ILUSTRASI: Simpatisan HTI membawa bendera di Banda Aceh, Aceh, Jumat (15/4)/ANTARA FOTO/Irwansyah Putra
ILUSTRASI: Simpatisan HTI membawa bendera di Banda Aceh, Aceh, Jumat (15/4)/ANTARA FOTO/Irwansyah Putra

Kisruh Bakar Bendera Diharapkan tak Berulang

Nasional pembubaran hti
M Sholahadhin Azhar • 24 Oktober 2018 19:25
Jakarta: Juru Bicara Tim Kampanye Nasional Kabinet Indonesia Kerja (TKN-KIK) Arya Sinulingga merespons pembakaran bendera yang diduga mirip bendera Hizbut Tahrir Indonesia (HTI). Pihaknya berharap peristiwa kontroversial itu menjadi yang terakhir.
 
"Jangan sampai terulang lagi hal-hal semacam ini," ujar Arya melalui pesan tertulis, Rabu, 24 Oktober 2018.
 
Dia bilang TKN KIK menyerahkan persoalan tersebut ke pihak kepolisian yang dianggap akan memandang masalah itu secara proporsional. Termasuk mengidentifikasi bendera, apakah bendera tauhid identik dengan milik HTI atau lainnya.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Masyarakat, kata dia, diharapkan agar tidak terpancing emosi dan menahan diri. Dengan bersikap dewasa, Arya yakin persoalan seperti ini bisa selesai secara baik.
 
"Sekaligus menjadi pembelajaran untuk ke depannya," kata dia.
 
Terpisah, Ketua Lakpesdam PBNU Rumadi Ahmad mengkritik oknum anggota Banser. Menurut dia, mereka ceroboh dan tidak menghitung risiko yang muncul atas tindakan tersebut.
 
"Tapi jangan terlarut dengan provokasi dan narasi Banser membakar kalimah tauhid. Bendera HTI dan kalimat tauhid itu dua hal yang berbeda," kata Rumadi.
 
Ia mengakui memang dibutuhkan kecerdasan dan kedewasaan dalam membedakan antara keduanya. Lebih lanjut, Rumadi juga mempertanyakan urgensi bendera HTI saat peringatan hari santri.
 
Menurut dia, polisi harus bisa meneliti lebih lanjut motif dari hadirnya bendera itu. Apalagi momentum saat ini mendekati pemilihan presiden 2019.
 
Ia menambahkan jangan sampai kontroversi tersebut ditarik pada kontestasi pilpres. Apalagi muncul persepsi publik yang menyudutkan pasangan tertentu.
 
"HTI sekarang di atas angin. Mereka akan mengelola emosi dan akan terus menggerakkan emosi massa karena sudah ada yang terbakar," kata Rumadi.
 

(SCI)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi