Ilustrasi pembegalan. Medcom.id
Ilustrasi pembegalan. Medcom.id

Polemik Amaq Sinta Harus Jadi Pembelajaran Bagi Penegak Hukum

Nasional DPD pembegalan begal Penegakan Hukum
Anggi Tondi Martaon • 17 April 2022 13:05
Jakarta: Penegak hukum diminta mengambil pelajaran dari polemik kasus Amaq Sinta, 34, korban begal yang ditetapkan sebagai tersangka di Nusa Tenggara Barat (NTB). Polisi diminta bijak dalam menetapkan tersangka.
 
"Polisi tidak boleh gegabah dalam mengambil langkah. Harus mampu melihat berbagai perspektif hukum," kata Ketua DPD AA La Nyalla Mahmud Mattalitti, melalui keterangan tertulis, Minggu, 17 April 2022.
 
Menurut dia, tindakan Amaq sebagai pembelaan diri. Hal itu sudah diatur dalam Pasal 49 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP).

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Bahkan dalam KUHP ada pasal kedaruratan yang dapat digunakan untuk menangani kasus semacam ini," ungkap dia.
 
La Nyalla menyampaikan penetapan tersangka Amaq sangat aneh. Penetapan tersangka kepada korban yang berhasil lolos dan melawan tindak kejahatan menjadi preseden buruk bagi penegakan hukum di tengah masyarakat.
 
"Saya kira masyarakat jadi membuat asumsi dan tuduhan sendiri. Seolah-olah polisi berpihak pada kejahatan bukan melindungi masyarakat. Tentu kondisi ini tidak baik bagi hukum kita," sebut dia.
 
Baca: Kasus Korban Begal Jadi Tersangka Disetop
 
Keputusan kepolisian yang salah memberikan hukuman akan menjadikan kelompok pelaku kejahatan besar kepala. Bahkan, bisa menjadi semakin beringas dan berani, sehingga aksi kejahatan akan semakin tinggi.
 
"Di sisi lain para korban menjadi takut melawan karena akan berhadapan dengan hukum," ujar dia.
 
Dia meminta masyarakat memiliki kekuatan dan keberanian untuk melindungi dan mempertahankan diri. Terutama dari serangan pelaku kejahatan.
 
(AZF)



LEAVE A COMMENT
LOADING
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif