medcom.id, Jakarta: Tak lama setelah Sidang Paripurna mengesahkan RUU Pilkada, di media sosial muncul tanda pagar #ShameOnYouSBY. Para netizen melancarkan kritik pedas, bahkan mem-bully Ketua Umum Partai Susilo Bambang Yudhoyono, karena aksi walk out Fraksi Demokrat membuat pilkada lewat DPRD gol.
Partai Demokrat tak mau terpuruk. Juru Bicara Partai Demokrat Ruhut Sitompul menegaskan, Demokrat harus bangkit meski itu tak mudah.
Ruhut menuding, biang kerok aksi walk out adalah Ketua Fraksi Partai Demokrat Nurhayati Ali Assegaf dan Wakil Ketua Umum Partai Demokrat Max Sopacua. Dua elite Demokrat itu dinilai sebagai dalang di balik walk out-nya Fraksi Demokrat. Keduanya harus menerika konsekuensi.
"Kita enggak seperti (partai) lain pecat memecat. Nurhayati dan Max lebih baik mengundurkan diri dari kepengurusan," tegas anggota Komisi III DPR itu di Komplek Parlemen, Senayan, Jakarta, Senin (29/9/2014).
Ruhut menjelaskan, sebenarnya ia tidak setuju keputusan walk out. Ia sudah menjelaskan hal itu kepada partai.
"Untuk laporan hari kemarin, menjelaskan, aku jelasin, tidak usah walk out, kita gentleman. Saya sebenarnya enggak setuju walk out, saya lagi berhubungan dengan SBY, aku berkomunikasi terus," terang Ruhut.
Ruhut mengtakan, enam rekannya yang memutuskan tak ikut walk out seharusnya tak diberi sanksi. "Yang enam bukan mereka bandel, karena semua kaget. Jangan diberi sanksi. Adik kita enggak tahu, duduk saja. Apalagi Pak Mulyono (Ignatius Mulyono)," jelas Ruhut.
medcom.id, Jakarta: Tak lama setelah Sidang Paripurna mengesahkan RUU Pilkada, di media sosial muncul tanda pagar #ShameOnYouSBY. Para netizen melancarkan kritik pedas, bahkan mem-
bully Ketua Umum Partai Susilo Bambang Yudhoyono, karena aksi
walk out Fraksi Demokrat membuat pilkada lewat DPRD gol.
Partai Demokrat tak mau terpuruk. Juru Bicara Partai Demokrat Ruhut Sitompul menegaskan, Demokrat harus bangkit meski itu tak mudah.
Ruhut menuding, biang kerok aksi
walk out adalah Ketua Fraksi Partai Demokrat Nurhayati Ali Assegaf dan Wakil Ketua Umum Partai Demokrat Max Sopacua. Dua elite Demokrat itu dinilai sebagai dalang di balik
walk out-nya Fraksi Demokrat. Keduanya harus menerika konsekuensi.
"Kita enggak seperti (partai) lain pecat memecat. Nurhayati dan Max lebih baik mengundurkan diri dari kepengurusan," tegas anggota Komisi III DPR itu di Komplek Parlemen, Senayan, Jakarta, Senin (29/9/2014).
Ruhut menjelaskan, sebenarnya ia tidak setuju keputusan
walk out. Ia sudah menjelaskan hal itu kepada partai.
"Untuk laporan hari kemarin, menjelaskan, aku jelasin, tidak usah
walk out, kita
gentleman. Saya sebenarnya enggak setuju
walk out, saya lagi berhubungan dengan SBY, aku berkomunikasi terus," terang Ruhut.
Ruhut mengtakan, enam rekannya yang memutuskan tak ikut
walk out seharusnya tak diberi sanksi. "Yang enam bukan mereka bandel, karena semua kaget. Jangan diberi sanksi. Adik kita enggak tahu, duduk saja. Apalagi Pak Mulyono (Ignatius Mulyono)," jelas Ruhut.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(DOR)