau terlena, karena hasil survei tidak 100 persen benar.
 
Kalla menyebut lembaga survei mewawancarai sekitar 1.000 orang sebagai sampel. Jumlah sampel itu dinilai tak bisa mewakili 260 juta penduduk Indonesia.
 
"Itu (hasil survei) ada benarnya, tetapi juga ada erornya," kata Kalla saat wawancara khusus dengan Medcom.id dan Media Indonesia di Kantor Wakil Presiden, Jakarta, Senin, 15 Oktober 2018.
 
Kalla juga tidak mau menjadikan hasil survei sebagai patokan elektabilitas pasangan Jokowi-Ma`ruf di Pilpres 2019. Kalla juga belum bisa menjadikan hasil survei itu sebagai acuan untuk memberi masukan buat Tim Kampanye Nasional Koalisi Indonesia Kerja (TKN-KIK).
 
Ia mencontohkan pemilu Amerika Serikat yang terlalu percaya dengan hasil survei. Saat itu, berbagai lembaga survei di Amerika Serikat menjagokan Hillary Clinton sebagai kandidat terkuat pemenang pilpres. Tapi, Donald Trump dengan slogan 'Make America Great Again' justru keluar sebagai pemenang.
 
"Saya tidak bisa jawab (memberi masukan) secara pasti survei-survei seperti itu karena lebih banyak kesalahannya, kita lihat nanti perkembangannya," kata Ketua Dewan Pengarah Tim Kampanye Nasional Koalisi Indonesia Kerja (TKN-KIK) itu.

Baca: Survei Indikator: Kepuasan Masyarakat pada Jokowi-JK 68%

Seperti diketahui, Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) menyebut tingkat kepuasan masyarakat terhadap kinerja pemerintahan Presiden Jokowi mencapai 73,4 persen. Namun, elektabilitas calon petahana itu baru 60,2 persen.
 
Sementara, lembaga survei Indikator Politik Indonesia menyebut tren elektabilitas Jokowi-Ma'ruf dari Februari hingga September 2018 mengalami penurunan. Pada Februari, Indikator Indonesia menyebut elektabilitas Jokowi mencapai 61,8 persen. Angka itu turun menjadi 57,7 persen pada September.






(FZN)

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id