medcom.id, Bogor: Tragedi pembantaian ratusan orang di Paris, Prancis, pada Jumat malam, 13 November, membuat Menteri Pertahanan Ryamizard Ryacudu ingin segera mencetak kader bela negara.
"Tragedi Paris merupakan refleksi bahwa keberadaan ancaman sangat nyata di depan kita dan selalu menghantui," kata Ryamizard saat menjadi pembicara kunci di seminar bertajuk Bela Negara Suatu Keniscayaan untuk Bangsa dan Negara, di kampus Universitas Pertahanan Indonesia, komplek Pusat Misi Pemeliharaan Perdamaian, Bukit Hambalang, Sentul, Bogor, Jawa Barat, Senin (16/11/2015).
Menurutnya, salah satu cara efektif dalam memerangi perang asimetris seperti yang terjadi di Prancis, adalah dengan cara menerapkan sistem pertahanan rakyat semesta yang berbasis kekuatan rakyat. "Ini adalah kekuatan yang maha dahsyat," katanya.
Sebagai negara yang bukan agresor atau yang tak menyerang negara lain, Indonesia ia nilai harus memiliki pertahanan yang berbasis rakyat banyak. Apalagi Indonesia berada di kawasan yang strategis. Negara-negara lain banyak yang mengintai kekayaan Indonesia.
"Banyak yang ingin adu domba kita dengan sejumlah konflik SARA, atau keinginan segelintir orang yang ingin memisahkan provinsi dari Indonesia. Ini harus kita perangi," kata mantan kepala staf TNI Angkatan Darat ini.
Oleh karena itu, dia ingin masyarakat tak mudah dipengaruhi atau diprovokasi. Tujuan bela negara, katanya, adalah untuk membentuk wawasan kebangsaan yang kuat bagi masyarakat dan agar tak mudah tercerai-berai. "Ancaman yang paling nyata saat ini bukan perang terbuka, tapi perang asimetris," katanya.
Perang asimetris yang dimaksud adalah pemberontakan bersenjata, ancaman teror, serangan cyber, hingga serangan intelijen. "Itu ancaman nyata yang kita hadapi sekarang," ujarnya.
Rektor Universitas Pertahanan Letjen I Wayan Midhio mengatakan program bela negara jangan disalahartikan menjadi program wajib militer. "Bela negara adalah cara membangkitkan semangat cinta tanah air. Semangat untuk merevolusi mental," kata dia.
Apalagi jika dihadapkan pada sejumlah persoalan seperti penyalahgunaan narkoba, terorisme, hingga anarkisme yang banyak ditemuai di Indonesia. "Semua itu mengancam eksistensi bangsa ini. Mengancam keselamatan bangsa," kata dia.
medcom.id, Bogor: Tragedi pembantaian ratusan orang di Paris, Prancis, pada Jumat malam, 13 November, membuat Menteri Pertahanan Ryamizard Ryacudu ingin segera mencetak kader bela negara.
"Tragedi Paris merupakan refleksi bahwa keberadaan ancaman sangat nyata di depan kita dan selalu menghantui," kata Ryamizard saat menjadi pembicara kunci di seminar bertajuk Bela Negara Suatu Keniscayaan untuk Bangsa dan Negara, di kampus Universitas Pertahanan Indonesia, komplek Pusat Misi Pemeliharaan Perdamaian, Bukit Hambalang, Sentul, Bogor, Jawa Barat, Senin (16/11/2015).
Menurutnya, salah satu cara efektif dalam memerangi perang asimetris seperti yang terjadi di Prancis, adalah dengan cara menerapkan sistem pertahanan rakyat semesta yang berbasis kekuatan rakyat. "Ini adalah kekuatan yang maha dahsyat," katanya.
Sebagai negara yang bukan agresor atau yang tak menyerang negara lain, Indonesia ia nilai harus memiliki pertahanan yang berbasis rakyat banyak. Apalagi Indonesia berada di kawasan yang strategis. Negara-negara lain banyak yang mengintai kekayaan Indonesia.
"Banyak yang ingin adu domba kita dengan sejumlah konflik SARA, atau keinginan segelintir orang yang ingin memisahkan provinsi dari Indonesia. Ini harus kita perangi," kata mantan kepala staf TNI Angkatan Darat ini.
Oleh karena itu, dia ingin masyarakat tak mudah dipengaruhi atau diprovokasi. Tujuan bela negara, katanya, adalah untuk membentuk wawasan kebangsaan yang kuat bagi masyarakat dan agar tak mudah tercerai-berai. "Ancaman yang paling nyata saat ini bukan perang terbuka, tapi perang asimetris," katanya.
Perang asimetris yang dimaksud adalah pemberontakan bersenjata, ancaman teror, serangan
cyber, hingga serangan intelijen. "Itu ancaman nyata yang kita hadapi sekarang," ujarnya.
Rektor Universitas Pertahanan Letjen I Wayan Midhio mengatakan program bela negara jangan disalahartikan menjadi program wajib militer. "Bela negara adalah cara membangkitkan semangat cinta tanah air. Semangat untuk merevolusi mental," kata dia.
Apalagi jika dihadapkan pada sejumlah persoalan seperti penyalahgunaan narkoba, terorisme, hingga anarkisme yang banyak ditemuai di Indonesia. "Semua itu mengancam eksistensi bangsa ini. Mengancam keselamatan bangsa," kata dia.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(UWA)